JAMASAN KERIS DAN PENTAS WAYANG, TRADISI SURAN DI YOGYAKARTABulan Sura Tahun Wawu 1945 Jawa kali ini, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY kembali menggelar kegiatan tradisi Suran yang digelar di Kepatihan Yogyakarta. Acara yang digelar adalah Sarasehan, Jamasan Keris, dan Pentas Wayang Kulit semalam suntuk. Ketiga acara digelar secara beruntun pada Sabtu (3/12) pagi hingga malam hari, bahkan sampai pagi harinya lagi (Minggu, 4/12). Acara ini rutin digelar, sebagai salah satu bentuk pelestarian tradisi budaya Jawa, terutama di bulan Sura. Selain itu, kegiatan ini bertujuanJAMASAN KERIS DAN PENTAS WAYANG, TRADISI SURAN DI YOGYAKARTAsebagai sarana untuk menggali dan menyelamatkan potensi budaya yang ada di masyarakat sekaligus untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi budaya lokal. Demikian yang disampaikan Djoko Heri Tjahyono, staf Seksi Adat Tradisi, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY pada Kamis (1/12) di kantor setempat.

Sarasehan dan Jamasan Keris digelar di Bangsal Wiyoto Projo Kepatihan Yogyakarta,JAMASAN KERIS DAN PENTAS WAYANG, TRADISI SURAN DI YOGYAKARTAmulai pukul 09.00—14.00 WIB. Kegiatan ini telah berjalan 3 kali atas kerja sama dengan Paguyuban Pametri Wiji Yogyakarta dan dihadiri lebih dari 50 peserta, yang sebagian besar masyarakat umum dan pemerhati tosan aji. Sarasehan menampilkan narasumber Drs. Kardono (Pametri Wiji). Dalam sarasehan itu, antara lain ia menyampaikan tentang kedudukan (fungsi) keris dalam tata kehidupan orang Jawa, perawatan dan penyimpanan tosan aji, serta tata cara mengenakan keris gagrag Yogyakarta. Setidaknya ada 5 cara mengenakan keris yangJAMASAN KERIS DAN PENTAS WAYANG, TRADISI SURAN DI YOGYAKARTAbenar, menurut gagrag Yogyakarta, yaitu: 1) klabang pinipit/klabang pipitan; 2) ngewal; 3) munyuk ngilo; 4) nyothe; dan 5) nganggar. Kemudian dilanjutkan dengan acara tanya jawab.

Sebelum acara sarasehan dimulai, diawali dengan demo njamasi (membersihkan) keris. Langkah-langkah yang biasa dilakukan dalam njamasi keris, menurut Boedhi Adhitya (Pengurus Harian Pametri Wiji), antara lain: mutih, marangi, dan minyaki keris. LangkahJAMASAN KERIS DAN PENTAS WAYANG, TRADISI SURAN DI YOGYAKARTAmutih untuk membersihkan keris dari kotoran, seperti minyak dan karat. Pembersihan antara lain dengan air lerak, air jeruk nipis, dan bilasan air bersih. Proses ini memakan waktu sekitar 3 jam. Waktu yang tepat untuk mutih adalah malam hari, karena air jeruk nipis langsung berproses menyatu ke dalam logam besi. Langkah marangi untuk memberikan larutan arsen/racun pada keris agar pamor kelihatan indah dan terbebas dari karat. Langkah minyaki adalah memberi minyak pada bilah keris. Minyak yang biasa digunakan adalah minyak cendana yang sudah dicampur dengan minyak mesin jahit atauJAMASAN KERIS DAN PENTAS WAYANG, TRADISI SURAN DI YOGYAKARTAsejenisnya. Bisa juga menggunakan jenis minyak lainnya atau minyak khusus untuk keris.

Pada malam harinya, pentas wayang kulit menampilkan dalang kondang Ki Seno Nugroho dengan menampilkan lakon “Wahyu Purba Sejati” bertempat di Bangsal Kepatihan Danurejan Yogyakarta. Pagelaran dimeriahkan dengan penampilan pelawak kondang Marwoto Kawer dan Yuningsih “Yu Beruk” serta menampilkan 8 pesinden. Dalam sambutannya, Sekda Provinsi DIY, Ichsanuri berharap,JAMASAN KERIS DAN PENTAS WAYANG, TRADISI SURAN DI YOGYAKARTAmudah-mudahan dengan pagelaran seni tradisi ini, masyarakat bisa mengambil hikmah ajaran nilai-nilai luhur budaya dan tuntunan budi pekerti yang baik dari tontonan wayang. Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Drs. GBPH. Yudhaningrat, M.M., dalam sambutannya antara lain mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk nguri-uri serta mempertahankan kebudayaan Jawa utamanya kesenian wayang kulit di DIY. Sekaligus untuk menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro 1945 Jawa atau 1 Muharram 1433 H.

Menjelang pagelaran wayang kulit dimulai, ada prosesi penyerahan tokoh wayang Harjuno dari Sekda Prov. DIY, Ichsanuri kepada dalang Ki Seno Nugroho.

Suwandi




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta