Chaplin, Band Yang Ditakuti Artis

Chaplin, Band Yang Ditakuti Artis

Berdirinya Chaplin Band tidak lepas dari dorongan Simon Marantika, salah satu personil Wong Pitoe yang mengajak Denni Pratomoaji pendiri Wong Pitoe yang didirikan tahun 2001. Sebelum mengundurkan diri dari Wong Pitoe pada tahun 2008, Denni sempat memutuskan untuk bekerja bukan di dunia musik. Tapi sebelum ia melakoni pekerjaan itu, Simon sahabatnya mengingatkan kembali akan talentanya di musik. Ia meyakinkan Denni bahwa perbedaan visi bukan akhir dari setiap jalan. Perlahan Denni bangkit sambil berpikir mencari konsep baru yang lebih segar dan bisa “melepaskan” dirinya dari “kelekatannya” dengan nama band yang sebelumnya ia dirikan.

……..dalam antrian macet di sebuah ruas jalan Jakarta, tanpa sengaja pandangan Denni tertuju pada tulisan di sebuah mobil tepat di depannya, “Alfa Romeo”. Iseng-iseng Denni mengurutkan alphabet dari Alfa, Bravo, Charlie. Berhenti di Charlie, Denni teringat nama Chaplin. Sampai di rumah Denni membuka internet mencari tahu siapa Charlie Chaplin. Sosok seorang bintang yang juga komponis lagu “Smile” yang dinyanyikan Nat King Cole yang pernah ia kenal ketika masih duduk di bangku SD itu langsung menarik perhatiannya. Segala informasi tentang Charlie Chaplin terus ia gali. Semua film Charlie Chaplin ia tonton. Sampai akhirnya Denni bulat untuk menggunakan nama Chaplin sebagai nama grup barunya. Dua personil Wong Pitoe, Simon dan Sony mengajaknya untuk membuat band baru dengan konsep hiburan seperti konsep sebelumnya tapi dengan bentuk baru yang lebih segar.

Denni bangkit, ia gunakan semua tabungannya untuk membangun Chaplin. Ia kembali “jualan” dari café ke café sampai ke event-event perusahaan.

Nama Denni yang sudah cukup kuat melekat dengan Wong Pitoenya ternyata belum jadi jaminan ketika ia harus kembali menjual band dengan nama barunya. Tidak sedikit café yang menolak lamarannya. Sampai akhirnya kesempatan manggung ia datang dari seorang temannya yang memintanya main di “la forca”.

Perlahan tapi pasti, konsep yang diusung Chaplin mulai diterima. Permintaan manggung dari café ke café mulai berdatangan. Promosi dari mulut ke mulut jadi andalan. Tidak hanya café, perusahaan-perusahaan juga mulai rebutan. Sebut saja Garuda Indonesia, perusahaan Asuransi (AIA, Alianz, AXA), Industri perminyakan (Pertamina, Medco, Chevron), Top Brand, Perbankan (Mandiri, BNI, Lippo, BI, BII, BCA, Danamon), IT (Metrodata, Datascript, Telkomsel, Indosat, AXIS, XL), dan masih banyak lagi. Konsep yang diusung Chaplin memang selalu bisa menghidupkan suasana.

Kepiawaian bermusik personil Chaplin dipadu dengan karakter edan menjadi kekuatan mereka. Setiap personil serta merta menjadi bintang saat menunjukkan kebolehannya menghibur. Denni misalnya, vokalis dan pendiri serta motor penggerak utama band Chaplin, Dibalik kepiawaiannya membawakan lagu persis dengan vocal penyanyi aslinya baik lokal maupun interlokal mulutnya selalu gatal untuk memberi pujian pada setiap orang sampai orang tersebut begitu tersanjung dan tanpa sadar terhempas dengan celaan Denni dalam waktu bersamaan, bagi orang gokil macam Denni, mottonya adalah : “ orang sabar, pasti kesel.

Chaplin, Band Yang Ditakuti Artis

Simon Marantika, ketika orang melihat tatonya yang bererot orang pasti berpikir untuk bertingkah di hadapannya, tapi itulah Simon, sebelum anda bertingkah amati saja ketika ia di panggung. Suara falsetonya bikin orang pasti salah duga, apalagi ketika ia bicara jangan heran ada kontradiksi antara penampilannya yang sangar dengan gaya bicaranya yang kemayu, teman-temannya di Chaplin menyebutnya Beni alias Bencong Item.

Joseph Hadi Setiawan, adalah manusia antik lainnya di band ini. Ia multi talenta, Jose mahir men-scatting suara bisa sampai suara tinggi perempuan. Ia juga mahir memainkan drum, piano, terompet, perkusi dan harmonica, selain musik ia juga mahir berbahasa Cina, sayangnya ia tidak mahir menghindar dari celaan teman-temannya sendiri.

Soni Himawan, keyboardis yang serba bisa dengan aksi teater dan eksperimen suaranya membuat musik Chaplin lebih hidup. Orangnya cenderung merendah. Ia tidak bangga dengan apa yang ia punya, tapi ia mensyukuri semua yang ia miliki. Bagi Soni, hidup itu seperti suami istri, kadang dia atas kadang di bawah, begitu mottonya.

Satu-satunya manusia yang mungkin bisa dibilang punya tampang wajar mungkin hanya Heri Eko Purwanto. Sayang, posisinya sebagai drummer membuatnya rada budge akibat ulahnya sendiri menggebuk-gebuk drum dan simbal, begitu menurut teman-temannya.

Mecky Kalengkongan, personil pada posisi gitar ini punya hobby yang saling mendukung yaitu tidur dan merokok. Menurut temannya, lebih baik Mecky tidur daripada nyanyi karena suaranya yang nggak tegas antara nge-bass, cempreng atau fals. Begitu juga dengan hobbynya yang selalu ngebul alias perokok berat. Saking beratnya, Mecky cuma tidak ngebul saat tertidur pulas.

Chaplin, Band Yang Ditakuti Artis

Soukry Ikin Hulungo, dijuluki sebagai Kyai. Ia sangat bersemangat setiap kali membawakan aransemen musik jazz dengan mengeksploitasi irama yang keluar dari cabikan dan betotan jarinya pada senar-senar bass yang dimainkannya.

Ide kreatif dari setiap penampilan mereka jadi kekuatan yang mempertahankan keberadaan atau eksistensi mereka di dunia hiburan khususnya pada event-event perusahaan. Tema yang mereka usung seperti tidak ada habisnya itulah yang membuat mereka selalu menguasai penontonnya yang rata-rata adalah pimpinan utama sebuah perusahaan besar yang selalu jaim. Tapi kalau sudah Chaplin yang tampil, bos-bos itu sepertinya lupa dengan kebiasaan jaimnya Sampai-sampai Armand Maulana vokalis Gigi cuma bisa geleng-geleng kepala karena dalam setiap penampilan Chaplin selalu menjadikan suasana lebih hidup dibandingkan ketika artis terkenal tampil di panggung yang sama.

Jadi, kalo anda stress cari aja Chaplin!, kalo anda suka yang kocak, tonton Chaplin!, dan kalo anda butuh kreatifitas, Chaplin bisa jadi inspirasi. Bergaul dengan “orang gila” ternyata banyak juga asyiknya.

Temen nan yuk ..!

ypkris



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net - Rumah Sejarah dan Budaya


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta