Komponis Makoto Nomura: Dari Komposisi Gamelan Hingga Isu Nuklir di Jepang

Ia ingin berkolaborasi dengan seniman di sini untuk menyuarakan pesan ke Jepang nantinya bahwa teknologi nuklir memang tidak baik dampaknya bagi kehidupan manusia jangka panjang. Di Indonesia, ia merasa bisa berpikir jernih, dan bisa mengumpulkan ide-ide baru dari para rekan.

Komponis asal Jepang Makoto Nomura, foto: Dokumentasi pribadi Makoto Nomura
Sang komponis, Makoto Nomura

Ia begitu periang, penuh antusiasme dan semangat, terlebih ketika bermain musik. Begitulah Makoto Nomura, komponis kelahiran Nagoya, Jepang, tahun 1968.

Pada hari Kamis, 9 Mei 2013, Tembi berkesempatan untuk berbincang dengan Makoto Nomura yang sedang berada di Yogyakarta untuk program Asian Public Intellectuals (API) Fellowship dan beberapa kegiatan kesenian.

API merupakan program yang digagas dan didukung oleh The Nippon Foundation. Program ini menggandeng berbagai institusi dari lima negara yakni Jepang, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Berlatar belakang kemajuan dan perubahan pesat di berbagai negara Asia abad 21, API merupakan wadah bagi para 'intelektual' di lima negara tersebut untuk menyumbangkan ide dan daya kreasinya bagi kemajuan Asia. Termasuk memberikan berbagai solusi kreatif atas masalah yang berlangsung di Asia, terutama isu sosial politik dan ekonomi.

Indonesia, terutama Yogyakarta, bukanlah tempat yang asing dan baru baginya. Dua tahun lalu, ia tinggal selama beberapa waktu di Yogyakarta dan berkolaborasi dengan banyak musisi di Yogyakarta, seperti Gangsadewa dalam Festival Musik Tembi 2011, Yohanes Subowo dan dosen-dosen ISI Yogyakarta, serta berkolaborasi dengan anak-anak SD Mangunan untuk program musik kreatif.

Ternyata, dua tahun yang lalu juga bukan merupakan kunjungan pertama Makoto Nomura ke Indonesia. Ia pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1996 dalam program tur konser grup Gamelan ‘Dharma Budaya’ dari Osaka. Saat itu, karya baru Makoto Nomura untuk karawitan berjudul ‘Jogetlah Beethoven’ juga dipentaskan sebagai bagian dari program konser Dharma Budaya. Konser tur berlangsung di empat kota, yakni Jakarta (IKIP Jakarta), Bandung (STSI), Yogyakarta (Purna Budaya UGM), dan Solo (STSI Solo yang kini menjadi ISI Solo). Karyanya mendapat sambutan antusias dari audiens dan konser tur Dharma Budaya menuai sukses.

Beberapa waktu lalu, Makoto Nomura pernah membagikan rekaman ‘Jogetlah Beethoven’ saat dipentaskan di Kyoto. Karya ini begitu menarik dan indah. Eksplorasi terhadap instrument karawitan benar-benar segar dengan berbagai ide baru, seperti kolaborasi gamelan dengan koor anak-anak dan pianika, serta toy piano atau piano mainan. Tentunya sangat berbeda dengan musik karawitan Jawa, tempat asal gamelan. Namun komposisi ‘Jogetlah Beethoven’ memang luar biasa.

Setelah mendengarkan rekaman karya ini, Tembi tertarik untuk berbincang lebih lanjut mengenai komposisi ini dengan komponisnya langsung. Mengingat begitu menarik untuk mengetahui sudut pandang Makoto Nomura sebagai komponis dari Jepang yang notabene tentu tidak lahir dari tradisi gamelan. (Komposisi ‘Jogetlah Beethoven’: https://soundcloud.com/makoto-nomura/02-jogetlah-beethoven)

Yang menjadi pertanyaan awal adalah proses penciptaan karya ‘Jogetlah Beethoven’, mengingat karya ini merupakan karya awal dan perkenalan Makoto Nomura dengan gamelan. Saat berbincang, ternyata ada kejadian unik yang menjadi rangkaian perkenalan Makoto dengan gamelan. Pada tahun 1994 ia memperoleh beasiswa dari British Council untuk belajar musik di York University, Inggris.

Suatu saat, ketika sedang tidak kuliah ia berkunjung ke sebuah toko di sana. Secara tidak sengaja ia menemukan buku tentang gamelan Jawa berjudul ‘A Guide to The Gamelan’ yang ditulis oleh komponis dan etnomusikolog kelahiran Inggris, Neil Sorrell.

Sebenarnya saat itu, buku Gamelan Jawa tidak menarik minat Makoto Nomura secara khusus. Namun saat itu buku tersebut didiskon hingga seperempat harga aslinya sehingga murah. Karena murah, buku itu pun dibelinya. Saat membaca buku ini pertama kali, Makoto Nomura benar-benar tidak mengerti, terutama gamelan yang menggunakan notasi angka kepatihan. Ia juga tidak tahu bagaimana melafalkan nama setiap instrumen.

Di York University memang ada kelompok gamelan yang punya sejarah panjang. Ternyata gaung gamelan sudah lama beresonansi di tanah Inggris. Antara lain tercatat kelompok Gamelan Sekar Petak, dibentuk pada tahun 1981. Namun saat studi di York University, Makoto Nomura tidak secara khusus mengikuti kegiatan kelompok gamelan, hanya sesekali saja.

Tahun 1996 ketika masa studi di Inggris berakhir, Makoto Nomura pulang kembali ke Jepang. Di Jepang, gaung gamelan juga sudah lama beresonansi di sana. Kelompok Dharma Budaya dari Osaka terbentuk sejak tahun 1979 atas kerjasama dari The Ueno Foundation for Art and Culture of Asia dan Departemen Musikologi, Universitas Osaka.

Komponis asal Jepang Makoto Nomura, foto: Dokumentasi pribadi Makoto Nomura
Ia memainkan pianika

Salah satu pendiri dan pemimpin Dharma Budaya, yakni Prof Shin Nakagawa (pernah mengajar di Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta tahun 1997) meminta Makoto untuk membuat komposisi karawitan baru bagi Dharma Budaya. Makoto Nomura menyanggupinya dan ia mulai membaca kembali buku tulisan Neil Sorrell. Buku yang dibelinya secara ‘tidak sengaja’ itu kemudian menjadi petunjuk penting baginya.

Dharma Budaya, terdiri dari orang-orang Jepang yang memiliki minat untuk bermain gamelan di sana. Menurut Makoto saat itu, sebagai sebuah kelompok gamelan, Dharma Budaya memiliki kekhasan dan tentunya beda dengan pengrawit dari Jawa. Secara teknis tentu pengrawit dari Jawa yang hidup di dalam tradisi gamelan di tanah kelahirannya begitu lekat dan bisa memainkan gamelan dengan berbagai teknik yang sebenarnya sulit namun dilakukan dengan alamiah.

Sedangkan para pengrawit di kelompok Dharma Budaya banyak yang masih belajar mendalami gamelan baik dari segi teknis permainan maupun musiknya. Mereka juga ingin mengembangkan keunikan mereka sendiri sebagai orang Jepang yang bermain gamelan.

Makoto Nomura yang mendapat amanat untuk membuat komposisi gamelan baru bagi Dharma Budaya mulai bergabung dengan aktivitas di kelompok ini. Ia mulai ikut berlatih, mengamati dan mencoba menulis ide-ide komposisi yang ia pikirkan. Prosesnya benar-benar sambil jalan. Mulai dari nol akan pemahaman komposisi karawitan.

Ada kasus unik ketika Makoto Nomura bergabung dalam latihan Dharma Budaya. “Di sana, Saron sering kali dipukul dengan keras dan tegas sedangkan gender sebaliknya. Maka sering kali suara gender tidak terdengar,” begitu kenang Makoto. Namun selanjutnya ia berpikir, mengapa diciptakan instrumen gender jika secara bunyi ia kalah dengan instrumen lain seperti misalnya saron?. Pasti ada alasannya, begitulah yang ada dalam benaknya.

Dari berbagai rasa penasaran seperti ini, keinginan Makoto untuk mendalami gamelan dan bunyi setiap instrumen berlanjut. Sebagai komponis memang ia sudah terlatih bertahun-tahun untuk ‘meneliti’ dan belajar berbagai instrumen, berbagai gaya musik melalui kesempatan kolaborasi dengan banyak musisi bahkan berbagai kesenian lainnya. Belakangan, ia mengetahui bahwa resonansi bunyi gender benar-benar memperkaya struktur bangunan sebuah kelompok gamelan.

Proses dengan Dharma Budaya terus berlanjut. Makoto menyadari bahwa pengrawit Dharma Budaya tentu berbeda dengan pengrawit di Jawa. Sebagai komponis, ia ingin menciptakan musiknya yang cocok dengan keunikan Dharma Budaya dan memunculkan setiap ide kreatif yang mungkin dilakukan dan menarik.

Ia memaksimalkan potensi di tengah keterbatasan, termasuk keterbatasan karena ia juga belum pernah mendengarkan permainan pengrawit Jawa secara langsung. Namun ia percaya pada kreativitas. Dengan percaya diri dan semangat, proses berkomposisi dengan gamelan Dharma Budaya terus berlanjut dan selesailah notasi komposisi lengkap komposisi “Jogetlah Beethoven” pada akhirnya.

Indonesia sebagai negeri yang kaya budaya termasuk musik tradisional memang selalu menarik hati Makoto untuk berkunjung ke Indonesia setiap ada kesempatan. Bahkan istrinya, Kumiko Yabu seorang pemain perkusi, juga mendalami karawitan dan pernah belajar di Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta dalam program Dharma Siswa.

Seperti yang telah disebutkan di awal, kunjungannya ke Indonesia kali ini merupakan program dari API Fellowship yang ia raih. Akhir tahun lalu, ia mengajukan proposal program kesenian untuk mengangkat isu antinuklir melalui musik ke API Fellowship. Ini adalah kegelisahan Makoto Nomura sebagai musisi dan warga negara Jepang yang selama ini negaranya menggunakan teknologi nuklir sebagai pembangkit listrik.

Pasca bencana gempa di Jepang pada Maret 2011, PLTN Fukushima mengalami kerusakan. Radiasi nuklir dari reaktor yang bocor mengancam penduduk di Fukushima dan kota-kota di sekitarnya. Teknologi nuklir yang memang canggih itu kini menjadi ‘ancaman’ bagi kehidupan manusia. Banyak usaha untuk mengatasi bahaya radiasi nuklir, juga banyak pula gerakan yang menentang teknologi nuklir.

Namun ternyata perusahaan-perusahaan besar yang menguasai sektor industri dan perekonomian di Jepang banyak menggunakan listrik dari PLTN. Maka ada pro dan kontra yang begitu kuat di Jepang saat ini. Isu nuklir benar-benar menjadi isu besar di sana dan memadati keseharian penduduk Jepang.

Dengan alasan ini, Makoto memilih untuk memulai program musik yang menyuarakan isu antinuklir di Indonesia. Ia ingin berkolaborasi dengan seniman di sini untuk menyuarakan pesan ke Jepang nantinya bahwa teknologi nuklir memang tidak baik dampaknya bagi kehidupan manusia jangka panjang. Di Indonesia, ia merasa bisa berpikir jernih, dan bisa mengumpulkan ide-ide baru dari para rekan.

Komponis asal Jepang Makoto Nomura, foto: Dokumentasi pribadi Makoto Nomura
Makoto Nomura (baju biru) menabuh gamelan

Tanggal 24 Mei mendatang, Makoto Nomura akan ikut berpartisipasi dalam Festival Musik Tembi 2013 bersama Kumiko Yabu dan Gardika Gigih. Ketiganya akan berkolaborasi mementaskan musik Indonesia – Jepang. Silakan datang ke Festival Musik Tembi 2013. Ditunggu ya!

Temen nan yuk ..!

Gardika Gigih Pradipta



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net/


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta