Kyai Slamet: Abdi Setia Sultan Agung

Kedekatan Kyai Slamet dengan kebo bule ini lama-kelamaan menyebabkan penyebutan nama kerbau tersebut sering dipersamakan dengan nama Kyai Slamet itu sendiri. Oleh karena itu, kerbau bule sebagai hewan kelangenan Sunan Paku Buwana I ini kemudian dinamakan Kyai Slamet.

nisan kyai slamet dan kyai mlati dalam satu lindungan pagar di luar kompleks pajimatan imogiri, foto: a.sartono
Nisan Kyai Slamet dan Kyai Mlati

Makam Kyai Slamet terletak di belakang kompleks makam raja-raja Mataram yang dikenal dengan nama Pajimatan Imogiri di Dusun Payaman, Kalurahan Girirejo, Kalurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY.

Lokasi makam ini dapat dicapai melalui Jalan Imogiri Barat atau Jalan Imogiri Timur ke selatan. Setelah sampai di Pasar Imogiri pengunjung dapat mengikuti jalan ke kiri (timur) menuju ke arah makam raja-raja Mataram. Lokasi makam ini berada di sisi selatan Yogya pada jarak sekitar 20 kilometer.

Makam Kyai Slamet, yang berada dalam satu pagar dengan makam Kyai Mlati, terletak di sisi belakang kompleks makam raja-raja Mataram. Tepatnya pada sisi belakang-selatan atau di belakang kompleks makam raja-raja dari Kasunanan Surakarta.

Kompleks makam Kyai Slamet dan Kyai Mlati diberi pengaman berupa pagar besi. Luas halaman makam sekitar 8 m x 3 m. Ketinggian pagar sekitar 1 m. Nisan makam Kyai Slamet memiliki ukuran panjang sekitar 130 cm, lebar 45 cm, dan tinggi sekitar 75 cm. Sementara nisan Kyai Mlati memiliki ukuran panjang sekitar 120 cm, lebar 40 cm, dan tinggi sekitar 60 cm.

Kyai Slamet diduga merupakan pekathik (tukang mencari rumput) bagi kerbau bule milik Sunan Paku Buwana I (1704-1719) yang bertahta di Kartasura. Kerbau bule milik Sunan Paku Buwana I ini pada awalnya dinamakan Kebo Danu.

nisan kyai mlati, sahabat kyai slamet di luar kompleks pajimatan imogiri, foto: a.sartono
Nisan Kyai Mlati, sahabat Kyai Slamet

Tidak ada penjelasan yang memuaskan mengapa kerbau berbulu atau berkulit putih ini kemudian menjadi hewan kesayangan, yang bahkan dipusakakan oleh Sunan Paku Buwana I dan generasi sesudahnya. Namun ada pendapat yang menyatakan bahwa kerbau bule memang dianggap sebagai kerbau yang bernilai tinggi dibandingkan kerbau biasa. Selain itu, hewan ternak ini juga dianggap sebagai salah simbol bahwa kerajaan di JawaTengah bagian selatan itu semula mendasarkan hidupnya pada bidang agraris. Kerbau adalah salah satu tanda atau simbol keagrarisan tersebut.

Versi lain lagi menyebutkan bahwa kerbau bule yang dinamakan Kyai Slamet mulai ada di Keraton Surakarta sejak Sunan Paku Buwana II (1727-1744) yang mula-mula bertahta di Kartasura dan kemudian berpindah ke Surakarta. Kerbau bule milik Sunan Paku Buwana II ini disebutkan merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo. Kerbau bule ini diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal/pembuka jalan) untuk kirab atau perarakan pusaka Keraton Surakarta yang dinamakan Kyai Slamet. Oleh karena dipakai untuk mengiringi kirab Kyai Slamet, maka kerbau bule tersebut kemudian juga dikenal dengan nama Kyai Slamet.

Kyai Slamet dan istri selaku pekathik ini dikenal begitu menyayangi binatang ternak yang menjadi tanggung jawabnya. Kedekatan Kyai Slamet dengan kebo bule ini lama-kelamaan menyebabkan penyebutan nama kerbau tersebut sering dipersamakan dengan nama Kyai Slamet itu sendiri. Oleh karena itu, kerbau bule sebagai hewan kelangenan Sunan Paku Buwana I ini kemudian dinamakan Kyai Slamet.

Sementara Kyai Mlati diduga merupakan sahabat Kyai Slamet yang membantu tugas-tugas dari Kyai Slamet. Baik Kyai Slamet maupun Kyai Mlati sendiri tidak pernah diketahui dengan jelas dan rinci tentang riwayat hidupnya secara keseluruhan.

nisan kyai slamet di luar kompleks pajimatan imogiri, foto: a.sartono
Nisan Kyai Slamet, sang jurupelihara kerbau bule

Oleh karena pengabdian Kyai Slamet dan Kyai Mlati dalam memelihara dan merawat kerbau bule tersebut, maka Kyai Slamet pun sangat dikasihi oleh Sunan Paku Buwana II. Ketika ia meninggal pun akhirnya dimakamkan di kompleks Pajimatan Imogiri, sekalipun berada di luar pagar kompleks makam raja-raja Mataram.

A. Sartono



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net - Rumah Sejarah dan Budaya


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta