Makam RM. Prangwedana dan Terjadinya Dusun Prangwedanan, Bantul

Makam RM. Prangwedana dan Terjadinya Dusun Prangwedanan, Bantul

Keletakan

Makam Raden Mas Prangwedana secara adminiatratif terletak di Dusun Prangwedanan, Kalurahan Potorono, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten bantul, Provinsi DIY.

Kondisi Fisik

Makam Raden Mas Prangwedana terletak di sisi tengah utara dari kompleks makam umum di Dusun Prangwedanan. Makam ini berada dalam lindungan pagar tersendiri yang merupakan cungkup tanpa atap. Luas cungkup makam Raden Mas Prangwedana sekitar 4 m x 7 m. Tinggi pagar sekitar 100 Cm.

Di dalam cungkup makam RM. Prangwedana ini kecuali terdapat nisan dari RM Prangwedana sendiri juga teradapat nisan-nisan lain, yakni nisan dari ibunya Dewi wuryan dan nisan dari abdi pembawa payung yang disebut abdi penongsong. Sayangnya abdi penongsong dari RM. Prangwedana ini tidak diketahui. Nisan dari ketiganya terbuat dari batu andesit. Nisan-nisan tersebut terbuat dari susunan potongan batuan yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk bangun menjadi batu nisan layaknya batu nisan yang utuh.

Makam RM. Prangwedana dan Terjadinya Dusun Prangwedanan, Bantul

Kecuali batu nisan dari RM. Prangwedana, ibu, dan abdi penongsongnya tidak jauh dari makam ini juga terdapat peninggalan dari RM. Prangwedana yang berupa Sumur Kawak atau sumur kuno. Keletakan sumur ini berada di sisi tenggara makam dengan jarak sekitar 300 meter dari komplek makam.

Latar Belakang

Sumber setempat menyatakan bahwa RM. Prangwedana merupakan putra dari Sri Paku Alam II dengan ibu bernama Dewi Wuryan. Versi pertama menyebutkan bahwa RM. Prangwedana pergi dari wilayah Keraton Kasultanan Yogyakarta atau Kadipaten Paku Alaman karena Yogyakarta jatuh ke tangan Inggris dalam Perang Spoy tahun 1812. Akan tetapi versi lain lain menyatakan bahwa RM. Prangwedana lari hingga wilayah Banguntapan karena menghindari pengejaran yang dilakukan pihak Belanda. Hal ini terpaksa dilakukan karena RM. Prangwedana diduga merupakan pendukung Pangeran Diponegoro dalam peristiwa Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830).

Apa yang dilakukan RM. Prangwedana yang bernama lain RM. Suryaningprang ini akhirnya membawa dirinya bersama ibu dan abdinya hingga ke sebuah hutan di sisi tenggara Keraton Yogyakarta. Hutan ini kemudian dibukanya dan ia kemudian bermukim di hutan tersebut. Hutan inilah yang kemudian berkembang menjadi pemukiman yang saat ini dikenal dengan nama Dusun Prangwedanan.

Makam RM. Prangwedana dan Terjadinya Dusun Prangwedanan, Bantul

Di tempat itu pula RM. Prangwedana menemukan sebuah mata air yang debit airnya lumayan besar dengan kondisi air yang jernih. Mata air ini kemudian diperdalam olehnya dan diberi pembatas dinding dari batu bata di bagian pinggirnya agar tidak mudah longsor. Sumber air ini kemudian dikenal dengan nama Sumur Kawak. Sumur Kawak ini hingga kini masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk keperluan MCK. Sumur ini telah diperlengkapi dengan timba, dua buah kamar mandi, serta tempat mencuci. Diameter Sumur Kawak sekitar 1,5 meter dan kedalamannya sekitar 6 meter.

Dusun Prangwedanan yang sering disebut juga sebagai Dusun Prandanan hingga kini masih terus menyelenggarakan tradisi Bersih Desa atau Merti Desa. Hal demikian biasanya dilakukan setelah masa panen. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa sykur mereka atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Selain itu juga sebagai cara untuk mengenang jasa-jasa RM. Prangwedana yang telah membuka dan menjadikan hutan di tempat itu menjadi dusun. Umumnya bersih desa di dusun ini dimeriahkan dengan kirab gunungan dan puncaknya dipergelarkan kesenian wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Sri Boyong, Sri Mulih atau Dewi Sri Boyong.

Makam RM. Prangwedana dan Terjadinya Dusun Prangwedanan, Bantul

a.sartono


Artikel Lainnya :


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta