Membincang Buku Jurnalistik Karya Agoes Widhartono di Radio Eltira Yogyakarta

Buku jurnalistik karya Agoes Widahrtono ini penting untuk dibaca, terutama oleh mereka yang bergerak di bidang jurnalistik. Lebih-lebih bagi wartawan muda, yang seringkali abai soal etika jurnalistik.

Agoes Widhartono penulis buku dengan judul ‘Menyisir Kata Mencari Makna’ sedang on air di radio Eltira, Foto: Slamet Riyadi Sabrawi
Agoes Widhartono on air di radio Eltira Yogya

Buku jurnalistik yang baru terbit berjudul “Menyisir Kata Mencari Makna” ditulis Agoes Widhartono, seorang jurnalis yang sekarang menjadi staf professional LP3Y, pimpinan Ashadi Sireger. Buku setebal 245 halaman ini diberi pengantar Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas.

Publikasi pertama kali muncul melalui media jejaring sosial ‘Facebook’ dan mendapat tanggapan dari sejumlah teman Agoes. Tentu, Agoes dengan senang hati menanggapi respon melalui Facebook, termasuk yang ingin memiliki diminta untuk memesan melalui inbox.

“Karena buku ini tidak dijual di toko mainstream,” kata Agoes mengadvokasi calon pembelinya.

Tembi, yang sudah lima tahun lebih membuka ruang untuk membincangkan buku baru melalui Radio Eltira, yang merupakan jaringan Sonora Group, menawarkan Agoes untuk membincang bukunya di Radio Eltira Yogya dalam acara ‘Waroeng Kotabaru’. Agoes sepakat.

Pada hari yang sudah disepakati, Jumat, 3 Mei 2013, pukul 19.00 Agoes Widhartono dan seorang reader, Slamet Riyadi Sabrawi, jurnalis dan asisten direktur LP3Y bersama dengan Tembi selaku host, sudah berada di ruang studio Radio Eltira, Jl Suroto 4, Kotabaru, Yogyakarta untuk on air.

“Buku ini saya bagi dalam empat bagian. Bagian pertama dengan tema ‘Bahasa dan Nalar’. Bagian kedua mengambil tema ‘Kondisi Media’. Bagian ketiga ‘Realitas Pemberitaan' dan bagian keempat saya beri tema ‘Kemanfaatkan Berita’,” kata Agoes memulai menjelaskan.

“Memang kamu sering menemukan berita yang secara nalar dan bahasa kacau?” tanya Tembi.

“Sangat sering, dari judul berita kekacauan nalar sudah sangat kelihatan, dan dalam buku ini, pada bab pertama saya khususkan untuk mengulas berita, yang dari segi bahasa dan nalar kelihatan kacau,” ujar Agoes Widhartono.

Ia pun mengutip contoh yang ada dalam bukunya. “Sebuah berita dalam format straight news, atau berita langsung, dimuat di surat kabar harian Republika edisi Kamis 12 Februari 2009, pada halaman 3. Dilihat sepintas, berita itu biasa saja, sebagaimana berita lain di halaman tersebut, yang isinya beragam. Tetapi jika diamati, sebenarnya ada hal yang mengganggu,” kata Agoes.

Buku karya Agoes Widhartono ‘ Menyisir Kata Mencari Makna’ sudah dipublikasikan melalui media jejaring sosial Facebook, Foto: facebook Yusran Pare
Buku karya Agoes Widhartono

Lalu Agoes menunjukkan judul berita tiga kolom itu : ‘Ribuan Massa Demo di Kantor BPLS'. Isi beritanya tentang para korban lumpur PT Lapindo Brantas Inc yang kembali berunjuk rasa ke kantor Badan Pelaksana Lumpur Lapindo Sidoarjo (BPLS), di Surabaya.

“Dua kata pertama sebagai subyek yang digunakan adalah ribuan, masih ditambah dengan kata massa. Dengan begitu berarti, massa adalah jumlah tertentu yang bisa dihitung, masih dikalikan dengan jumlah yang mencapai ribuan. Jika logikanya demikian, akan ditemukan sebuah angka yang sangat besar. Seberapa banyak jumlah massa?. Seberapa banyak pula jumlah ribuan massa?” kata Agos Widhartono.

Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, dalam tulisan pengantar buku tersebut menuliskan bahwa dengan mengupas masalah bahasa dan nalar, penulis ingin menegaskan bahwa menulis itu tidak mudah. DeNee L Brown dari Washington Post (Luwi Iswhara), mengatakan tulisan yang baik mensyaratkan penulisnya menempatkan diri dalam cerita. Jujur dalam berbahasa. Wartawan menyesuaikan bahasa dengan peristiwanya.

“Suatu berita seharusnya tidak lebih hebat –dengan memanipulasi kata-kata—daripada kejadiannya sendiri. Jangan mulai menulis dengan gaya, tetapi utamakan informasi: pengungkapan detil khusus, gambaran konkrit, kutipan, statistik, catatan-catatan dan fakta. Kata-kata adalah simbol informasi,” kata Trias Kuncahyono.

Slamet Riyadi Sabrawi, yang hadir sebagai reader dalam talk show di radio Eltira melihat, bahwa buku jurnalistik karya Agoes Widahrtono ini penting untuk dibaca, terutama oleh mereka yang bergerak di bidang jurnalistik. Lebih-lebih bagi wartawan muda, yang seringkali abai soal etika jurnalistik.

Pada bagian sampul belakang luar dari buku karya Agoes Widhartono, tiga orang jurnalis, masing-masing Yusran Pare, Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, Banjarmasin; Sigit Setiono, Wakil Pemimpin Redaksi Warta Jateng, Semarang; dan Mulyanto Utomo, Redaktur Senior Solopos, Surakarta memberikan komentar mengenai buku ini.

Ons Untoro



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net/


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta