Tembi

Yogyakarta-yogyamu»SEPENGGAL KISAH REL BAWAH TANAH YOGYAKARTA SEMARANG

01 Jan 2008 06:53:00

Yogyamu

SEPENGGAL KISAH REL BAWAH TANAH YOGYAKARTA-SEMARANG

Kejayaan kereta api yang menghubungkan Kota Yogyakarta dengan Kota Semarang tinggallah kenangan. Jalur rel yang menghubungkan kedua kota ini pada saat sekarang bisa dikatakan sudah mati total. Jika kita melacak di mana keberadaan rel tersebut di Yogyakarta pada saat ini, kita tidak akan pernah menemukannya. Di dalam kota Yogyakarta sendiri jalur rel ini lenyap terkubur tanah, semen, dan aspal. Di atas rel ini telah berdiri sekian ratus atau bahkan sekian ribu bangunan. Entah itu berupa toko, kios, warung, rumah makan, bengkel, rumah tinggal, pos siskamling, dan lain sebagainya.

Dulu jalur rel Yogyakarta-Semarang ini dapat kita lihat di sepanjang sisi barat Jalan Magelang mulai dari Pingit terus ke utara. Namun rel itu sekarang benar-benar tidak ada bekasnya sama sekali. Rel beserta bantalannya itu telah berada di dalam tanah. Stasiun-stasiun kecil yang menjadi tempat naik turunnya penumpang di jalur ini pun sudah banyak yang lenyap. Kalaupun masih ada, sudah banyak beralih fungsi sama sekali. Ada yang dijadikan warung nasi, toko, pemukiman, pangkalan ojek, dan sebagainya.

Ketika Tembi mencoba melacak jalur kereta api ini mulai dari Perempatan Pingit Yogyakarta sampai di Muntilan, tidak secuil pun rel tersebut kelihatan. Semua lenyap terkubur tanah atau entah kemana. Tembi baru bisa menemukan kembali jalur rel kereta api Yogyakarta-Semarang ini di daerah Mungkid, Magelang. Tepatnya di Dusun Blambangan, Mungkid, Magelang sampai di depan Pabrik Kertas Blabak. Di tempat ini jalur rel kereta api tersebut masih kelihatan relatif utuh sekalipun di beberapa bagian juga telah tenggelam di dalam tanah atau di bawah bangunan.

Jika dihitung secara kasar jalur rel Yogyakarta-Semarang ini memiliki panjang sekitar 110 kilometer (sesuai dengan jarak antara Yogyakarta-Semarang). Jika pembangunan rel kereta api ini membutuhkan biaya sekitar 5 milyar rupiah per kilometernya, maka biaya pembangunan jalur rel kereta api yang menghubungkan kota pedalaman Yogyakarta dan kota pelabuhan Semarang ini paling tidak membutuhkan biaya sebesar 550 milyar rupiah. Sebuah biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan pembangunan jalan raya yang konon membutuhkan dana 30 milyar rupiah per kilometernya.

Tembi sempat berpikir atau berandai-andai, bilamana besi rel di dalam tanah itu diambil dan kemudian dijual, berapa kira-kira nilai rupiahnya. Pada saat sekarang, dimana harga logam naik tajam seiring melemahnya nilai rupiah dan melonjaknya semua harga komoditas, maka dapat dibayangkan sendiri berapa nilai rupiah yang bisa diraup jika besi atau logam rel yang berada di dalam tanah itu dibongkar dan djiual kepada tukang rosok. Bayangkan sendiri seberapa berat logam rel besi sepanjang 110-an kilometer dikalikan dua ditambah sekian ribu potong skrup, besi bantalan rel, dan sebagainya yang menjadi pelengkap komponen rel.

Sesungguhnya angkutan umum berupa kereta api memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan angkutan umum lain seperti mobil, bus, dan sebagainya. Kita bisa mengambil contoh bahwa kereta api Jabotabek dalam seharinya bisa mengangkut 500.000 orang penumpang. Dengan kereta api pula sebenarnya kepadatan lalu lintas jalan raya bisa dikurangi. Angkutan kereta api juga bisa lebih menghemat ruang, hemat energi, dan relatif ramah lingkungan. Sayangnya, kesadaran kita untuk menggunakan jenis angkutan ini justru minim. Lihat saja sekarang, jalan-jalan raya demikian padat kendaraan. Polusi, kebisingan, pemborosan bahan bakar, dan bahkan egoisme seperti tertumpahkan di jalanan.

Begitulah yang terjadi. Apa boleh buat, kita tidak bisa lagi menikmati perjalanan dari Yogyakarta ke Semarang atau sebaliknya dengan menggunakan kereta api. Rel kereta api yang menghubungkan kedua wilayah itu telah ditenggelamkan ke dalam tanah. Lenyap sudah penggal sejarah perkeretaapian Yogyakarta-Semarang. Kini, jika kita bepergian ke Yogyakarta-Semarang kita tinggal berebut, berdesakan, saling menyalip, dan tegang di sepanjang perjalanan jalan raya sambil menghirup polutan yang kental. Kita tidak bisa lagi berleha-leha dan berbincang-bincang di dalam gerbong kereta bersama keluarga, handai taulan, sesama penumpang sambil menikmati indahnya pemandangan berupa sawah, gunung, sungai, lembah, tegalan, dan sebagainya. Selamat tinggal kereta api Yogyakarta-Semarangku.

sartono




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta