'Sarongge' Kisah Hutan, Manusia dan Cinta

Sebuah novel yang membawa pesan advokasi penyelamatan Bumi, sekaligus manusia, dengan bumbu cinta sepasang manusia.

Novel ‘Sarongge’ karya Tosca Santosa, diterbitkan penerbit Dian Rakyat”, Foto: Ons Untoro
Novel karya Tosca Santosa

Diskusi novel tidak selalu harus di ruang diskusi, atau di kampus-kampus, di kafe pun jadi. Setidaknya seperti diskusi novel ‘Sarongge’ karya Tosca Santosa, Sabtu sore, 3 November 2012, yang mengambil satu ruang di Waterbank Café, Jl. Sartika 18, Sagan, Yogyakarta.

Diskusi menghadirkan tiga pembicara, selain penulis novel ‘Sarongge’ Tosca Santosa, Suparlan, ketua Walhi DIY dan Ons Untoro, penggiat budaya. Anak-anak muda yang hadir, ada beberapa aktivis lingkungan, dan pembaca sastra.

Saronge adalah cerita hutan, manusia dan cintanya. Kisah tentang upaya merawat bumi dan menjaganya dari kehancuran akibat keserakahan. Sebab hutan yang punah tak pernah hilang sendirian. Ia menjadi awal punahnya makhluk-makhluk lain, termasuk manusia.

Karen dan Husin, tokoh dalam cerita ini, teguh memilih berjuang bersama mereka yang kalah dan dipinggirkan. Sepenuh hati, mereka curahkan cinta untuk Bumi.

“Jadi, sesungguhnya, membaca Sarongge adalah membaca persoalan hutan dan lingkungan di Indonesia,” kata Ons Untoro.

Tosca Satoso bilang, merawat Bumi sebenarnya bukan sekadar merawat tanaman, hutan dan lingkungan melainkan yang lebih penting adalah merawat kesejahteraan rakyat. Tosca selalu mengatakan, setidaknya seperti yang dia sampaikan dalam diskusi, bahwa dengan merawat tumbuhan secara baik dan tumbuhan bertumbuh dengan subur, artinya kita telah merawat kesejahteraan bersama.

Dari sisi lingkungan, Suparlan melihat novel ‘Sarongge’ ini sedang melakukan advokasi lingkungan. “Penghijauan di Sarongge bukan hanya untuk Sarongge, melainkan lingkungan yang mengitari, mendapatkan keuntungan dari penghijauan itu,” kata Suparlan.

Novel ini dari awal sampai akhir bercerita mengenai bermacam tumbuhan diceritakan, yang didalamnya diberi bumbu kisah percintaan antara Husin dan Karen. Ada tumbuhan yang bisa untuk mengobati penyakit, meski tumbuhan itu sekarang sulit ditemukan. Tapi pada masa lalu, di tepi sawah/galengan, tumbuhan yang dikenal dengan nama ‘ceplukan’ itu sangat mudah didapat.

Tosca Santosa dalam novelnya menguraikan, Cecenet, atau ceplukan, nama latinnya Physalis angulata. Ia satu varian dari Physalis peruvian. Kata pertama berasal dari bahasa Yunani, physal yang berarti kantong, atau tameng. Ini merujuk pada buah cecenet yang sebelum matang selalu terbungkus kantong nan rapi. Kantong itu mengelupas, ketika buah cecenet menjadi semakin matang. Sedangkan kata Peruvian, menjelaskan asal buah ini, yang dipercaya dari Peru, Amerika Latin.

Tosca Santosa, Suparlan, ketua Walhi DIY dan Ons Untoro, berbincang mengenai novel Saronge di Waterbang Café, Jl. Sartika 18, Sagan, Yogyakarta Foto: Boen Mada
Tiga pembicara dalam diskusi novel ‘Sarongge’
(dari kiri): Ketua Walhi DIY Suparlan, Tosca Santosa sang penulis novel,
dan Ons Untoro, penggiat budaya

“Di Amerika Latin, sudah jadi tanaman bernilai tinggi. Bahkan jadi sumber devisa. Beberapa toko buah segar yang menyasar kalangan menengah-atas Jakarta, tampak juga menjual cecenet. Sayangnya tak ada yang dipasok dari Sarongge. Semuanya impor dari Amerika Latin atau mungkin Afrika Selatan,” kata Tosca Santosa.

Menyangkut tumbuhan cecenet atau ceplukan ini, Tosca Santosa menjelaskan, bahwa dari penelitian terbaru menunjukan, buah ini mengandung zat antioksidan dosis tinggi. Ia berguna untuk mengobati kanker dan paru-paru, diabetes mellitus dan juga mencegah hepatitis.

“Secara tradisional, buah cecenet sudah dimanfaatkan orang untuk mengurangi pegal linu. Maka cukup mengherankan kalau petani Sarongge masih menganggap cecenet sebagai tumbuhan tak berharga. Mereka belum melihat peluang buah ini dipasarkan. Atau, kalaupun pernah dengar, tak ada yang mau ambil risiko memulai,” ujar Tosca Santosa.

Ayu Utami, sahabat dekat Tosca Santosa, yang memberi pengantar untuk novel ‘Sarongge’ ini menuliskan kesannya:

“Buku ini mengandung banyak ide dan ideal, mengenai perjuangan dan manusia. Ke-gentle-an Husin, sekalipun dalam kenyataannya sangat sulit ditemukan di kalangan lelaki tradisional-agraris, toh konsisten dengan posisinya sebagai penjaga dan perawat domestik. Keberanian Karen yang menakjubkan pun harus ditebus dengan keterpisahan, apapun bentuknya. Husin adalah pahlawan keluarga. Karen adalah pahlawan ide-ide besar. Dan keduanya sama penting. Itu barangkali salah satu pesan yang ada dalam buku ini, sekaligus ideal yang dijunjung pengarangnya dalam kehidupannya”.

Suparlan, ketua Walhi DIY, mengakhiri diskusi novel Saronge mengatakan: ‘Kita memang perlu membuka banyak ruang ekspresi untuk melakukan advokasi. Karena bentuk ekspresi tidak hanya berupa demonstrasi, tetapi bisa melalui karya sastra, seperti novel karya Tosca Santosa ini”.

Ons Untoro

Artikel Lainnya :


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta