Pameran Foto Nusa Bahari, Syukur Atas Kekayaan Laut

08 Sep 2015

Berkabar melalui foto, itulah barangkali yang dilakukan para jurnalis foto kelompok Pewarta Foto Indonesia (PFI), dalam pameran foto bertajuk Nusa Bahari, yang digelar sejak Selasa, 1 September hingga 9 September 2015 di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY).

Berkabar melalui foto, itulah barangkali yang dilakukan para jurnalis foto kelompok Pewarta Foto Indonesia (PFI), dalam pameran foto bertajuk Nusa Bahari, yang digelar sejak Selasa, 1 September hingga 9 September 2015 di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Pameran ini dikelola oleh PFI Cabang Yogyakarta yang diketuai oleh Oka Hamid. Pameran dilaksanakan sebagai bentuk kegiatan untuk mengawali acara-acara septemberan BBY yang pada bulan ini telah genap 33 tahun.

Pameran ini melibatkan Pewarta Foto se-Indonesia. Hal ini tentu bukan hal yang mudah mengingat anggota pewarta foto yang cukup banyak serta karya foto yang dikirim juga sangat banyak. Pekerjaan penyebaran informasi yang dilakukan oleh PFI Yogyakarta juga bukan merupakan hal yang mudah mengingat jejaring dan jangkuannya yang juga demikian luas.

Jangkauan yang luas dengan anggota yang cukup banyak tentu saja menghasilkan karya foto yang sangat beragam dengan karakter yang berbeda-beda. Jumlah foto yang terkumpul sebanyak 650 buah dari PFI se-Indonesia adalah jumlah yang sangat besar. Penyeleksian sekian karya untuk menjadi sejumlah 165 foto tentu bukan perkara mudah. Lebih-lebih karena semua foto yang dikirimkan tersebut memang karya yang bagus dan sebenarnya semuanya memang layak untuk dipamerkan. Namun demi keragaman karya foto, pengambilan sisi cerita yang menarik, serta terbatasnya luas ruang pameran, maka diambil karya foto terbaik dari yang terbaik tersebut hingga terkumpullah 165 karya foto.

Nusa Bahari sebagai tema dalam pameran karya foto ini membidik sisi unik dinamika kehidupan pesisir dengan masyarakatnya, budaya, flora, dan faunanya serta segala ihwalnya. Kapal, perahu, kekayaan biota laut, kehidupan nelayan dengan segala problematikanya menjadi objek bidik para jurnalis foto untuk disajikan dengan harapan kehidupan dunia maritim dan kelestarian bahari Indonesia semakin terjaga dan berkembang dengan baik. Tidak aneh juga jika pameran ini dibuka oleh seorang pelestari penyu yang bernama Rujito yang berasal darai kawasan Pantai Samas, Bantul.

Dalam keseharian kita mungkin tidak sadar bahwa laut mengandung sekian banyak misteri dan kehidupan. Syukurlah misteri dan kehidupan laut itu sebagian telah disuguhkan oleh Pewarta Foto Indonesia melalui hasil karya foto mereka. Sekalipun baru sebagian kecil kekayaan dan keluarbiasaan dunia laut yang dapat disajikan para Pewarta Foto Indonesia, namun bagaimana pun hal demikian mengundang kekaguman dan rasa syukur.

Bukan hanya itu, kekayaan bahari kita dimanfaatkan secara arif oleh banyak suku bangsa kita. Misalnya kekayaan Laut Sawu. Di sana hidup ikan paus dan secara tradisional diburu oleh nelayan dari Lamalera, Lembata. Namun cara berburu yang mereka lakukan layaknya sebuah ritual dan seni keterampilan yang tidak mudah ditiru.

Laut sendiri takkan pernah kehabisan kekayaannya. Laut bisa dikatakan seperti kekuasaan tanpa batas. Ia bisa memberi, ia bisa meminta. Di dalam laut seperti ada kekuasan ilahi yang tidak terselami. Sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada laut. Pameran foto Nusa Bahari adalah bagian rasa terima kasih itu.

Naskah dan foto: asartono

Anak-anak bermain di kawasan pantai yang tercemar, Cilincing, Jakarta Utara, Indonesia, (2/2/2012), karya Agung Kuncahya (Xinhua), foto atas foto: 01 September 2015, foto: a.sartono Penenggelaman Kapal Nelayan Ilegal. P. Raditya Mahendra Yasa, (Kompas), foto atas foto: 01 September 2015, foto: a.sartono Suasana pembukaan Pameran Foto Nusa Bahari di Bentara Budaya Yogyakarta Selasa malam, 1 September 2015, foto atas foto: 01 September 2015, foto: a.sartono Para anggota Pewarta Foto Indonesia berfoto bersama di Bentara Budaya Yogyakarta, difoto: 01 September 2015, foto: a.sartono Rujito, salah satu penangkar/pelestari penyu dari Bantul sedang memberikan sambutan, difoto: 01 September 2015, foto: a.sartono Ritual sedekah laut di Semarang, Jateng, 20 September 2014, Dhana Kencana (Jakarta Globe), foto atas foto: 01 September 2015, foto: a.sartono Berita BUDAYA

Baca Juga

Artikel Terbaru

  • 14-09-15

    Jagal Bilawa (2): Be

    Dikarenakan Matswapati tidak segera menjawab, maka Bilawa mengulangi pertanyaannya, apakah engkau tidak yakin aku menang? Pada akhirnya Matswapati... more »
  • 14-09-15

    Buku tentang Riwayat

    Selain membahas tentang perkembangan tari, secara khusus buku ini membahas beberapa jenis tari. Yaitu beksan tunggal (seperti tari Golek gaya... more »
  • 14-09-15

    Permata dalam Ingata

    Dengan keasliannya ini, gedung Permata mudah memanggil memori orang-orang yang dulu rajin menonton film di sini. Rasanya tak salah pilih ketika... more »
  • 12-09-15

    Naga Dina Minggu Kli

    Jika tidak mau celaka, jangan menuju ke arah sang naga berada, karena ia akan mencelakai kamu. Minggu Kliwon, 13 September 2015, kalender Jawa... more »
  • 12-09-15

    Gudeg pertama di Wij

    Soal rasa, gudeg Bu Slamet sangat layak dipuji. Kental dan ‘medok’. Mulai dari gudeg, areh, krecek sampai telur pindang dan ayamnya, semuanya memikat... more »
  • 12-09-15

    Pameran Perjuangan U

    Pameran Dokumentasi Keistimewaan DIY ini digelar pada tanggal 31 Agustus – 2 September 2015 bertempat di pendopo Dinas Kebudayaan DIY. Pada pameran... more »
  • 12-09-15

    Denmas Bekel 12 Sept

    Denmas Bekel 12 September 2015 more »
  • 11-09-15

    Kisah Perjuangan Ten

    Dengan membaca buku ini, kita akan mengetahui nama-nama Tentara Pelajar tersebut, aksi-aksi yang dilakukan, serta suka duka yang dialami. Bahkan... more »
  • 11-09-15

    Film Basiyo, Dokumen

    Tokoh legendaris di dunia Dagelan Mataram ini telah berkontribusi sangat besar pada kehidupan dengan dunia kejenakaannya. Ia banyak mengisi kebuntuan... more »
  • 11-09-15

    Kirab Festival Kesen

    Meski jumlah peserta kirab banyak tapi secara keseluruhan ada kesan monoton. Penyebabnya karena sebagian besar peseta menampilkan kesenian serupa.... more »