Jogja Madrigal Voice pun Bersastra

Jogja Madrigal Voice pun Bersastra

Pentas baca (dramatic reading) di Tembi Rumah Budaya kembali diselenggarakan pada akhir bulan lalu. Acara tetap yang diadakan Tembi Rumah Budaya ini berlangsung setiap dua bulan dengan produser eksekutif Engelina Prihaksiwi. Pada kali ketiga ini pentas baca menampilkan Jogja Madrigal Voice (JMV) pimpinan Krishna Dharma dalam tajuk Bibir Sang Bulan.

Kekhasan pentas baca kali ini, seperti bisa diduga dengan hadirnya JMV, adalah berperannya paduan suara yang mengisi bingkai pembacaan cerpen. Lagu-lagu yang dinyanyikan, seperti dijelaskan Khrisna Dharma, menegaskan bagian-bagian cerpen yang dibacakan. Dengan begitu, suasananya jadi kian kental. Paduan suara ini menampilkan 9 orang vokalis. Vokal-vokal, antara lain, sopran dari Petra, alto dari Febi, tenor dari Khrisna, serta bass dari Sunu membentuk harmoni riang, sedih ataupun khidmat.

Jogja Madrigal Voice pun Bersastra

Malam itu Khrisna membacakan dua cerpen karya Bakdi Soemanto yang diambil dari kumpulan cerpen Bibir, yakni Desah-desah dari Seberang dan Ayam Petelur. Karya sastrawan yang juga guru besar UGM ini cukup detil menggambarkan suasana. Khrisna membacakannya dengan penghayatan serta tatanan vokal yang bagus.

Cerpen pertama berkisah tentang drama rumah tangga. Sang suami, Bram, merasa tidak betah tinggal di rumah mertuanya karena harus menanggung berbagai permintaan adik-adik Susi, istrinya. Padahal selama ini uang yang diberikan Bram, dikatakan oleh Susi sebagai pemberian orang tua Susi. Jika Bram pindah, Susi khawatir orang tuanya mendapat malu karena ketahuan tidak punya uang. Cerpen kedua bercerita tentang kegembiraan seorang anak yang memiliki seekor ayam, yang akhirnya bertelur di atas Encyclopaedia Britanica milik ayahnya.

Sebagai jembatan antar bagian cerpen, JMV membawakan lagu-lagu dengan berbagai bahasa, yakni Prancis, Inggris, Jerman dan Latin. Penonton dapat melihat teks terjemahannya di layar sehingga dapat menangkap isi lagu-lagu itu. Misalnya terjemahan salah satu lagu yang juga sastrawi, “Bukan berapa lama kita berpegangan tangan tapi seberapa kuat kita mencinta. Bukan berapa jauh kita telah merantau dan yang terkata bukanlah musim semi tapi hanya bayang kehijauan…”

Jogja Madrigal Voice pun Bersastra

Karya yang dibawakan pada cerpen pertama adalah lagu-lagu dari abad ke-16, yakni Au Joly Jeu (karya Clement Janequin), Din Di Rin, Din Di Rin, dan Agnus Dei (karya Andrea Gabrieli), serta dibawakan juga What Matters Most yang diaransir oleh Dave Grusin yang menjadi soundtrack film The Champ.

Sedangkan lagu-lagu yang menyertai cerpen kedua adalah Tanzen Und Springen (karya Hans Leo Hassler), Inssbruck Ich Muss Dich Lassen (Heinrich Isaac), Amen (John Rutter), dan Contrappunto Bestiale Alla Mente (Adriano Banchieri).

Pada saat interval, JMV mengajak penonton berolah vokal dengan cuplikan-cuplikan dari komposisi Ipaphonia karya Branko Stark. Khrisna membagi penonton dalam tiga kelompok, yang masing-masing menyuarakan vokal tertentu saat ditunjuk, baik bergantian maupun bersama-sama. Jadilah orkestra bunyi dadakan yang unik.

JMV sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam profilnya, didirikan pada tahun 2009, dan merupakan sebuah kelompok studi paduan suara yang menimba semangat berkesenian dari tradisi Madrigal, musik vokal yang berkembang di Eropa pada abad ke-16. Namun dalam setiap pementasannya, JMV tidak hanya menyanyikan lagu-lagu dari masa tersebut, tetapi juga mengaransemen karya-karya terkini, menciptakan komposisi baru dan mengeksplorasi kekayaan ragam budaya etnis di Indonesia. Konsep bermusik JMV adalah natural dan polifonik. Konsep natural merujuk pada penggalian terus menerus potensi alamiah kemampuan artistik suara manusia.

Jogja Madrigal Voice pun Bersastra

Teks: barata
Foto: Ons Untoro


Artikel Lainnya :


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta