Ruang Fika Ria Santika di Tembi Rumah Budaya, Gandaria, Jakarta

Dalam pameran bertajuk ‘[Space]’ ini, lukisan-lukisan Fika memang bermain dengan ruang. Kanvasnya rata-rata menyisakan banyak ruang kosong, dengan satu figur perempuan yang merepresentasikan dirinya. Keleluasaan ruang ini kian terasa dengan sapuan-sapuan warna yang tidak verbal, menyeruakkan kesan mengambang dan misterius.

Pameran Seni Rupa, Space, Fika Ria Santika, Artist in Residence, Artis Residen, Tembi Rumah Budaya. foto: Barata
’Phase Transition’, 150 x 150 cm, lukisan Fika yang dipadu dengan’ video projection on canvas’

Peserta program artist in residence Tembi Rumah Budaya kembali menampilkan karyanya. Kali ini adalah Fika Ria Santika, peserta program ke-11. Lulusan pascasarjana ISI Yogyakarta tahun 2012 ini memakai beberapa media, yakni lukisan, drawing, foto, video dan patung. Pokok karyanya tetaplah lukisan, media yang lama diakrabinya.

Dalam pameran bertajuk ‘[Space]’ ini, lukisan-lukisan Fika memang bermain dengan ruang. Kanvasnya rata-rata menyisakan banyak ruang kosong, dengan satu figur perempuan yang merepresentasikan dirinya. Keleluasaan ruang ini kian terasa dengan sapuan-sapuan warna yang tidak verbal, menyeruakkan kesan mengambang dan misterius.

Ada aksen garis yang menetes maupun garis yang lebih berupa coretan warna putih dan merah tanpa bentuk, menyertai sosok perempuan dalam beragam gestur dan ekspresi. Lukisan-lukisan berukuran minimal satu meter ini sekaligus juga memberi ruang bagi pemerhatinya untuk memberikan tafsirnya sendiri.

Fika tak sekadar berkutat dengan persoalan estetis tapi persoalan kedirian, satu hal yang mendasar pada hidup manusia. Selalu ada ruang atau jarak yang bisa diisi secara personal dan subyektif, yang difokuskan Fika untuk diolah secara visual. Ia mengisinya dengan jujur dan kena, mewakili tahapan kehidupannya. Tahapan yang menurutnya merupakan satu transisi dalam perjalanan hidupnya sebagai seniman.

Pameran Seni Rupa, Space, Fika Ria Santika, Artist in Residence, Artis Residen, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Pelukis senior Djoko Pekik mengamati lukisan ‘Horisontal Angle 2’

Barangkali space (ruang) dalam pameran ini bisa diperjelas dengan pernyataan Viktor Frankl, psikolog Yahudi dan mantan tahanan kamp konsentrasi Nazi. “Antara stimulus dan respon, terdapat ruang. Dalam ruang ini kita berkuasa untuk memilih respon kita. Dalam respon kita inilah terletak pertumbuhan kita dan kemerdekaan kita,” katanya. Pernyataan yang kemudian dijadikan rujukan pula oleh pakar manajemen modern terkemuka Stephen Covey sehingga banyak yang mengira ini pernyataan orisinal Covey.

Dalam kebebasan memilih respon ini, beberapa lukisan Fika mengesankan posisi ancang-ancang dalam memilih perspektif dan sikap hidup. Ada sudut mata yang tajam, ada pandangan yang terpana, ada lingkaran jari di mata yang sedang memfokuskan perspektif pandangan. Namun dalam satu lukisannya. ‘Phase Transition’, ia menunjukkan ketegasan dan kemantapannya.

Membaca keseluruhan karyanya seperti menyimpulkan bahwa pengambilan keputusannya setelah melalui pertimbangan yang matang. Fika menuturkan perbedaan karya-karyanya ini dengan karya-karyanya terdahulu yang biasanya paradoks. “Saat ini saya sudah merasa mantap dengan pilihan yang saya ambil,” akunya.

Lukisan ‘Phase Transition’ yang berukuran 150 cm x 150 cm kian “greget” saat ditimpa film yang dipancarkan proyektor. Film yang menimpa wajah itu adalah sosok Fika berbalut pita kaset. Ia bergerak dalam segala arah lantas menuju ke tengah wajah lukisan, dan menyatu dengannya. Wajah yang seolah memakai cadar berbahan pita kaset. Keutuhan tubuh berubah menjadi seraut wajah dengan bola mata yang bergerak-gerak seakan mencari sebuah perspektif. Mata yang tadinya statis diam kini bergerak mengerling berulang-ulang.

Pameran Seni Rupa, Space, Fika Ria Santika, Artist in Residence, Artis Residen, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Pengunjung menikmati ‘Lost in Black’, karya kertas dengan tinta

Menurut Fika, pita kaset kusut yang telah lepas dari player-nya tak lagi menjalankan fungsinya sebagai media rekam yang menghidupkan kembali obyek rekamannya. Namun dengan balutan pita di tubuh yang bergerak dan “masuk” ke dalam wajah, pita itu menjadi hidup kembali. “Yang tadinya mati mendapatkan roh sehingga hidup kembali,” ujar Fika.

Pita kaset menjadi metafora penting dalam pameran ini. Satu panel drawing-nya yang kuat memvisualkan wajah dalam pita pula, menyisakan mata yang terkesan hidup. Sebuah patung anatominya juga berbalut pita yang simpang siur.

Sedangkan karyanya yang lain, ‘Satu Tambah Satu Sama Dengan Satu’, berupa panel yang terdiri dari tiga karya yang menampilkan wajah yang sama. Karya pertama berupa foto wajah, karya ketiga berupa lukisan wajah, sedangkan karya kedua merupakan transisi foto dan lukisan. Kalau boleh ditafsirkan bebas, seakan Fika ingin menunjukkan transisi dari sesuatu yang “given” (direkam sesuai aslinya, apa adanya) menjadi sesuatu yang diolah oleh tangannya.

Pameran karya-karya Fika berlangsung di galeri Tembi Rumah Budaya Yogyakarta pada 18 Februari hingga 3 Maret 2013. Kemudian dilanjutkan di galeri Tembi Rumah Budaya Jakarta pada 13 – 26 Maret 2013.

Pameran Seni Rupa, Space, Fika Ria Santika, Artist in Residence, Artis Residen, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Video capture ‘Phase Transition’, saat roh “menghidupkan” yang “mati”

Nonton yuk ..!

Barata



Artikel ini merupakan Hak Cipta yang dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net/


Baca Juga Artikel Lainnya :




Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta