Merasakan Kesejukan Hati pada Macapatan Malam Rabu Pon ke-126

Author:editorTembi / Date:10-03-2014 /

Berita Budaya

Merasakan Kesejukan Hati pada Macapatan Malam Rabu Pon ke-126

Materi tembang diambil dari serat Centhini yang ditulis oleh sebuah tim bentukan Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III pada Tahun 1814 di Surakarta.

Macapatan putaran ke-126, Rabu Pon, 4 Maret 2014, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Kelompok Karawitan Trimalothung, pimpinan Yuladi,
mengiringi para penembang

Pada malam Rabu Pon, 4 Maret 2014, tepat pada pukul 19.30, hujan yang sebelumnya deras mengguyur kota Yogya dan Bantul pun reda. Sekitar 20 orang pecinta macapat di Bantul dan sekitarnya tidak mau melewatkan kesempatan datang di Pendapa Tembi Rumah Budaya untuk menembangkan macapat serta mendengarkan gendhing-gendhing Jawa. Acara yang rutin diadakan setiap 35 hari sekali tersebut sudah memasuki putaran ke-126. Materi tembang diambil dari serat Centhini yang ditulis oleh sebuah tim bentukan Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III pada Tahun 1814 di Surakarta.

Mengikuti tahapan serat Centhini yang dibaca dengan cara ditembangkan pada setiap selapan hari di Tembi Rumah Budaya, para pecinta tembang yang setia datang akan mengetahui kisah Mas Cebolang dalam pengembaraannya mencari pengetahuan serta pengalaman hidup.

(Macapatan putaran ke-126, Rabu Pon, 4 Maret 2014, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Angger Sukisno pemandu macapat

Seperti penggalan kisah malam itu, sepeninggal dari Desa Paricara, Mas Cebolang bertemu dengan seorang Brahmana. Dalam pertemuan tersebut Sang Brahmana memberikan ajaran keutamaan hidup kepada Mas Cebolang, seperti pada cuplikan tembang berikut ini:

Sinom
19. Sang Brahmana mèsêm lingnya
atut pamintanta kaki pêpacak wêwalêrira
agama Budha puniki
kudu anyêgah maring
watêk panastèn anêpsu
dahwèn salah-opènan
kêmèrèn cêthil ajail
cêngil kriwil muthakil srèi waonan

20. Darêngki mêdhit nyêngitan
anyarubiru basiwit
anyêndhu mring samoanya
sarupaning manungsèki
de lakuning rahsèki
kudu trêsna wêlas purun
asih sakèh dumadya
tindak kang sêdya pinêsthi
kudu têtêp madhêp idhêp pangidhêpnya

21. Dene lakune kang manah
kudu lila lair batin
trima nalangsa lêgawa
mungguh pambudinirèki
kudu mêncar sayêkti
jêmbar sabar lan sumawur
dene pandhêngannira
kudu mindêng ênêng-êning
lawan eling mung puniku papacaknya

Macapatan putaran ke-126, Rabu Pon, 4 Maret 2014, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Sinden dan wiraswara sebagai vokalis gending

Demikian dikatakan oleh Sang Brahmana, orang hidup itu hendaknya mencegah watak panas hati, jangan mengumbar nafsu serta kebiasaan mencela orang lain, jangan mempunyai watak iri-dengki, kikir, jail-metakil dan suka mencelakai orang lain.

Setiap orang hendaknya mengembangkan rasa belas-kasih kepada semua ciptaan serta berpegang teguh pada ajaran Sang Pencipta. Ikhlas lahir-batin dalam menjalankan semua kewajiban. Sabar, narima serta eling, mengarahkan hidup menuju kepada Sang Sumber Hidup Sejati.

Satu per satu para pecinta maju sesuai dengan nomor urut daftar hadir, untuk menembangkan ‘pada’ demi ‘pada’ atau bait demi bait pada teks yang telah disediakan.

Selain ‘nembang gancaran’ atau nembang tanpa iringan, para hadirin yang berminat juga dapat mencoba nembang dengan diiringi gamelan dari kelompok karawitan Trimalothung, Krajan Tirtamulyo, Kretek, Bantul pimpinan Yuladi.

Macapatan putaran ke-126, Rabu Pon, 4 Maret 2014, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Salah seorang peserta sedang melantunkan tembang

Selain ‘nembang gancaran’ atau nembang tanpa iringan, para hadirin yang berminat juga dapat mencoba nembang dengan diiringi gamelan dari kelompok karawitan Trimalothung, Krajan Tirtamulyo, Kretek, Bantul pimpinan Yuladi.

Rasa damai dan senang pada malam ini kiranya dapat dicukupkan sementara, untuk dilanjutkan pada malam Rabu Pon mendatang, demikianlah Angger Sukisno menutup acara, tepat pada pukul sebelas malam.

Herjaka HS
Foto:Barata

Peristiwa budaya

Latest News

  • 25-06-14

    Gule Rakyat yang Ser

    Benar-benar harga rakyat karena untuk seporsi nasi gule hanya dibanderol Rp 4.000 dan secangkir teh Rp 1.000. Jadi untuk sekali makan dan minum di... more »
  • 25-06-14

    Sejarah Perkembangan

    Judul : Sejarah Perkembangan Arsitektur Kota Islam Banten. Suatu Kajian Arsitektural Kota Lama Banten Menjelang Abad XVI sampai dengan Abad XX... more »
  • 25-06-14

    Jose Immanuel Bingun

    Malam itu ada banyak wisatawan asing dan wisatawan Nusantara yang secara khusus menyaksikan pergelaran wayang golek di Tembi. Sebagian dari wisatawan... more »
  • 24-06-14

    Olga Lydia Senang Be

    Artis bedarah oriental Olga Lydia mengaku sangat senang berkunjung ke museum. Tidak hanya museum di dalam negeri, jika ada kesempatan ke luar negeri... more »
  • 24-06-14

    Nisan Panglima Jogod

    Panglima Jogodolok menurut sumber setempat adalah keturunan Majapahit yang mengembara sampai di Cepor dan kemudian tinggal di tempat ini.... more »
  • 24-06-14

    Aroma Of Heaven, Seb

    Film ini menceritakan asal mula kopi yang berkembang di Desa Doro yang terletak di Pekalongan, Jawa Tengah, sampai mengulas tradisi mengunyah biji... more »
  • 23-06-14

    Jembawan Menjadi Ker

    Ramawijaya mengetahui hal ini dan berniat menjatuhkan hukuman kepada adiknya karena telah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Namun sebelum orang... more »
  • 23-06-14

    Denmas Bekel 23 Juni

    more »
  • 23-06-14

    Rainforest World Mus

    Pada tahun ini, RWMF yang rutin diadakan setiap tahun sejak 1997 telah memasuki episode ke-17. Sebuah perjalanan yang panjang hingga festival ini... more »
  • 21-06-14

    Selama Sepekan Ini O

    Orang Wuku Pahang suka berbicara berlebih, cenderung menentang bila merasa benar, mudah curiga hingga amat berhati-hati dalam bekerja. Kadangkala ia... more »