Tembi

Yogyakarta-yogyamu»GAPURA GAYA BENTENG DI JEMBATAN SAYIDAN YOGYAKARTA

01 Jan 2008 08:05:00

Yogyamu

GAPURA GAYA BENTENG DI JEMBATAN SAYIDAN YOGYAKARTA

Kota Yogyakarta dilalui oleh beberapa sungai dengan tingkat kecuraman tebing yang relatif dalam. Sungai-sungai yang melewati Kota Yogyakarta di antaranya adalah Sungai Winanga, Sungai Code, dan Sungai Gajah Wong. Sementara di sisi barat sekaligus sebagai pembatas antara Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Sleman, dan antara Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul mengalir Sungai Progo. Sedangkan di sisi timur mengalir Sungai Opak dan Oya yang berfungsi juga untuk pembatas wilayah Kabupaten Sleman dengan Gunung Kidul dan pembatas antara Kabupaten Bantul dengan Gunung Kidul. Selain itu ada pula sungai-sungai lain yang mengalir di Provinsi DIY seperti Sungai Bedog, Sungai Konteng, Sungai Buntung, Sungai Kuning, dan sebagainya. Bahkan Selokan Mataram mengalir mulai dari Sungai Progo sampai Sungai Opak.

Akibat dari banyaknya sungai-sungai itu, maka tidak mengherankan jika di Yogyakarta ditemukan banyak jembatan. Oleh karena itu pula Yogyakarta sering mendapat julukan kota air. Artinya, kota yang dilalui banyak air (baca: sungai). Untungnya, sungai-sungai tersebut hampir semuanya bertebing curam sehingga limpahan air hujan dapat segera ditampung di sungai-sungai tersebut. Dengan demikian, bahaya banjir yang mengancam ke pemukiman penduduk, lahan pertanian, dan pekarangan bisa diminimalisasi. Pembuatan saluran air yang bagus dan tepat tentu dapat menghindarkan pemukim di Yogyakarta bebas dari bahaya banjir.

Untuk mengingatkan Yogyakarta sebagai kota air sekaligus kota yang melestarikan kraton, maka pada bulan Oktober-November 2008 ini pada Jembatan Sayidan dibangun gapura berbentuk benteng. Gapura yang dibangun pada ujung-ujung kedua sisi jembatan ini memberikan pemandangan baru bagi warga yang melintasi Jembatan Sayidan. Gapura berbentuk benteng dengan ukuran sekitar 2 m x 2 m ini menjadi semacam pintu masuk di kedua ujung jembatan.

Gapura dengan tulisan Sayidan ini sekaligus sebagai penanda identitas kampung setempat, yakni kampung kuna yang pada masanya merupakan pemukiman pendatang atau etnis Arab yang oleh orang Jawa disebut sebagai sayid. Sehingga dengan demikian kemudian dikenal sebagai Kampung Sayidan. Selain itu gapura tersebut juga sebagai penanda bahwa Yogyakarta memiliki banyak jembatan yang artinya juga memiliki banyak sungai. Dengan demikian, Yogyakarta bisa dikatakan sebagai Kota Air.

Dengan melintas di Jembatan Sayidan orang seakan diingatkan bahwa ia tengah melintas di atas sebuah penanda: Yogyakarta kota air dan memiliki keraton. Ingatan semacam itu bisa melebar pada ingatan lain, Yogyakarta memiliki banyak sungai. Yogyakarta memiliki peninggalan sejarah berupa keraton dengan segala pernak-perniknya. Yogyakarta sebenarnya memiliki kelimpahan air dari sungai. Yogyakarta mestinya bisa mengelola semuanya itu dengan baik dan benar. Yogyakarta mestinya tidak pernah kekurangan air. Yogyakarta mestinya memiliki lahan-lahan yang subur karena kecukupan air. Demikian, dan seterusnya.

Kreativitas, ide baru, terus bermunculan di kota Yogyakarta. Kreativitas semacam itu layak terus diapresiasi. Dengan begitu, Yogyakarta boleh juga disebut sebagai Kota Kreatif.

sartono




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta