Karya Ilustrator Zaman Belanda Cornelis Jetses Dipoles Ulang Seniman Yogya

Ada nuansa yang agak berbeda antara karya Jetses yang asli dengan yang sudah diwarnai. Nuansa klasik seperti seperti yang ditampilkan Jetses tampaknya memang tidak mudah untuk dihadirkan kembali.

Menimba Air di Kebun, ilustrasi dari buku Piet en Mien, 1927, repro, difoto: Selasa, 21 Januari 2014, foto: a.sartono
Menimba Air di Kebun, ilustrasi dari buku Piet en Mien, 1927

Buku-buku terbitan JBWolters, Groningen, Batavia, untuk (pelajaran) anak-anak yang edisi tahun 1920-1940 di Hindia Belanda menarik untuk dicermati. Buku-buku tersebut memiliki ilustrasi yang indah dengan akurasi penggambaran alam, kondisi sosial, karakter (penggambaran fisik) orang Jawadan Belanda (Eropa) yang sangat kuat dan detail.

Ilustrasi yang dibuat dalam buku-buku terbitan JB Wolters tersebut seperti memindahkan kondisi atau suasana yang dituntut teks bacaan sesuai dengan aslinya. Lengkap dengan ekspresi dan “ruh” yang ada di dalamnya. Suasana pedesaan, perkotaan, rumah tangga, dan lain-lain sungguh terasa hadir di atas selembar kertas. Ilustrasi-ilustrasi tersebut sangat membantu anak-anak dalam belajar membaca dan memahami apa yang dimuat di dalam buku-buku tersebut.

Belajar di Kelas, ilustrasi dari buku Bahasa Melajoe, 1948, repro, difoto: Selasa, 21 Januari 2014, foto: a.sartono
Belajar di Kelas, ilustrasi dari buku Bahasa Melajoe, 1948, repro

Ada sejumlah ilustrator handal yang berkarya untuk penerbit ini, seperti H Isings, Suzon Beynon, J. Wolter van Blom, Tilly Dalton, F Bemmel, LC Bouman, Walter Spies, dan Cornelis Jetses.

Dalam rangka untuk menampilkan kembali gambaran insulinde (tanah air yang elok rupawan dan manis) Hindia Belanda saat itu, sekaligus berefleksi dengan karya senirupa masa lalu untuk bekal menuju masa depan, Bentara Budaya Yogyakartamemamerkan karya-karya illustrator Cornelis Jetses. Pameran digelar pada 21-30 Januari 2014.

Sebagian besar karya ilustrasi Jetses tersebut dibuat dalam format hitam putih. Bentara Budaya mencoba menghadirkannya dalam format warna (ada juga hitam putih). Dilibatkanlah perupa-perupa Yogyakartaseperti Ong Hary Wahyu, Felix S Wanto, Agung Pekik, dan Aliem Bakhtiar untuk memberi warna pada karya Jetses. Pada sisi ini terjadi perpaduan teknik ilustrasi lama (manual) yang kemudian digabung dengan teknik ilutrasi modern yang sudah menggunakan teknik digital.

Buku-buku asli yang memuat ilustrasi Cornelis Jetses, difoto: Selasa, 21 Januari 2014, foto: a.sartono
Cornelis Jetses, dan buku-buku asli yang memuat karya ilustrasinya

Ada nuansa yang agak berbeda antara karya Jetses yang asli dengan yang sudah diwarnai. Nuansa klasik seperti seperti yang ditampilkan Jetses tampaknya memang tidak mudah untuk dihadirkan kembali. Akan tetapi setidaknya hal itu bisa lebih menghidupkan lagi karya-karya Jetses tentang alam Indonesia yang sungguh mooi (manis), elok permai, dan teduh, ayem, tenteram. Kondisi macam itu tidak pernah kita dapatkan lagi di zaman sekarang yang sudah berubah menjadi hiruk-pikuk.

Pameran ini dikemas dalam tema Pameran Ilustrasi Insulinde “Djalan ke Barat”. Hal itu membingkai gagasan untuk menghadirkan kembali keelokan alam bumi Jawadan masyarakat sosialnya, sekaligus untuk menunjukkan bahwa Barat merupakan kiblat atau magnet bagi kemodernan (khsususnya untuk zaman itu). Bahkan juga sampai sekarang, meskipun tidak semua yang berbau Barat adalah baik atau sesuai dengan Timur.

Kacilakan, ilsutrasi dari buku Woelang Basa, 1948, repro, difoto: Selasa, 21 Januari 2014, foto: a.sartono
Kacilakan, ilustrasi dari buku Woelang Basa, 1948, repro

Tidak diketahui dengan pasti apakah Jetses pernah tingal di Jawayang mooi itu. Karya-karyanya yang demikian detail dan sempurna menggambarkan alam dan masyarakat Jawalengkap dengan karakter orangnya, yang menunjukkan bahwa ia “sepertinya” memang mengenal Jawa secara langsung. Mungkin juga ia membuat ilustrasi berdasarkan foto-foto yang diserahkan kepadanya. Dapat juga terjadi ia bisa menggambarkan Jawadengan demikian luar biasa itu karena ia pernah dibiayai oleh JB Wolters untuk tinggal atau sekadar menjenguk Tanah Jawa.

Naskah & foto:A.Sartono



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net - Rumah Sejarah dan Budaya


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta