Pak Raden Lebih Suka Disebut Sebagai Seniman

Tidak banyak orang yang tahu bahwa semasa mudanya, lepas dari masa studinya di ITB (Institut Teknologi Bandung) jurusan Seni Rupa tahun 1952, pria bernama lengkap Suyadi ini pernah tinggal di Paris, Perancis, untuk belajar sebagai animator. Boneka Unyil adalah ciptaannya yang sampai saat ini masih dikenal lintas generasi.

Pak Raden Lebih Suka Dibilang Seniman
Pak Raden bersama salah satu sketsanya dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta

Sejak duduk di sekolah dasar, Suyadi sangat tertarik dengan dunia menggambar yang ia lihat di buku-buku pelajaran membaca. Sayang orang tuanya tidak mendukung keinginannya untuk belajar menggambar.

Europe Lagere School (ELS), sekolah setingkat SD, menjadi tempat laki-laki kelahiran 28 November 1932 ini menghabiskan masa kecilnya. Sekolah ini khusus untuk anak kulit putih dan pribumi dari golongan tertentu.

Singkat cerita, selepas dari SMA Geneskundige Hoge School, Surabaya, pria yang khas dengan kumis tebal dan blangkonnya ini meneruskan cita-cita masa kecilnya dan berkuliah di ITB, Bandung, mengambil jurusan Seni Rupa. Bagai gayung bersambut, Suyadi pun mengikuti program beasiswa yang diberikan pemerintah Perancis untuk mendalami animasi dan bekerja sebagai animator di Lest Cineast Associest, dan pelukis animasi di Les Film Martin Boschet.

Kembali dari Perancis, ia bekerja sebagai kepala Graphic Art di Teaching Aids Centre, bersamaan dengan pekerjaannya sebagai pengajar di Seni Rupa ITB. Dalam perjalanannya tak terhitung sudah berapa jumlah karyanya, berupa buku cerita anak bergambar dan film animasi. Tak hanya membuat ilustrasi, tapi ia mampu menulis ceritanya sendiri. Karyanya yang paling dikenal adalah ‘Boneka si Unyil’, yang menurut Pak Raden sangat spesial.

Sebagai art director, Suyadi lebih banyak membuat boneka dan menyiapkan set panggung. Karakter Pak Raden yang diperankan olehnya hanya kebetulan. Jika banyak tokoh Disney memiliki karakter yang kuat, Suyadi sangat ingin karakter yang ia buat menjadi tokoh yang kuat dalam Boneka Si Unyil.

Pak Raden Lebih Suka Dibilang Seniman
Suyadi, dengan penampilan sebagai Pak Raden, masih berkarya di usianya yang ke-80

Meski saat ini Suyadi dikenal sebagai pendongeng, pelukis, ilustrator dan lainnya, sebagai seniman Jawa, anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini memiliki perhatian besar ada seni tari, gamelan, karawitan dan pernah menjadi dalang. “Ki Narto Sabdo adalah salah satu dalang yang pernah menginspirasi saya sebagai dalang,” papar tokoh yang sangat berpengaruh terhadap sejarah perkembangan animasi di Indonesia ini.

Di tengah kesulitannya sekarang, kabar hak cipta ‘Boneka si Unyil’ belum juga didapatnya. Suyadi mengaku masih santai menjalani kehidupannya. Di usianya yang November nanti menginjak 80 tahun, ia masih terlihat sehat dan terus berkarya. Salah satunya adalah Pameran tunggal Skesta yang digelar di Bentara Budaya Jakarta beberapa waktu lalu.

Terlihat jelas kecintaan masyarakat masih sangat besar kepada dia, karena pada saat pembukaan pameran ratusan orang datang, tak hanya ingin melihat karya pak Raden, tetapi juga bertegur sapa dan berfoto bersama di sela-sela pameran.

Tak hanya membuat karya, ia juga masih mengisi suara untuk serial Si Unyil di sebuah stasiun televisi swasta, masih sibuk mendongeng di sejumlah acara dan menulis buku anak, dan menyelesaikan lukisannya yang belum rampung.

Totalitasnya di dunia seni menjadi energi. Bermain musik karawitan, teater, melukis, mendongeng, membuat buku, dan lainnya memang akhirnya tidak bisa dilakukan bersamaan. “Saya harus memilih mana yang paling saya suka, saya pikir waktu itu membuat unyil, tapi Suyadi itu bukan cuma Pak Raden karena saya belajar seni rupa. Saya lebih suka dibilang seniman, tapi tentunya tanpa meremehkan yang lain,” katanya.

Pak Raden Lebih Suka Dibilang Seniman
Karakter boneka Si Unyil ciptaan Pak Raden, foto : www.lazuardibirru.org

Temen nan yuk ..!

Natalia S.

Foto : Amanda



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net/


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta