Mimpi Realis Para Perupa DIY

Sejumlah seniman DIY berpameran bersama di Tembi Rumah Budaya pada 2 – 9 November ini. Hampir semua karya yang ditampilkan merupakan refleksi dari sikap kritis mereka. “Samudera darah tak mampu menyembunyikan kebenaran!”

Sriyadi, Widayat, Affandi, Nasirun, Sudjojono, Kelompok DIY, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Karya pensil Sriyadi berjudul ‘Shining’ berukuran 107 x 87 cm

Wajah Widayat, Affandi, Nasirun dan Sudjojono memancarkan kharismanya di angkasa. Sriyadi terkesima memandangnya, tampak tersilaukan oleh cahaya yang berpendar memancar. Karya berjudul ‘Shinning’ ciptaan Sriyadi ini memesona pengunjung pameran kelompok DIY di Tembi Rumah Budaya.

Karya ini dibuat dengan menggunakan pensil di atas kertas berukuran 107 x 87 cm. Rapi dan detil. “Saya mengerjakannya satu bulan lebih,” kata Sriyadi. Satu bulan yang dimaksud Sriyadi adalah setiap hari penuh ia fokus mengerjakan karya ini. Hasilnya memang memancing decak kagum.

Tiga karya lain sarjana filsafat UGM ini juga dibuat dengan pensil di atas kertas.Semuanya realis dengan ekspresi yang hidup, berangkat dari self portrait. Sriyadi, yang punya nama panggilan Srinthil, sudah lama memakai pensil, lantas vakum, berganti dengan cat minyak. Sejak Juni lalu, ia kembali bertekun dengan pensil.

Peristiwa 1965, Didot Klasta Harimurti, Sri Wahyuningsih, Kelompok DIY, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Karya Didot berupa kotak hitam tentang peristiwa 1965 dan karya Wahyuningsih
berupa bantal bahwa manusia bukan sekadar angka

Dalam pameran yang bertajuk ‘Dream Is on Your hand’ ini, ‘Shining’ agaknya mencerminkan mimpi Sriyadi dalam dunia seni rupa. Tokoh-tokoh fenomenal dan legendaris yang digambarnya seakan menjadi pembuat jejak yang pantas diteladani, setidaknya menjadi sumber inspirasi. Di karyanya yang lain, ‘Mr. Oink’, Sriyadi menampilkan wajah dirinya bersama wajah babi, yang merupakan pengingat agar manusia menahan diri dari nafsu ketamakannya.

Seniman lain yang ikut berpameran adalah Irwan Guntarto, Iskandar Syaifudin, Sahanuddin “Hamzrut” Hamzah, Sri Wahyuningsih dan Didot “Klasta” Harimurti. Para seniman tersebut berlatar pendidikan seni rupa ISI Yogyakarta dan filsafat UGM.

Mereka juga memiliki mimpinya masing-masing. Mimpi-mimpi mereka senantiasa melibatkan tantangan di dalamnya. Tidak selalu sarat kesenangan meski mengandung harapan. Lukisan Sri Wahyuningsih, ‘Dream is on your hand’, menampilkan siswa SD yang komplit berseragam memandang menerawang. Ada wajah Wiji Thukul yang sedang memandanginya, dalam sapuan warna biru yang juga merupakan warna latar. Thukul, aktivis kemanusiaan yang raib diculik itu, seakan berkata bahwa ia telah berjuang untuk mimpinya. Kini tinggal bagaimana generasi sekarang mewujudkan mimpinya.

Iskandar Syaifudin, Kelompok DIY, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Pengunjung menikmati karya Iskandar tentang sampah tustel
yang melihat peristiwa dengan beragam ideologi dan isme-isme yang dipilihnya

Hamzah menampilkan semangat pluralitas melalui telapak tangan dalam dua panel lukisan hitam putih. Didot mengajak kita berinstropeksi melalui kotak hitam bertuliskan 65. Ketika kotak ini dibuka terdapat kotak hitam lain yang ketika dibuka juga terdapat kotak hitam lain, sampai akhirnya di kotak terakhir terdapat cermin di alasnya. Sebuah refleksi keprihatinan atas peristiwa pembantaian 1965 untuk memandang ke depan.

Kurator pameran Syamsul Barry memandang karya-karya mereka hampir semuanya terbangun dari sikap kritis. “Sikap kritis ini tak sekadar sebagai kandungan karya, tetapi lebih pada kerangka persepsi dan praktik seni yang dilakukan mereka secara menyeluruh,” katanya.

Pameran yang berlangsung pada 2-9 November 2012 ini dibuka oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM Dr Mukhtasar Syamsuddin. Opening art menampilkan John Tobing dan Rudi Yesus, masing-masing memainkan gitar akustik dan membacakan puisi. John adalah pencipta “lagu kebangsaan” demontrasi mahasiswa pada tahun 1998 ‘Darah Juang’.

Irwan Guntarto, koruptor, Kelompok DIY, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
’Serupa Tapi Tak Sama’ karya Irwan Guntarto
merupakan kritik terhadap koruptor dan penjilat politik

Malam itu, John menyanyikan lagu-lagu balada yang dibawakan dengan penuh tenaga. Ia juga menampilkan lagu baru yang liriknya dibaca sambil bernyanyi, mengenai petani yang kehilangan tanahnya, yang bermimpi memiliki tanahnya kembali. Sedangkan penyair Rudi Yesus secara ekspresif mengangkat kondisi memprihatinkan kaum pekerja dan kaum marginal lainnya. “Samudera darah tak mampu menyembunyikan kebenaran!” teriaknya.

Pameran yuk ..!

barata.




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta