Mengingat Untuk (Me-) Lupa (-kan)

Mengingat Untuk (Me-) Lupa (-kan)

Memang sudah 6 tahun lewat. Tapi, setiap tiba tanggal 27 Mei, ingatan seperti dibuka kembali untuk ‘melihat’ gempa bumi yang terjadi di Yogya, dan Bantul Kabupaten yang paling parah akibat gempa.

Hari ini, tepatnya minggu 27 Mei 2012 lalu, kita bisa ‘kembali’ pada 6 tahun lalu, ketika pagi-pagi ada getaran yang menghancurkan ribuan rumah dan korban meninggal, cacat permanen atau luka ringan. Mengingat 6 tahun lalu, seperti mendengar jeritan histeris dari sebelah rumah, atau orang-orang berteriak minta tolong. Memang sudah berlalu, tetapi belum sepenuhnya lepas dari ingatan. Sesekali masih muncul, apalagi ketika getaran gempa, dalam skala kecil sering kembali mengunjungi Bantul.

Setidaknya, kita bisa mengingat untuk melupakan peristiwa itu. Melupakan dalam arti, kesedihannya tidak berlarut. Mengingat dalam konteks ini, adalah upaya untuk bisa menanggulangi gempa jika datang lagi, sekaligus mengingatkan pada anak-anak yang masih belia, untuk kelak bisa mengdapi gempa bumi. Karena, dalam 40 tahun kedepan, atau malah 100 tahun kedepan, gempa bisa datang lagi dalam skala yang berbeda.

Kita tahu, kapan kita melihat Bantul, sudah banyak bangunan baru berdiri, bahkan lebih bagus dari bangunan sebelumnya. Artinya, peristiwa gempa sekaligus mengubah bangunan dan solusi masalah. Bisa kita lihat, tanah yang sebelumnya hanya ada satu bangunan milik keluarga, setelah gempa kemudian dibagi-bagi pada keluarga dan terdiri dari beberapa bangunan rumah. Meski kita juga bisa melihat, ada sejumlah kecil bangunan rumah yang belum selesai tuntas, namun layak untuk ditinggali.

Rasanya kita tahu, peristiwa gempa 27 Mei lalu, meski membuat duka pada para korban, namun tidak tenggelam dalam kedukaan. Dalam relative pendek, tak sampai 2 tahun pemulihan korban gempa bisa berjalan dengan baik. Dukungan dari banyak pihak yang datang dari banyak daerah, termasuk negara lain, memberikan spirit para koban gempa untuk bangkit. Tidak ada yang perlu dipersalahkan, karena gempa datang dengan tiba-tiba. Masyarakat menyadari, meski sedih, tetapi tidak boleh berlarut kesedihan itu dan malah membuat lunglai.

Mengingat Untuk (Me-) Lupa (-kan)

Di Bantul, kalau kita masuk lokasi-lokasi korban gempa. Yang paling parah sekalipun seperti misanya di Plered, Pundong, Imogiri, kita bisa melihat rumah-rumah baru sudah kembali dibangun. Porak-poranda gempa sudah bisa tidak terlihat berserakan.

Seorang korban gempa, seorang tua, yang kita gempa menghampiri rumahnya, terlihat shock dan tak sadarkan diri. Terlentang di tanah, tapi masih bernafas. Kini kelihatan masih sehat, dan usianya sudah tua. ‘Tembi’ sering berjumpa dengan seorang tua ini dan selalu menyapa dengan senyuman.

Warga Bantul, meski sepenuhnya tidak melupakan dan tidak mengingat-ingat, sehingga bisa dikatakan mengingat untuk (me-) lupa (-kan), sudah kembali seperti kehidupan semula, tatkala gempa tidak terjadi di Yogyakarta. Pastilah ada perubahan, setidaknya dari bangunan rumahnya. Tapi keguyuban antar warga tidak retak, bahkan kembali merekat setelah gempa berlalu 6 tahun lalu.

Gempa memang tidak bisa diprediksi kapan akan datang. Perkiraan bisa disampaikan, tetapi selalu tidak tepat benar waktunya. Seringkali kita mendengar, ada informasi akan adanya gempa misalnya, antara bulan sekian sampai sekian disekitar daerah anu dengan kira-kira skala sekian. Namun seringkali, perkiraan itu meleset, karena antara bulan yang diperkirakan tidak terjadi gempa, justru pada bulan yang agak jauh dari yang diperkirakan terjadi gempa, tetapi di daerah yang sangat jauh dari lokasi yang diperkirakan.

Mengingat Untuk (Me-) Lupa (-kan)

Kita, setidaknya warga Bantul, atau warga Yogya, pernah mengalami gempa dan membuat warga masyarakat panik. Apalagi ditambah issue tsunami. 6 tahun lalu, kita hanya bisa mengingat untuk (me-) lupa (-kannya).

Ons Untoro

Foto2 browsing dari google




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta