Sastra Bulan Purnama Tanpa Rembulan

Sastra Bulan Purnama Tanpa Rembulan

Pada penanggalan Jawa, ada tanggal 15 yang ditandai sebagai bulan purnama. Pada penanggalan Jawa berbeda dengan penanggalan nasional. Karena pada penanggalan nasional, saat bulan purnama di bulan Maret jatuh pada 8 Maret. Acara sastra bulan purnama yang diselenggarakan tiap bulan dan merujuk pada penanggalan jawa, pada sastra bulan purnama edisi 6, telah diselenggarakan Kamis (8/3) lalu di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Sekitar 15 penyair, sebagian besar anak-anak muda, karena memang sastra bulan purnama edisi 6 ini diperuntukan bagi penyair yang mulai menulis tahun 2000, meski usianya sudah tua, seperti Mien Brojo, seorang bintang film senior, yang usianya sudah lebih 70 tahun ‘mengikutkan’ diri tampil bersama penyair muda yang, rasanya pantas menjadi cucunya.

Sastra Bulan Purnama Tanpa Rembulan

Rupanya, dalam usia tua, Mien Brojo tidak kehilangan enerjitas. Hujan lebat yang mengguyur Yogya, dan tentu saja, kawasan Tembi Rumah Budaya tidak mengurangi Mien Brojo untuk membaca puisi karyanya yang berjudul ‘Simbah Penjual Jingking’. Selain pembacaan puisi, juga ditampilkan penfasiran puisi melalui seni tari kotemporer yang dilakukan oleh seorang penari kontemporer berbakat, yakni Kinanthi Sekar Rahina. Sekar, demikian panggilannya, menafsirkan puisi yang berjudul ‘Perawan Dari Pantai Selatan’ karya Mien Brojo.

Penyair yang tampil pada ‘ Sastra Bulan Purana’ edisi enam ini kebanyakan penyair perempuan dan masih muda belia, namun kemampuan membaca puisinya cukup mengagumkan. Artinya, penyair2 muda ini sungguh2 berusaha menghayati puisi-puisi karyanya pada saat dibacakan, Penyair seperti Enji Sekar Ayu, Danielle Woro Prabandari, Maria Ingrid, Catur Stanis, dan yang lainnya membacakan puisi karya dengan penuh ekspresif.

Sastra Bulan Purnama Tanpa Rembulan

Selain puisi, ada satu petikan novel yang berjudul ‘Peri Kecil di Sungai Nipah’ karya Dyah Merta, dibacakan oleh penulisnya sendiri. Dengan santai, tetapi tidak mengurangi penghayatan masing2 tokoh, Dyah Merta membacakan petikan novel itu.

Ada seorang penyair yang lebih senior dari yang lainnya. Senior dalam arti, dia sudah mulai menulis puisi tahun 1980-an dan tidak sempat ikut membaca pada sastra bulan purnama yang menampilkan penyair tahun 1980-an, membacakan puisinya pada sastra bulan purnama edisi 6 ini. Hary Leo nama penyair itu dan membacakan puisinya sambil diiringi musik dari JAB UAD (Jaringan Anak Bahasa Universitas Ahmad Dahlan.)

Memang, malam sastra bulan purnama edisi 6 ini, selain menampilkan penari, juga menghadirkan seorang musisi muda Indra Waskita Hadi namanya, yang menggarap puisi dengan menggunakan alat musik Celo. Indra bermain musik dan temannya membacakan puisi (menyanyikannya). Tidak ketinggalan musikalisasi puisi dari anak- JAB UAD.

Sastra Bulan Purnama Tanpa Rembulan

Seperti halnya bulan Januari dan Februari, sastra bulan purnama edisi enam ini diguyur hujan deras. Namun demikian, para penyair dan pecinta sastra tetap datang menikmati acara sastra bulan purnama. Mereka, sambil duduk lesehan atau duduk di kursi, atau juga berdiri, menikmati penyair-penyair muda membacakan puisinya. Ada yang membacakan satu puisi, ada yang membacakan tiga puisi seperti Catur Stanis. Ada juga penyair, seperti Anisa Afzal, membacakan puisi dengan diiringi gamelan. Dengan kata lain, sastra bulan purnama edisi 6 riuh dengan musik dengan riuh gemercik air hujan.

Dari sastra bulan purnama, kita bisa mencoba memahami, bahwa kegiatan sastra di Yogya tidak pernah berhenti. Bahwa dari generasi ke generasi puisi terus ditulis, dan karena itu puisi tidak hilang dari Yogyakarta.

Rupanya, pendengar dan penikmat baca puisi sastra bulan purnama, yang diberi tajuk ‘Membaca Sastra Mengolah Rasa’. Karena disiarkan langsung melalui radio streaming Tembi, didiengarkan pula dari kota-kota lain, setidaknya Dhenok Kristianti, penyair yang tinggal di Bali mendengarkan dan komentar:

“Bagaimana ya caranya supaya suara radio streaming Tembi tidak putus-putus” kata Dhenok Kristianti melalui sms.

Kita kutipkan satu puisi karya salah satu penyair yang tampil pada ‘Sastra Bulan Purnama’ edisi 6. Puisi karya Maria Ingrid:

Sastra Bulan Purnama Tanpa Rembulan

Ia menggambar kota di dadaku. Bangunan beragam, jalan, kamacetan,
tiang-tiang kaku, lampu taman, sampah, papan reklame dan lorong
bawah tanah. Aku dimintanya membubuhi udara, bunga, angin
dan burung-burung

Tanganku gemetar, hanya bisa melukis hujan. Ia mesti bersabar
Degupku membungkus kota itu dalam dingin tak berkesudahan
Lalu ia memelukku, dan matahari menyembul dari ujung pelabuhan kota itu
Menjadi terang, hangat dan terasa aman

Tatkala ia lelap tertidur di dalam pikiranku, gambar kotanya mengabur,
terselimuti kabut, nyaris tak berdenyut, tertelan waktu yang mendengkur

Ons Untoro




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta