Pameran Tunggal Visual Art Ong Hari Wahyu Joyo Semoyo

Author:editorTembi / Date:23-12-2014 / Bulan Desember 2014 ini Ong ditantang untuk berpameran tunggal oleh Bentara Budaya Yogyakarta, yang sempat membuat dirinya ragu-ragu, antara meng-iya-kan atau menolaknya. Provokasi BBY akhirnya seperti menggugah Ong untuk berkarya dan kemudian berpameran tunggal.

Garin Nugroho dengan diapit dua penari gambyong tengah memberikan sambutan sebelum membuka pameran tunggal Ong Hari Wahyu Joyo Semoyo di BBY, difoto: Selasa, 16 Desember 2014, foto: a.sartono
Garin Nugroho dengan diapit dua penari gambyong tengah 
memberikan sambutan sebelum membuka pameran tunggal 
Ong Hari Wahyu Joyo Semoyo di BBY

Ong Hari Wahyu dikenal sebagai seniman yang jeli, cerdas, kreatif, inovatif, sekaligus jahil, iseng, berani, dan juga dikenal sebagai selalu terlambat dalam mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu pula ia mendapatkan julukan nama Joyo Semoyo yang artinya adalah selalu beralasan atau beralibi untuk menangguhkan atau menunda pekerjaannya.

Sebutan ejekan yang menggunakan kata “joyo” di masyarakat Jawa (Yogya) dikenal Joyo Semoyo dan Joyo Endho. Mungkin masih bisa ditambahkan dengan joyo-joyo yang lain, seperti Joyo Mlethas (meninggalkan tanggung jawab), Joyo Mletho (suka bohong), Joyo Klentreng (kelihatannya pendiam tetapi diamnya menyebalkan), Joyo Padudon (suka bertengkar), Joyo Gabrul (suka jajan tidak membayar), dan lain-lain.

Sungguhpun demikian, karya-karya Ong dikenal demikian unik, orisinal, dan otentik, terutama dalam menghadirkan hal-hal lawasan untuk digarap menjadi karya baru yang kreatif. Untuk itulah, banyak seniman atau budayawan sekalipun tahu harus menunggu dan deg-degan karena ketepatan penyelesaian order pekerjaannya pada Ong akan (dan pasti) tertunda, mereka toh tidak kapok meminta bantuan Ong. Salah satu alasannya tentu saja, karena karya Ong memang dikenal prima dan sangat mengesan.

Turu Ngemper, salah satu karya Ong Hari Wahyu Joyo Semoyo yang menggambarkan Nietzsche tidur tenang dan damai, difoto: Selasa, 16 Desember 2014, foto: a.sartono
Turu Ngemper, salah satu karya Ong Hari Wahyu Joyo Semoyo 
yang menggambarkan Nietzsche tidur tenang dan damai

Bulan Desember 2014 ini Ong ditantang untuk berpameran tunggal oleh Bentara Budaya Yogyakarta, yang sempat membuat dirinya ragu-ragu, antara meng-iya-kan atau menolaknya. Provokasi BBY akhirnya seperti menggugah Ong untuk berkarya dan kemudian berpameran tunggal. Pameran itu sendiri tentu bukan guyonan gaya Ong yang dikenal senang ngguyoni orang. Ini dilihat dari karya Ong yang dipamerkan.

Salah satu karya Ong adalah patung sosok Friedrich Nietzsche yang terbuat dari cor alumunium. Tampak dalam karya ini Ong ingin membuat karya yang monumental tentang Nietzsche. Posisi Nietzsche dibuat tidur setengah mlungker di atas risban (kursi panjang) lawasan milik Ong. Karya Ong ini diberi judul Turu Ngemper. Dalam ulasannya atas pameran Ong, Rama Sindhunata menyatakan bahwa seolah Ong ingin menidurkan Nietzsche dalam ketenangan dan kepasrahan Jawa. Ong seperti ingin “mengistirahatkan” kegelisahan dan pencarian Nietzsche akan kebebasan yang sempurna.

Ong juga menghadirkan karya berupa patung ibu tua yang bernama Mbok Tumpang, yang dilukiskan sebagai wanita tua dengan kerut-kerut yang jelas di wajahnya. Badannya demikian kurus. Mbok Tumpang juga terkesan lumpuh karena ia ditempatkan pada sebuah kursi roda. Namun Mbok Tumpang juga memegang sabit dan segenggam padi menguning. Pada sisi ini tampaknya Ong ingin menegaskan tentang semangat hidup yang berkobar-kobar. Selain itu, Mbok Tumpang seperti tampak ingin memberikan bibit hidup agar hidup terus bertumbuh dan terus hidup. Hidup adalah anugerah. Oleh karena itu tidak bolehlah orang menyerah.

Mbok Tumpang, salah satu karya Ong Hari Wahyu yang menggambarkan semangat hidup dalam segala keterbatasan, difoto: Selasa, 16 Desember 2014, foto: a.sartono
Mbok Tumpang, salah satu karya Ong Hari Wahyu yang 
menggambarkan semangat hidup dalam 
segala keterbatasan

Empat papan kayu diformat sebagai buku juga dikerjakan oleh Ong dalam pameran ini. Bagian paling depan dari garapan ini dibuat seperti cover buku dengan tempelan teknik digital printing desain grafisnya. Salah satunya menafsirkan satu bagian dari buku Bumi Manusi karya Pramudya Ananta Toer. Format seperti itu diberinya engsel dan bisa dibuka. Di bawah format cover buku itu ia menempat Ipad. Begitu cover dibuka akan terdengarlah musik-musik lawas dan gambar lawas yang disimpan dan disiapkan Ong dalam Ipad tersebut.

Awam mungkin lebih mengenal Ong sebagai desainer grafis, khususnya untuk cover buku, yang piawai. Namun sesungguhnya ia telah merentang karya yang demikian banyak, sejak 1987-2014. Baik itu meliputi karya seni rupa, filmografi, teater dan musik, serta aktivitas sosial.

Ong Hari Wahyu dengan putri tunggalnya, Arum, difoto: Selasa, 16 Desember 2014, foto: a.sartono
Ong Hari Wahyu dengan putri tunggalnya, Arum

Pameran tunggal visual art dari Ong Hari Wahyu Joyo Semoyo ini digelar di BBY mulai tanggal 16-24 Desember 2014. Pameran dibuka oleh Garin Nugroho dan dikuratori oleh Rama Dr Gabriel Possenti Sindhunata SJ, serta dimeriahkan oleh Djaduk Ferianto dan KUA Etnika, Kill the DJ and JHF, Low Budget and Friend, Jogja Hip Hop, Hendro Pleret, Tari Gambyong dan Klenengan.

Naskah dan foto: A. Sartono

Berita budaya

Latest News

  • 30-12-14

    Outbond SMKN 6 Yogya

    Selama dua hari beturut-turut pada Senin-Selasa, 15-16 Desember 2014, siswa-siswi SMKN 6 Yogyakarta melaksanakan outbond di Tembi Rumah Budaya.... more »
  • 30-12-14

    Keistimewaan Yogya M

    Dalam diskusi ini, para pembicara melihat bahwa keistimewaan yang diributkan bukan hanya persoalan kesenian, lebih dari itu bagaimana kebudayaan... more »
  • 30-12-14

    Numerology Tahun 201

    Untuk tahun 2015 ini hasil penjumlahan angka = 8. Jika dikaitkan dengan peri kehidupan di bumi Nusantara ini, secara kosmologis angka 8 menjadi... more »
  • 29-12-14

    Sega Bancakan dan Es

    Sega Bancakan sangat kental bernuansa Jawa, dengan komponen utama sega abang (nasi merah), ayam kampung, kuah areh, yang dilengkapi dengan krupuk... more »
  • 29-12-14

    Macapatan Malam Rabu

    Saat melakukan perjalanan dari Jawa hingga sampai Negara Ngesam (daerah Suriah) Nabi Isa berhenti di suatu jalan. Di tempat tersebut Ia mendapatkan... more »
  • 29-12-14

    Spirit dari Kedunggu

    Ons Untoro, pegiat budaya dari Yogyakarta dan dikenal sebagai penyair yang aktif menulis puisi sejak akhir 1970-an diminta memberikan pidato... more »
  • 27-12-14

    Menyimak Gending-gen

    RM Palen Suwanda Nuryakusuma mulai menulis dan menyusungendhing-gendhing karawitan sejak berusia 23 tahun. Gendhing karya pertamanya adalah... more »
  • 27-12-14

    Aneka Warangka Keris

    Masyarakat Jawa yang kurang kenal dekat dengan dunia keris biasanya hanya tahu bahwa sarung keris namanya warangka. Padahal sebenarnya setiap bagian... more »
  • 27-12-14

    Orang Sabtu Paing Ku

    Orang Sabtu Paing kurang perhitungan atau kelewat berani, suka pamer, sombong dan panas hati, bergaya sok kaya, kurang rendah hati, jika bertengkar... more »
  • 26-12-14

    Voice of Asmat, Perp

    Pertunjukan musik akustik dibawakan sekelompok anak muda berbakat, yaitu Putri Soesilo, Aji Setyo, Dika Chasmala, dan Alwin. Mereka memadukan rasa... more »