Kisah di Balik Pintu dan Halaman Komunitas Seni Sakato

Pameran yang menghadirkan tajuk ‘Antara Pintu dan Halaman’ menyajikan kisah-kisah yang beragam, dan kita bisa mendengarnya tanpa perlu segera menyetujuinya. Setidaknya, mengakhiri tahun 2012, Komunitas Seni Sakato menutupnya dengan pameran seni rupa yang memiliki kisah.

Salah satu karya seni rupa yang dipamerkan oleh Komunitas Seni Sakato di Sangkring, Foto: Sangkring
Behind karya Yulhendri

Sebelum tahun 2012 usai, pameran seni rupa dengan tajuk ‘Antara Pintu dan Halaman’ yang diselenggarakan di ruang pameran Sangkring Art Project, Kampung Nitiprayan, Yogyakarta, telah lebih dulu ditutup, pada 28 Desember. Tampaknya, pameran ini sekaligus untuk menutup tahun 2012. Pameran ini merupakan seri Bakaba #2, yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Sakato, yang terdiri dari warga Sumatra Barat atau Padang yang ada di Yogya. Anggota komunitas ini berjumlah sekitar 200 orang.

Pameran seni rupa Komunitas Seni Sakato, sudah dua kali diselenggarakan. Yang pertama dilakukan tahun 2010 di Jogja Nasional Museum, dengan tema yang sama, yakni ‘Bakaba’. Sebagai satu bentuk pertunjukan berkisah, Bakaba untuk edisi kedua diberi tajuk ‘Antara Pintu dan Halaman’ sebagai ‘ruang kisah’ dari karya seni rupa yang dipamerkan.

Tentu, kisah yang disampaikan bermacam-macam. Memasuki ruang pameran di Sangkring Art Project di lantai bawah atau lantai atas, kita seperti sedang ‘mendengarkan’ kisah yang disampaikan oleh para perupa dari Komunitas Seni Sakato. Karena setiap perupa memberikan kisahnya sendri, sehingga kita bisa ‘mendengar’ banyak kisah, bahkan seperti terasa bising. Kisah-kisah, yang utama langsung menunjuk pandangan mata dengan karya visualnya, tetapi di tubuh karya menyimpan cerita, yang terkadang sulit sekali dimengerti maknanya.

Kisah-kisah itu menyebar di “antara pintu dan halaman’ sehingga siapa saja bisa mendengarnya. Setidaknya, siapa saja yang memasuki halaman seni rupa. Hanya saja, kisah yang bergulir, masing-masing tidak saling berinteraksi, bahkan bisa dikatakan masing-masing karya berkisah mengenai hal-hal yang hanya bersifat kesan, setidaknya seperti karya yang berjudul ‘Sun Flower and November Rain’. Dari judulnya saja, kita sudah bisa tahu, bahwa kesan yang sedang dikisahkan.

Komunitas Seni Sakato menyelenggarakan pameran di Sangkring, Foto: Sangkring
Penonton menikmati suasana pameran

Namun kita bisa mendengar kisah mengenai bangunan rumah khas dari Sumatra Barat, yang dikenal dengan nama Minangkabau. Lukisan karya David Army Putra diberi judul ‘Text, Tour. Story’. Lukisan dengan ukuran 150 x 200 cm ini memang memberikan kisah mengenai alam dan estetika kultural di Sumatra Barat. Bangunan rumah Minangkabau hanyalah salah satu yang divisualkan. Karena pada kanvas David, terdapat pula kapal dan tempat istirahat di tepi pantai.

Atau kisah yang lain lagi, yang tak bersentuhan langsung dengan alam Sumatra, tetapi tidak bisa dilepaskan dari kisah persoalan sosial di Indonesia. ‘Behind’ demikian judul seni patung karya Yulhendri, dengan ukuran 160 x 60 x 110 cm. Sosok seorang laki-laki, telanjang, lehernya dibelit dasi warna merah dan putih. Duduk di atas kursi dengan satu kaki di atas paha. Mengenakan sepatu kulit.

Kisah seperti yang disampaikan Yulhendri di ‘antara pintu dan halaman’ memberikan bobot tersendiri pada kisah-kisah lain, yang dituturkan masing-masing perupa. Karena, kebanyakan kisah yang digulirkan adalah kisah-kisah imajinatif, atau kisah yang hanya menyentuh kesan belaka.

Selain, ‘Behind’ yang memberi bobot sosial, ada kisah lain yang disampaikan Refijon, dengan judul lukisan ‘Hutanku # 7”. Lukisan berukuran 140 x 100 cm ini menyajikan visual bangunan-bangunan dari kayu yang menyerupai hutan di Sumatra. Karena bangunan tidak disertai dedaunan sehingga terasa sekali bahwa kisah yang disampaikan mengenai hutan gundul. Kiranya kita tahu, bahwa persoalan illegal logging di Sumatra seringkali kita dengar dan melalui karya seni rupa Refijon kembali mengkisahkan hal tersebut. Sebagai perupa, Refijon, agaknya, tidak melupakan persoalan yang ada di sekitar hidupnya, lebih-lebih di tengah alam di mana dia dilahirkan.

Kisah mengenai alam Minangkabau dalam karya seni rupa yang dipamerkan di Sangkring, Foto: Sangkring
Text, Tour, Story karya David Army Putra

Pameran yang menghadirkan tajuk ‘Antara Pintu dan Halaman’ menyajikan kisah-kisah yang beragam, dan kita bisa mendengarnya tanpa perlu segera menyetujuinya. Setidaknya, mengakhiri tahun 2012, Komunitas Seni Sakato menutupnya dengan pameran seni rupa yang memiliki kisah.

Ons Untoro

Artikel Lainnya :


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta