Mengenang Mbah Djoyo Sumarto

…. Selamat jalan untuk mbah Djoyo, semoga Beliau beristirahat dengan santai dan menikmati kemerdekaan abadi bersama Pemilik Kehidupan…

Mbah Djoyo ketika terakhir kali memandu acara Macapat malem Rabu Pon didamping Bp. Ign. Wahono
Mbah Djoyo ketika terakhir kali memandu acara Macapat malem Rabu Pon didamping Bp. Ign. Wahono

Ucapan pendek di atas dikirim oleh Bp. N. Nuranto presiden direktur Tembi Rumah Budaya dari Jakarta untuk mengantar kepergian Mbah Djoyo Sumarto salah satu diantara 50 orang karyawan Tembi Rumah budaya. Mbah Djoyo dipanggil dan menghadap Tuhan pada hari Kamis Kliwon 18 Oktober 2012, pada jam 06.30 dalam usia 83 tahun.

Mengenang Mbah Djoyo semasa hidupnya, tidak bisa lepas dari kesenian tembang Macapat. Sejak muda beliau sudah bergabung dengan kelompok karawitan, bagian wiraswara atau bagian tembang untuk suara putra. Bermodalkan materi suara yang berkualitas baik, Mbah Djoyo dua kali berturut-turut menjadi juara I lomba Tembang Gembiraloka. Sejak saat itu nama mbah Djoyo semakin dikukuhkan sebagai penembang terbaik di wilayah Bantul, dan mendapat penghargaan dari Bupati Bantul.

penghargaan dari Bupati Bantul. Pada tahun 2000 setelah pensiun dari pegawai kelurahan Timbulharjo Sewon Bantul, Mbah Djoyo Sumarto bergabung dengan Tembi Rumah Budaya dan diberi tugas sesuai dengan kesenanganya yaitu merawat keris dan tombak di museum Tembi Rumah Budaya, mengajari tembang macapat dan Budaya Jawa. Khusus untuk macapat, mbah Djoyo menjadi pemandu dan moderator pada acara macapatan setiap malem Rabu Pon yang diselenggarakan Oleh: Tembi Rumah Budaya sejak tahun 2000.

Kegiatan rutin ini menjadi ‘jujugan’ bagi pecinta dan bagi pelaku seni tembang Macapat yang sebagian besar berusia di atas limapuluh tahun, berada di wilayah Bantul khususnya dan masyarakat Jogya pada umumnya. Di dalam acara ini, pecinta macapat selain diberi kesempatan untuk nembang satu persatu sesuai dengan urutan nomor presensi kedatangan, juga disuguhi dengan gendhing-gendhing Jawa yang digelar untuk selingan macapat dan juga untuk mengiring macapat yang ditembangkan.

Bp. Soemiroen, salah satu pecinta macapat dari Purworejo sungkem kepada Mbah Djoyo
Bp. Soemiroen, salah satu pecinta macapat dari Purworejo sungkem kepada Mbah Djoyo

Beberapa pecinta Tembang Macapat yang selalu hadir di pendapa Yudanegaran Tembi Rumah Budaya setiap 35 hari sekali, yaitu pada malam Rabu Pon mengatakan bahwa baginya acara macapatan ini dapat ndangir sukma dan ngrabuk sarira atau memperpanjang umur. Oleh karenanya mereka selalu menanti-nanti datangnya malem Rebo Pon untuk saling bertemu, bertegur sapa dan bersama-sama saling nembang dan mendengarkan tembang.

Seperti halnya para pecinta macapat, malam Rabu Pon juga merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh Mbah Djoyo sebagai pemandu dan sekaligus sebagai tuan rumah. Karena pada malam itu paling tidak ada 50 orang yang terdiri dari kelompok karawitan dan pecinta macapatan datang untuk mengumandangkan gending-gending Jawa dan tembang-tembang macapat yang menjadi kesukaannya. Dengan senda-gurau dan suaranya yang masih relatih merdu Mbah Djoyo selama sebelas tahun berturut-turut mengawal acara macapat malem Rabu Pon di Tembi Rumah Budaya. Setiap kali acara digelar. sembari memejamkan mata, Mbah Djoyo mendengarkan dengan telinga dan hati nada-nada yang dikumandangkan serta syair-syair yang ditembangkan

Saat ini Macapat Malem Rabu Pon telah memasuki putaran ke 113. Tujuh putaran terakhir, seiring dengan raganya yang kian melemah, Mbah Djoyo sudah tidak mampu lagi mengawal acara yang paling disuka. Terakhir kali, beliau masih mampu membuka acara macapatan malem Rabu Pon selama lima menit pada putaran 106, 24 Januari 2012. Setelah itu, Raga mbah Djoyo sudah tidak mampu lagi datang di Tembi untuk memandu acara macapat malem Rebu Pon, yang merupakan sebagian dari hidupnya.

Raga boleh tidak berdaya, namun jiwa dan semangat untuk selalu hadir pada macapat malem Rabu Pon tak pernah surut. Pernah pada suatu malam Rabu Pon putaran 108, sepanjang malam Mbah Djoyo meminta pada keluarga untuk diantar ke Tembi menghadiri macapatan. Namun hal itu tidak mungkin dituruti oleh keluarga, karena raga mbah Djoyo sudah tidak dapat diajak duduk berlama-lama.

Terakhir kali mbah Djoyo membuka acara Macapat malem Rabu Pon putaran 106, 24 Januari
Terakhir kali mbah Djoyo membuka acara Macapat malem Rabu Pon putaran 106, 24 Januari

Ia berbaring dan berbaring, hingga semakin rapuh tak berdaya. Raga sudah tidak mungkin lagi menikmati indah dan adiluhungnya seni Macapat dan karawitan. Namun bukan berarti bahwa jiwa sukma Mbah Djoyo yang kini sudah berpisah dengan raganya tidak dapat lagi menikmati kesenangannya. Siapa tahu di alam keabadian, Mbah Djoyo dengan santai dan merdeka menikmati macapatan bersama dengan Sang Pemilik Kehidupan.

Sugeng tindak Mbah Djoyo

herjaka HS


Artikel Lainnya :


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta