Tiga Penyair Berambut Putih Tampil dalam Acara Sastra Bulan Purnama

06 Jun 2015

Ketiga penyair ini mengenalkan antologi puisi yang baru diterbitkan. Slamet Riyadi Sabrawi meluncurkan antologi puisi berjudul ‘Ujung Beliung’. Dedet Setiadi dengan antologi berjudul ‘Pengakuan Adam Di Bukit Huka’ dan Krisbudiman menyajikan antologi puisi berjudul ‘Sesudah Ekskavasi’.

Kali ini penyair yang tidak lagi muda, dan rambutnya pun sudah mulai memutih, tampil membacakan puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama, Rabu 3 Juni 2015 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Ketiga penyair itu Slamet Riyadi Sabrawi, Dedet Setiadi dan Krisbudiman.

Ketiga penyair ini mengenalkan antologi puisi yang baru diterbitkan. Slamet Riyadi Sabrawi meluncurkan antologi puisi berjudul ‘Ujung Beliung’. Dedet Setiadi dengan antologi berjudul ‘Pengakuan Adam Di Bukit Huka’ dan Krisbudiman menyajikan antologi puisi berjudul ‘Sesudah Ekskavasi’.

Dari tiga penyair ini Krisbudiman paling muda, meskipun tak pernah menyebutkan usianya, apalagi menulis tanggal lahir pada biodatanya. Dedet Setiadi lahir tahun 1963 dan Slamet Riyadi Sabrawi lahir tahun 1953. Pendek kata, ketiganya sudah melewati usia 50 tahun.

Slamet Riyadi Sabrawi menulis puisi sejak tahun 1970-an, yang pada masa itu aktif di Persadana Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, dan dia seangkatan dengan Emha Ainun Najib, (alm) Linus Suryadi dan sejumlah penyair lainnya. Dedet Setiadi merupakan penyair tahun 1980-an dan Krisbudiman penyair yang aktif akhir tahun 1980-an, atau sering ditandai sebagai penyair 1990-an.

Jadi, kalau dilihat dari segi usia dan aktivitas dalam menulis puisi, ketiganya dalam generasi yang berbeda, namun dalam keseharian mereka saling bertemu dan bertegur sapa, setidaknya di Sastra Bulan Purnama ketiganya sering bertemu.

Mereka kembali bertemu, dan kali ini bersama membacakan puisi karyanya dalam satu komunitas yang dikenal dengan nama Sastra Bulan Purnama. Krisbudiman tampil membaca pertama dengan membacakan beberapa puisi. Puisi Kris, demikian panggilannnya, pendek-pendek, ada yang hanya tiga baris, dan yang paling panjang 12 baris.

Slamet Riyadi Sabrawi membacakan tiga puisi, dan puisinya termasuk panjang, ada yang memerlukan 1,5 halaman dalam buku antologinya, tetapi Slamet Riyadi memilih membacakan puisi yang pendek-pendek sehingga tidak membutuhkan waktu panjang dalam membaca. Puisi Dedet Setiadi tidak panjang, tetapi juga tidak pendek, dan hanya membutuhkan waktu satu halaman dalam buku antologi puisi.

Ketiga antologi puisi diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Antologi puisi ‘Pengakuan Adam Di Bukit Huka’ karya Dedet Setiadi diterbitkan Penerbit Teras Budaya, Jakarta dan antologi puisi Krisbudiman dan Slamet Riyadi Sabrawi keduanya diterbitkan Penerbit ‘leutikaprio’, Yogyakarta.

Antologi puisi Krisbudiman memuat 80 puisi dan antologi puisi Slamet Riyadi Sabrawi memuat 62 puisi, dan antologi puisi Dedet Setiadi ada 68 puisi. Dalam acara launching memang tidak semua puisi dibacakan, hanya sebagian kecil yang dibacakan. Selain dibacakan oleh penyairnya sendiri, juga tampil pembaca lain, yang membacakan puisi karya ketiga penyair. Selain itu ada puisi yang digunah menjadi lagu dan dipentaskan oleh Daladi Ahmad dan Isuur.

Dalam penampilannya membaca puisi, ketiga penyair tidak teaterikal. Tak ada suara yang menghentak, atau dengan mengangkat tangan. Tak ada teriakan, ketiga penyair, terutmama Krisbudiman, tampil seperti tanpa ekspresi, malah seolah sedang bermain-main, sehingga menunjukan betapa santainya dalam membaca puisi.

“Puisi saya bukan jenis puisi yang mudah untuk dibacakan,” kata Krisbudiman ditengah membaca puisi.

Dedet Setiadi, meski berbeda dengan Krisbudiman, mencoba tampil serius, seolah menyadari bahwa dirinya sedang pentas. Dan Slamet Riyadi Sabrawi menghadirkan puisi dengan penuh ekspresi. Meski launching antologi puisi, tetapi Slamet Riyadi Sabrawi membaca puisi melalui tablet, bukan memegang antologi puisi yang sedang dilaunching, Sementara Krisbudiman dan Dedet Setiadi membaca sambil memegang antologi puisi.

Sastra Bulan Purnama dan antologi puisi tak bisa dipisahkan. Penyair yang menerbitkan antologi puisi, diberi ruang untuk membacakan puisi karyanya.

Ons Untoro

> Krisbudiman membacakan puisi karyanya di acara Sastra Bulan Purnama di Pendapa Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono Dedet Setiadi, penyair dari Magelang membacakan puisi karya di Sastra Bulan Purnama di Pendapa Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono Slamet Riyadi Sabrawi membacakan puisi karyanya di Sastra Bulan Purnama di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono SENI PERTUNJUKAN

Baca Juga

>

Artikel Terbaru

>
  • 09-06-15

    FMT 2015: Pertunjuka

    Hanyaterra, kelompok kolektif musik keramik dari Jatiwangi Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tampil memukau dalam Festival Musik Tembi (FMT) 2015,... more »
  • 09-06-15

    FMT 2015: Proses Men

    Berdasarkan penilaian pengamat musik dan audiens, diputuskan lima terpilih yang masuk dalam album kompilasi MTB 2015 adalah Kemlaka, Kelu, Ruas Bambu... more »
  • 09-06-15

    #SaveMusicIndonesia

    Gerakan ini sebagai salah satu apresiasi terhadap musik, musisi, dan industri musik Indonesia. Pembajakan, minimnya musik anak, perizinan pemutaran... more »
  • 08-06-15

    Mereka Juga Meramaik

    Para pembaca puisi ini kebanyakan sudah berulang kali datang menghadiri Sastra Bulan Purnama (SBP), sehingga memang sudah mengenal acara ini. Namun... more »
  • 08-06-15

    Sandy Thema Pamerkan

    Merek perhiasan lokal, Pistos dengan desainernya Sandy Thema mempersembahkan koleksi perhiasan terbarunya ‘Archipelago’. Terinspirasi dari kekayaan... more »
  • 08-06-15

    FMT 2015: Menuju Mus

    Sampai saat ini tidak atau belum ada yang dinamakan “musik Indonesia.” Jika mau menyebut musik Indonesia, maka kita harus menyebut sekian banyak... more »
  • 06-06-15

    Sukses Karier Orang

    Orang yang lahir pada Senin Pon dan Rabu Kliwon, tempat kejayaan (sukses) dalam meniti karier pekerjaannya berada di arah Barat dari tempat... more »
  • 06-06-15

    Sebuah Upaya Menghad

    Rekaman jejak perlawanan pemuda pelajar Indonesia melawan penjajah, dapat dilihat dalam pameran temporer yang digelar oleh Museum Perjuangan... more »
  • 06-06-15

    Tiga Penyair Berambu

    Ketiga penyair ini mengenalkan antologi puisi yang baru diterbitkan. Slamet Riyadi Sabrawi meluncurkan antologi puisi berjudul ‘Ujung Beliung’. Dedet... more »
  • 06-06-15

    Suduk Gunting Tatu L

    Pepatah atau peribahasa suduk gunting tatu loro secara luas dapat dimaknai sebagai orang yang menderita kesusahan/kesedihan berganda/rangkap. Keadaan... more »
> Tembi Rumah Sejarah dan Budaya , Hak Cipta Dilindungi Undang Undang - Silahkan Mencopy Content dengan menyertakan Credit atau link website https://tembi.net/
Tembi adalah Portal Berita Budaya Indonesia