Tembi

Yogyakarta-yogyamu»GELAR SASTRA JAWA FKY XVI DI PENDAPA Tembi BERLANGSUNG MERIAH

01 Jan 2008 07:41:00

Yogyamu

GELAR SASTRA JAWA FKY XVI DI PENDAPA Tembi
BERLANGSUNG MERIAH

FKY XVI diadakan mulai 15 sampai akhir bulan Juli 2004. FKY diharapkan menjadi ajang para kreator/seniman Yogyakarta. Dengan FKY diharapkan para seniman atau kreator seni di Yogya bisa bertambah giat dalam kreasi/berkarya

Pada tahun-tahun lampau sastrawan Jawa sering merasa dianaktirikan karena konon porsi untuk sastra Jawa sering dirasa tidak mencukupi. Panitia sendiri tentunya tidak pernah bermaksud demikian. hanya karena keterbatasan di sana-sini baik meliputi dana ataupun tenaga dan waktu memang sering tidak mudah diatasi.

Di dalam FKY XVI (2004) ini Sastra Jawa dapat atau boleh berlega hati karena Sastra Jawa lebih bisa ditampilkan dengan dengan semangat yang lebih gres dan hangat. Panitia FKY XVI seksi Sastra Jawa bekerja sama dengan Rumah Budaya Tembi bisa bersama-sama mementaskan Gelar Sastra Jawa pada hari Senin, 28 Juni 2004. Gelar Sastra Jawa ini berhasil menampilkan acara baca geguritan, crita cekak, dan pangunandikan (monolog Jawa). Pembaca geguritan adalah Handoyo Wibowo (Koh Wat) yang membawakan karya-karya sendiri yang serba jarwa dhosok. Agus Kencrot dan Broto keduanya membaca geguritan dengan judul Nyedhot Klembak Menyan. Abbas CH membaca cerkak dengan judul Nggon Teles karya Rita Nuryanti. Monolog Jawa dilakukan Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarso) dengan judul Sarwa Samadya. Acara ini dipergelarkan di pendapa Rumah Budaya Tembi dengan iringan gendhing di bawah pimpinan Tri Andono Topo.

Agus Kencrot selaku ketua seksi Sastra Jawa dalam FKY XVI mengakui bahwa pentas hiburan Sastra Jawa seperti di atas apabila dipergelarkan dikota, dapat dipastikan tidak akan banyak didatangi penonton. Oleh karenanya Agus Kencrot juga mengaku bahwa dirinya merasa sangat bangga karena penonton Gelar Sastra Jawa di Tembi Bantul demikian banyak. Dengan demikian, apa yang diupayakan oleh paniti FKY tidak sia-sia. Kebetulan juga tema-tema dalam geguritan, monolog, dan cerkak yang dipergelarkan juga tidak jauh dari keadaan sosial masyarakat Jawa pada umumnya. Banyak dan antusiasnya penonton dalam Gelar Sastra Jawa memang menumbuhkan rasa bangga. Pada sisi ini terlihat bahwa sastra Jawa bisa juga dikemas dengan penataan panggung modern (lighting, dramatisasi, musik, lan liya-liyane). Jadi, sastra Jawa bisa tampil modern tanpa harus kehilangan nuansa dan rasa sastra Jawanya itu sendiri. Monolog Jawa sendiri termasuk terobosan baru dalam jagad sastra Jawa. Jadi sastra Jawa tidak hanya meliputi cerkak, geguritan, jagading lelembut, tembang, dan cerbung.

Boleh dikatakan bahwa selama ini acara sastra Jawa yang digelar oleh FKY hanya mampu menghadirkan penonton yang relatif sedikit. Akan tetapi di Tembi, gelar sastra Jawa ini dikunjungi banyak penonton. Ada sekitar 200-300 orang penonton. Banyaknya penonton dalam gelar Sastra Jawa ini mau tidak mau menumbuhkan pertanyaan. Mengapa hal ini terjadi. Barangkali jawabannya bisa diduga karena adanya tokoh Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarso) yang sudah demikian terkenal di Yogyakarta, khususnya dalam program siaran Mbangun Desa sing disiarkan oleh stasiun TVRI Yogyakarta.

Den Baguse Ngarso juga terkenal sebagai anggota inti dari Teater Gandrik. Jadi, dapat diduga bahwa sebagian besar penonton hadir di pendapa Tembi karena salah satunya terpikat keterkenalan Den Baguse Ngarso yang identik dengan seloroh yang penuh kelucuan, nylekit, sengak, sinis, dan nakal. Para penggemar siarann radio khususnya siaran dalam bahasa Jawa juga bisa menuntaskan rasa penasarannya pada pembaca cerita Jawa yang juga terkenal, yakni Abbas CH. Banyaknya penonton dapat juga disebabkan oleh karena masyarakat Dusun Tembi sudah terlanjur terbiasa dengan berbagai tontonan yang sudah biasa dilaksanakan di pendapa Tembi. Jadi, apa pun yang dipergelarkan di Tembi kemudian ditonton begitu saja.

Materi yang dipergelarkan oleh Sastra Jawa dalam FKY XVI ini pun terbilang cukup bagus. Selain materinya sarat dengan kritik sosial semua aktor dapat menyampaikan karya yang dibacanya dengan penuh penghayatan. Seluruh tokoh bisa menjiwai apa yang dibacanya. Dengan demikian penonton menjadi terpikat serta antusias mengikuti Gelar Sastra Jawa yang diakhiri dengan monolog oleh Den Baguse Ngarso. Dalam monolog tersebut Den Baguse memperagakan diri sebagai paranormal/dukun yang dipercaya oleh pasien-pasiennya. Setiap ada pasien yang datang dan meminta jamu/pengobatan pasti diberi oleh Den Baguse ini dan sembuh. Akan tetapi ketika Den Baguse yang di dalam monolog tadi menjadi dukun malah meminta obat kepada seorang dokter ketika penyakit jantungnya kumat. Akan tetapi ketika ketika ada orang meminta nomor togel orang tersebut disuruh pergi.

“Lunga, lunga ayu lunga kana !” Demikian kata Den Baguse Ngarso (Sarwa Samadya). Kata lunga tadi malah diramal oleh pasien yang datang menjadi nomor telu sanga ‘tiga’, ‘sembilan’. Ketika dibeli ternyata memang keluar. Demikian sampai berkali-kali. Den Baguse yang menjadi dukun Sarwa Samadya demikian jengkel kepada pasien-pasien ngeyel itu. Saking jengkelnya Den Baguse ikut membeli hasil ramalan para pasien itu berdasarkan omongannya. Ternyata blong alias nomor yang dibelinya tidak keluar. Pada sisi inilah Den Baguse ingin memberikan pesan atau nasihat kepada semua orang bahwa sebenarnya paranormal ya cuma orang biasa saja. Paranormal hendaknya disikapi sebagai profesi seperti profesui tukang atau guru.

FKY XVI itu sendiri seperti kebiasaan disebar di berbagai tempat kegiatan seperti di Monumen Satu Maret, PPPG Kesenian Sleman, Nitiprayan Bantul, Parangtritis Bantul, Gedung Sositet TBY Yogyakarta, Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta, Concert Hall TBY, Purna Budaya Sleman, Rumah Budaya Tembi Bantul, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Benteng Vredeburg Yogyakarta, Gramedia Yogyakarta, dan Perempatan Kantor Pos Gedhe Yogyakarta. Tujuannya supaya kegiatan FKY XVI dapat merata ke segenap sudut kota Yogyakarta.

Sartono Kusumaningrat




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta