Ki Bayu Gupito Aji Nugroho, Dalang Muda Potensial

12 Oct 2015

Setiap kali mendapat kesempatan mendalang, mahasiswa tingkat akhir di ISI ini mengajak anak-anak muda untuk bersama-sama, bahu membahu melestarikan kesenian milik sendiri.

Ki Bayu Gupito Aji Nugroho, adalah dalang muda, yang dilahirkan dari pasangan Bambang Suroso dan Dwi Amiarsi Ambarwati, pada 27 Mei 1993. Dalang yang tinggal di Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping Sleman, Yogyakarta, itu adalah sedikit dari anak muda yang senang menggeluti seni tradisi, khususnya seni pakeliran pedalangan wayang kulit purwa.

Sejak kecil ia sudah menyenangi kesenian tradisi, namun baru pada tahun 2008, setelah bersekolah di SMKI Yogyakarta, ia mulai belajar seni pedalangan dengan intensif. Masuknya Bayu di SMKI sebetulnya tidak ‘njarag’ karena pada mulanya selepas lulus dari SMP ia ingin masuk STM, namun karena saran dari Pak Totok, saudaranya selaku dewan sekolah SMKI, akhirnya Bayu lebih memilih SMKI dibanding dengan STM.

Setelah menamatkan studinya di SMKI, atau SMKN1 Kasihan Bantul Yogyakarta, minatnya sebagai dalang pun semakin kuat. Cucu dari Ki Basiroen Hadi Sumarto tersebut meneruskan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Pedalangan, hingga tahun 2015. Selama di ISI, Bayu mendapat banyak ilmu pakeliran pedalangan dari para cerdik pandai serta para praktisi, baik dari lingkungan kampus maupun dalam pergaulannya di luar kampus.

Sebagai anak muda, Ki Bayu Gupito merasa prihatin melihat anak-anak muda sebayanya justru telah meninggalkan budaya sendiri, padahal mereka belum mempunyai pegangan budaya baru, sehingga bisanya hanya ikut-ikutan ‘rubuh-rubuh gedhang’ terpengaruh budaya mancanegara yang banyak pengikutnya. Bahkan tidak sedikit anak muda yang terjerumus ke hal-hal kriminal karena sudah kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam seni tradisi.

Oleh karenanya, setiap kali mendapat kesempatan mendalang, mahasiswa tingkat akhir di ISI ini mengajak anak-anak muda untuk bersama-sama, bahu membahu melestarikan kesenian milik sendiri. Diharapkan dengan demikian akan muncul aktor-aktor muda berkualitas di bidang seni tradisi, untuk menghidupi, mengawal serta mencintai kesenian tinggalan leluhur, khususnya wayang kulit.

Demi mematangkan ilmu serta keterampilan mendalang, Ki Bayu tidak fanatik pada salah satu gaya saja. Ia ingin memperkaya kemampuannya dalam mendalang dengan menyerap berbagai macam gaya pakeliran dari para dalang senior di berbagai daerah. Ketika ditanya siapakah dalang idolanya, Ki Bayu menuturkan bahwa untuk sastra, antawecana serta dramatiknya ia menyebut Ki Edi Suwondo dari Sleman. Sedangkan nama Ki Seno Nugroho ia akui sebagai dalang yang komunikatif.

Dengan semangat yang dibangun itulah, hingga saat ini Ki Bayu Gupito Aji Nugroho sudah mendapat kesempatan mendalang wayang kulit sebanyak 14 kali. Pentas yang ke-14 ini dilaksanankan pada 25 September 2015 di Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan lakon “Bale Sigala-gala”. Pentas tersebut terselenggara atas kerjasama antara Dinas Kebudayaan provinsi dengan Paguyuban Dalang Muda Sukrokasih serta didukung oleh Yogya TV dan MBS FM. Program rutin setiap Sabtu terakhir pada setiap bulan tersebut masuk dalam program Pengembangan Nilai Budaya, untuk melestarikan, serta mengaplikasikan budaya luhur di masyarakat.

Naskah dan Foto: Herjaka HS

Ki Bayu Gupito Aji Nugroho, tinggal di Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping Sleman, Yogyakarta, foto: Herjaka HS Ki Bayu Gupito Aji Nugroho, tinggal di Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping Sleman, Yogyakarta, foto: Herjaka HS Ki Bayu Gupito Aji Nugroho, tinggal di Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping Sleman, Yogyakarta, foto: Herjaka HS Ki Bayu Gupito Aji Nugroho, tinggal di Gamping Tengah, Ambarketawang, Gamping Sleman, Yogyakarta, foto: Herjaka HS PROFIL

Baca Juga

Artikel Terbaru

  • 17-10-15

    Roro Mendut, Ketangg

    Sanggar seni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengangkat kisah Roro Mendut dimaksudkan untuk menyampaikan pesan kepada anak muda agar memiliki... more »
  • 17-10-15

    Tari Edan-edanan Mus

    Tari Edan-edanan itu mengiringi penampilan “Loro Bonyo”, sepasang pangantin yang naik andong. Sepasang pengantin yang mengenakan busana pengantin... more »
  • 17-10-15

    Minggu Kliwon Hari B

    Penghitungan hari jenis ini disebut perhitungan Panca Suda, yang menentukan risiko baik atau buruk dari arah kita bepergian. Minggu Kliwon, 18... more »
  • 17-10-15

    Sapa Serakah Ora Ber

    Pepatah ini menjadi semacam peringatan akan perilaku, niatan, tindakan, dan perbuatan orang supaya tidak serakah karena keserakahan tidak akan... more »
  • 16-10-15

    Kisah Kelahiran Dasa

    Dengan membaca cerita dalam buku ini kita akan lebih mengetahui pedalangan gaya Jawa Timuran dan perbedaannya dengan gaya daerah lain. Judul :... more »
  • 16-10-15

    Wanto Tirta Penyair

    Selain menulis puisi Wanto juga menulis geguritan, yaitu puisi bahasa Jawa. Jadi, dia penyair sekaligus penggurit. Tapi, agaknya, ia lebih tekun... more »
  • 16-10-15

    Wayang Bocor Tawarka

    Jangan bayangkan bentuk wayang kulit tradisional Jawa dengan segala bentuk lekuknya, pada pertunjukan Wayang Bocor. Di tangan Eko Nugroho bentuk... more »
  • 15-10-15

    Pohon Lontar Yang Mu

    Manfaat pohon lontar di samping dapat disadap niranya untuk bahan pembuatan gula dan tuak, buah mudanya pun enak disantap, campuran minuman, dan lain... more »
  • 15-10-15

    Pelajar Global Schoo

    Ada beberapa kegiatan budaya yang mereka praktekkan secara langsung, baik di lahan terbuka maupun di dalam ruangan. Praktek di lahan terbuka berupa “... more »
  • 13-10-15

    Buku Lawas Tentang K

    Ini tergolong naskah kuno, terbitan Kolf Buning, 1929. Buku yang menjadi koleksi Perpustakaan Tembi ini berisi tentang gugurnya raja Bukbis (salah... more »