Menjelajah ke Museum Radya Pustaka Surakarta (5)

Author:editorTembi / Date:07-05-2015 / Koleksi pertama yang bisa dilihat di museum ini adalah mata uang dari berbagai negara, seperti Belanda, Hongkong, Amerika, Kanada, India, Denmark, Afrika, Siam, dan lainnya, juga dari Indonesia sendiri, baik berupa uang logam (koin) maupun uang kertas. Selain itu juga dipajang koleksi mata uang koin kuno dari wilayah Nusantara dan penjajah, seperti dari Jawa dan VOC.

Museum Radya Pustaka Surakarta, Minggu 4 Januari 2015, sumber foto: Suwandi/Tembi
Koleksi uang logam

Ruangan terakhir yang digunakan untuk memajang koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta adalah ruangan yang berada di paling belakang dengan ukuran sekitar 8 meter x 8 meter. Di ruangan ini banyak disajikan jenis koleksi replika. Namun ada juga jenis koleksi asli, yang dalam ilmu permuseuman dimasukkan dalam kategori koleksi numismatika dan heraldika, yaitu koleksi jenis mata uang dan medali.

Koleksi pertama yang bisa dilihat di museum ini adalah mata uang dari berbagai negara, seperti Belanda, Hongkong, Amerika, Kanada, India, Denmark, Afrika, Siam, dan lainnya, juga dari Indonesia sendiri, baik berupa uang logam (koin) maupun uang kertas. Selain itu juga dipajang koleksi mata uang koin kuno dari wilayah Nusantara dan penjajah, seperti dari Jawa dan VOC. Koleksi mata uang logam kondisinya lebih awet jika dibandingkan dengan koleksi mata uang kertas yang sebagian kondisinya sudah mulai rusak, seperti gambar pudar atau kertasnya sobek. Sementara koleksi heraldika, satu di antaranya yang dipajang adalah lencana sekaten.

Museum Radya Pustaka Surakarta, Minggu 4 Januari 2015, sumber foto: Suwandi/Tembi
Koleksi uang kertas

Koleksi selanjutnya yang bisa dilihat adalah pakaian tradisional gaya Surakarta untuk laki-laki, khususnya dengan model beskap. Pada koleksi tersebut, jenis blangkon (penutup kepala) bagian belakang modelnya tipis, berbeda dengan gaya Yogyakarta, yang tampak mondolannya. Pada pakaian beskap sendiri, jika dilihat dengan seksama, maka untuk kancing baju berada di samping kiri. Sementara beskap model Yogyakarta kancing baju model beskap berada di posisi tengah. Untuk kain jarit, model pakaian tradisional Surakarta umumnya lebih berwarna coklat muda (lihat foto). Kain jarit Yogyakarta lebih ke warna gelap atau putih. Itu beberapa perbedaan pakaian tradisional laki-laki gaya Surakarta dan Yogyakarta yang biasanya mudah dikenali.

Museum Radya Pustaka Surakarta, Minggu 4 Januari 2015, sumber foto: Suwandi/Tembi
Koleksi pakaian adat model beskap gaya Surakarta

Koleksi unik dan menarik lainnya di museum ini adalah koleksi replika Panggung Sangga Buwana, yang merupakan ciri khas dari Keraton Kasunanan Surakarta. Menurut kepercayaan, seperti juga yang dideskripsikan di museum tersebut, bangunan ini digunakan untuk meditasi raja dan dipercaya sebagai tempat bertemunya raja Surakarta dengan Ratu Nyi Rara Kidul (penguasa Laut Selatan). Aslinya bangunan ini mempunyai ketinggian 30 meter dan bertingkat 4. Bentuknya segi delapan dengan atap model seperti kubah (mirip juga payung terbuka).

Museum Radya Pustaka Surakarta, Minggu 4 Januari 2015, sumber foto: Suwandi/Tembi
Replika bangunan panggung Sangga Buwana

Bangunan asli Panggung Sangga Buwana bisa dilihat di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Jika pengunjung berkunjung ke keraton tersebut, dari pelataran depan akan terlihat bangunan tersebut megah berdiri. Menurut berbagai sumber, Panggung Sangga Buwana didirikan oleh Sri Susuhunan Paku Buwana III pada tahun 1782 Masehi atau 1708 Jawa, dengan ditandai sengkalan “Naga Muluk Tinitihan Janma”. Pada koleksi replika di Museum Radya Pustaka, tinggi replika sekitar 1 meter dan diletakkan di vitrin dengan kaca tertutup.

(bersambung)

Ke museum yuk ..!

Naskah dan foto: Suwandi

Jaringan Museum

Latest News

  • 08-05-15

    Ruang Publik Kota Yo

    Sampah visual, kotor, macet, sumpeg menjadikan kota Yogyakarta kelihatan bodoh, padahal konsep ekspresi di ruang publik seharusnya selalu dapat... more »
  • 08-05-15

    Denmas Bekel 8 Mei 2

    more »
  • 07-05-15

    Menjelajah ke Museum

    Koleksi pertama yang bisa dilihat di museum ini adalah mata uang dari berbagai negara, seperti Belanda, Hongkong, Amerika, Kanada, India, Denmark,... more »
  • 07-05-15

    Misi Kaladuta II Mat

    Batavia tidak bisa dihancurkan oleh pasukan Mataram. Di pihak Mataram sendiri banyak jatuh korban karena penyakit malaria dan kolera. Selain itu,... more »
  • 06-05-15

    Inilah Rincian Ajara

    Ajaran Sunan Pakubuwana IV ini ditulis dalam huruf Jawa, yang diterbitkan oleh Kolff-Buning di Yogyakarta tahun 1937. Buku yang masih dalam kondisi... more »
  • 06-05-15

    Launching Antologi P

    Antologi puisi berjudul “Di antara Perempuan’ karya 7 penyair, yang terdiri dari 6 penyair perempuan dan 1 penyair pria, akan di-launching dalam... more »
  • 05-05-15

    Istilah Pendok dalam

    Pendok sebagai lapisan pelindung sekaligus penghias gandar warangka keris, menurut bentuknya dibedakan menjadi empat jenis, yaitu: pendok bunton,... more »
  • 05-05-15

    Forum mBulaksumuran

    Setiap 30 April ketika Umar Kayam masih hidup, selalu ada peringatan hari lahirnya. Untuk mengenang Umar Kayam, 30 April 2015, diluncurkan satu forum... more »
  • 04-05-15

    Pasinaon Basa Jawa K

    Di bawah ini contoh penerapan kata pada tataran bahasa Jawa saat ini, dengan keterangan: n = singkatan dari bahasa ngoko, na = bahasa ngoko halus, k... more »
  • 04-05-15

    Buku Tentang Seluk B

    Buku ini mengupas berbagai hal tentang dukun. Cara-cara atau ritual yang harus dijalani sebelum menjadi dukun, mantera-mantera yang digunakan,... more »