Tembi

Yogyakarta-yogyamu»WISATA GUNUNG API PURBA NGLANGGERAN, PATUK, GUNUNG KIDUL, MENGGUNCANG ADRENALIN, MENGAGUMI KEAGUNGAN TUHAN

13 May 2009 12:04:00

Yogyamu

WISATA GUNUNG API PURBA NGLANGGERAN,
PATUK, GUNUNG KIDUL:
MENGGUNCANG ADRENALIN, MENGAGUMI KEAGUNGAN TUHAN
(3)

Bukit-bukit Nglanggeran juga dapat didaki melalui jalan atau pintu wisata yang terletak di Dusun Nglanggeran Wetan. Rute dari dusun ini ada dua. Satu di sisi selatan. Satu lagi di sisi utara. Rute utara ini memiliki pintu masuk di sisi sendang atau sumber air yang dinamakan Sumber Kalisong. Di depan sumber air Kalisong ini terdapat pendapa tempat peristirahatan para wisatawan atau pengunjung Nglanggeran. Di dalam pendapa ini pula terdapat poster yang berisi foto-foto seputar Bukit Nglanggeran beserta beberapa keterangan singkatnya.

Di sisi utara pendapa ini terdapat sumber air yang disebut Sumber Kalisong. Sumber air ini menjadi salah satu sumber air yang diandalkan oleh masyarakat sekitar. Baik itu untuk keperluan MCK, memasak, minum, maupun untuk oncoran pertanian di wilayah sekitar Nglanggeran. Dari atas sumber air inilah jalan setapak menuju puncak-puncak perbukitan Nglanggeran dimulai. Jangan dulu merasa gembira karena jalan setapak untuk mendaki puncak-puncak bukit Nglanggeran ini tidak seperti yang kita kenal. Jalan setapak di tempat ini nyaris tidak tampak juga karena jalan setapak tersebut kebanyakan tertutup rumput atau semak. Selain itu tanah di jalan setapak itu juga banyak yang tergerus oleh arus air hujan sehingga jalan tanah yang benar-benar hanya selebar telapak kaki itu tidak kelihatan sebagai jalan.

Tembi pada hari lain berkesempatan mendaki bukit-bukit Nglanggeran melalui rute wisata ini. Medannya memang tidak sesulit rute Terbah-Nglanggeran. Namun tetap menantang juga. Lebih-lebih kali ini Tembi mendaki seorang diri. Tanpa teman, tanpa pemandu. Beberapa kali Tembi tersesat jalan karena jalan setapaknya memang tidak begitu kentara. Selain itu jalan setapak yang dibuat oleh penduduk setempat sering hilang dari pandangan mata karena tiba-tiba jalan setapak tersebut terputus oleh adanya gundukan batu besar atau bahkan gundukan bukit.

Gundukan batu besar atau bukit yang memotong dan menutup kenampakan jalan setapak itu tidak bisa dilalui begitu saja. Bukit atau gundukan batu itu harus didaki atau kita terpaksa berjalan menyisi dengan cara merayap-menempel di dinding batu. Kalaupun kita terpaksa mendaki bukit batu tersebut kita juga harus melakukannya dengan merayap karena sudut kemiringan dindingnya yang tidak memungkinkan kita dapat melaluinya dengan tubuh tegak.

Rute ini pun tidak kalah menariknya dengan rute Terbah-Nglanggeran. Pemandangan perbukitan Nglanggeran yang sangat indah juga dapat dinikmati dari rute ini. Secara keseluruhan pemandangan yang kita dapatkan di rute wisata ini berbeda dengan rute Terbah-Nglanggeran. Akan tetapi sama-sama indah dan mengesankan. Pada rute ini Tembi tidak berjumpa dengan monyet, ayam alas, kijang, atau elang. Tembi hanya berjumpa dengan belalang berwarna biru kehijauan dengan bintik-bintik kuning di sekujur tubuhnya. Belalang semacam ini seperti menjadi penghuni tetap perbukitan Nglanggeran karena belalang jenis itu banyak ditemukan di lokasi. Menurut penduduk setempat belalang jenis itu bisa menimbulkan alergi bila bersentuhan dengan kulit manusia. Untuk itu Tembi tidak berani menyentuhnya.

Selain itu, Tembi sempat tersengat gelugut atau miang dari pohon jelateng. Jangan ditanya, gatal dan panasnya luar biasa !! Pada jalur ini selain Tembi menemukan hal-hal tersebut Tembi tidak menemukan pandan hutan seperti di rute Terbah-Nglanggeran. Rempuni, jamblang memang bisa juga ditemukan di jalur ini. Namun nanas hutan tidak sempat ditemukan Tembi. Pada jalur ini Tembi juga menemukan beberapa bekas bungkus makanan kemasan. Dengan begitu dapat diduga bahwa jalur ini relatif banyak dilalui orang.

Pada rute ini Tembi juga sempat memasuki lorong sempit di antara dua dinding bukit batu. Lorong sempit ini bisa dilalui dengan memiringkan tubuh. Jadi, di sepanjang lorong ini Tembi berjalan miring. Tinggi lorong di antara dua dinding bukti batu ini lebih dari 50 meter. Panjangnya kira-kira 150 meter. Cukup menyeramkan juga. Lebih-lebih Tembi berjalan seorang diri. Tembi juga sempat berjalan mundur dalam menuruni dinding bukit batu. Yah, iseng-iseng belajar merangkak seperti monyet. Meskipun lambat dan lama Tembi berhasil melewati rintangan-rintangan itu.

Begitu sampai di lokasi parkir sepeda motor, perasaan lega menyelimuti hati Tembi. Begitu melelahkan namun begitu menyenangkan. Begitu indah dan agungnya ciptaan Sang Khalik. Di tengah-tengah suasana demikian itu Tembi merasa tidak berarti, Kecil, cil !! Lain waktu Tembi akan melanjutkan pengelanaannya ....

selesai

a.sartono




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta