Tembi

Yogyakarta-yogyamu»KOTAGEDE, PUSAT PERAK DI YOGYAKARTA

01 Jan 2008 06:45:00

Yogyamu

KOTAGEDE: PUSAT PERAK DI YOGYAKARTA

Kotagede identik dengan perak. Tidak aneh jika ada semacam motto yang berbunyi Kotagede Kota Perak. Tidak diketahui dengan pasti kapan citra perak ini melambung dan kemudian menjadi identik dengan nama Kotagede itu sendiri. Dugaan kuat muncul bahwa urusan kerajinan perak di Kotagede ini muncul seiring dengan muncul atau tumbuhnya Keraton Mataram Islam (pada sekitar awal abad 17). Kemunculannya semula hanya untuk memenuhi kebutuhan keraton (raja dan keluarganya). Akan tetapi pada perkembangannya, banyak juga masyarakat umum yang membutuhkannya sehingga produk kerajinan para pengrajin mulai tersebar ke luar lingkup keraton. Bahkan diduga kuat masuknya orang-orang Belanda (Kumpeni) ke wilayah kekuasaan Mataram juga ikut menyemarakkan pertumbuhan kerajinan perak di Kotagede kala itu.

Semula Kotagede terkenal dengan kerajinan emas, perak, dan kuningan. Akan tetapi lambat laun yang paling menonjol justru kerajinan peraknya. Tidak ada alasan yang mampu menjelaskan perihal itu dengan gambling. Dugaan yang muncul umumnya didasarkan pada spekulasi bahwa bahan baku emas lebih mahal demikian juga harga jualnya sehingga peminatnya relatif sedikit. Demikian pula halnya dengan kuningan.

Banyak sumber menyebut-nyebut bahwa zaman keemasan kerajinan perak di Kotagede terjadi pada kisaran tahun 1970-1980-an. Disebutkan juga bahwa sebelum tahun 1990-an hanya showroom besar saja kelihatan mendominasi area pajang (toko) di Kawasan Kotagede. Akan tetapi setelah tahun-tahun itu banyak juga showroom atau toko-toko yang berskala kecil yang ikut memajang/menjual hasil kerajinan secara langsung.

Kerajinan perak di Kotagede sesungguhnya dapat ditemukan pada hampir semua tempat di wilayah itu. Hanya saja sentra-sentra showroom-nya lebih berpusat di pinggir-pinggir jalan seperti Jl. Tegalgendu, Jl. Mandarakan, dan Jl. Kemasan. Pada ketiga ruas jalan ini orang dapat memuaskan diri untuk melihat-melihat aneka macam model dan bentuk kerajinan perak dari hampir seratusan toko atau showroom. Mulai dari cincin, kalung, anting-anting, giwang, gelang, liontin, bros, miniatur binatang, miniatur sepeda, miniatur andong, miniatur perahu, miniatur gerobak, dan sebagainya.

Bagi orang yang berminat, mereka tinggal memilih aneka macam kerajinan perak itu sesuai dengan seleranya. Harga dari masing-masing perhiasan itu kecuali tergantung dari beratnya juga tergantung juga dari tingkat kerumitan pengerjaannya. Semakin berat tentu semakin mahal. Semakin rumit juga semakin mahal. Harganya bisa mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Pada 22 Agustus 2008 Tembi berkesempatan berkeliling di kawasan Kotagede. Tembi sempat singgah di Toko Perak milik Purwanto (32) yang terletak di Jalan Kemasan. Di tempat ini Tembi disambut dengan ramah dan senyum lebar. Ketika Tembi (hanya) melihat-lihat pun Purwanto beserta karyawan-karyawannya melayani dengan keramahan yang menyenangkan.

Purwanto sendiri mengawali usaha perperakan ini sejak sekitar tahun 2002-an. Selama berkecimpung di dunia itu telah banyak pahit getir ia alami. Akan tetapi bagi Purwanto, segala persoalan yang dihadapi itu baginya merupakan tantangan. Jika tidak ada tantangan, justru tidak ada kegairahan. Demikian tutur Purwanto dengan tersenyum. Justru ketika kita bisa mengatasi masalah, kita akan menemukan kebahagiaan, kreativitas, dan kegairahan baru. Tempat usaha kerajinan perak milik Purwanto ini mampu menyerap 10 orang karyawan. Penghasilannya di saat yang paling sepi sekitar 5 juta rupiah sebulan. Akan tetapi di saat ramai, yakni pada masa-masa liburan sekolah hasilnya bisa mencapai 18 jutaan sebulan.

Menurut Purwanto, dunia kerajinan perak di Kotagede sampai saat ini menghadapi beberapa persoalan. Misalnya, hampir 70 % pengrajinnya tinggal di wilayah Bantul sementara 80 % pedagang atau alamat tokonya berada di wilayah Yogyakarta. Selain itu pasokan bahan baku perak juga tidak mudah karena harganya terus mengalami kenaikan. Ditambah lagi peristiwa gempa 27 Mei 2006 turut mematikan sebagian kegiatan produksi perak di samping juga menurunkan omset penjualannya. Tidak mengherankan jika banyak pengrajin yang kemudian beralih profesi.

Sekalipun demikian, dunia perperakan di Kotagede kini mulai bangkit dan bergairah kembali. Bagi Anda penggemar perhiasan, sekali-sekali boleh juga datang di Kotagede memburu kerajinan perak dengan berbagai produknya. Boleh dipastikan, Anda pasti akan tertarik. Tertarik oleh ragam keindahannya maupun harganya yang berani bersaing. Bahkan di sana-sini ditawarkan diskon yang sangat menarik.

Bicara perak, ya Kotagede ! Demikian barangkali ungkapan yang sering dilontarkan oleh wong Yogya jika sudah bicara tentang perak.

foto dan teks: a sartono




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta