Judul : Ternate sebagai Bandar Jalur Sutra
Penulis : R.Z. Leirissa, dkk
Penerbit : Depdikbud, 1999, Jakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : x + 92

Setelah kedatangan bangsa Barat (Portugis dan Spanyol disusul Belanda), berangsur-angsur kejayaan Ternate surut, dan akhirnya berada di bawah kekuasaan bangsa Barat.

Ternate sebagai Bandar Jalur Sutra

Maluku adalah salah satu wilayah Nusantara yang kaya rempah-rempah, sehingga orang Barat memberi julukan “The Spice Islands” (kepulauan rempah-rempah). Maluku dengan kepulauannya seperti Ternate, Tidore, Bacan dan lain-lain menjadi penting dalam perdagangan internasional. Tidak mengherankan apabila di sana terjadi persaingan antarpedagang dari berbagai bangsa.

Berkat rempah-rempah tersebut Maluku dengan berbagai kepulauanya menjadi salah satu lokasi jalan sutra (silk road). Pelabuhan-pelabuhan ramai dengan aktivitas perdagangan. Hal ini membawa berbagai dampak bagi pertumbuhan ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Pada abad XV Ternate merupakan pusat kekuatan utama kepulauan rempah-rempah. Pelabuhannya dapat disinggahi dua atau tiga kapal asing sekaligus. Ternate bergabung atau beraliansi dengan 3 kerajaan lain yaitu Tidore, Bacan dan Jailolo, dengan Ternate sebagai pemimpin. Aliansi ini didirikan pada abad XVI. Sebagai bandar di jalur sutra Ternate dan Tidore mengalami masa jaya pada abad XVI sampai XVII. Pada masa itu pengaruhnya terbentang antara Sulawesi sampai Irian.

Setelah kedatangan bangsa Barat (Portugis dan Spanyol disusul Belanda), berangsur-angsur kejayaan Ternate surut, dan akhirnya berada di bawah kekuasaan bangsa Barat.

Baca yuk ..!

M. Kusalamani



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net - Rumah Sejarah dan Budaya


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta