Tembi

Berita-budaya»SEMIOTIKA VISUAL DARI KRISBUDIMAN

11 Oct 2011 07:11:00

SEMIOTIKA VISUAL DARI KRISBUDIMANSatu diskusi membahas buku ‘Semiotika Visual’ diselenggarakan program Kajian Media dan Budaya (KBM) Pascasarjana UGM, Kamis (6/10) lalu, dengan narasumber Dr. Lono Simatupang, pengajar jurusan antropologi Fakultas Imu Budaya UGM dan Dr. Aprinus Salam, pengajar jurusan sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Buku ditulis Krisbudiman, pengajar di Kajian Media dan Budaya.

Memberi pengantar diskusi, Krisbudiman berharap, bahwa diskusi ini lebih banyak membicarakan bukunya, bukan membicarakan dirinya. Karena bagi Krisbudiman, setelah buku ini selesai ditulis dan diterbitkan, dirinya bagian dari khalayak yang tidak lagi memiliki otoritas terhadap buku ‘Semiotika visual’.

Lono Simatupang melihat, semiotika prosedurnya sangat rumit, dan buku ini menunjukkan bagaimana prosedur semiotika itu digunakan. Sebagai suatu metode, semiotika menangkap atau mengkaji tanda-tanda yang dihasilkan oleh sistem budaya. Tentu saja, setiap tanda memiliki kandungan makna yang berbeda.

“Contoh yang ditunjukkan oleh Krisbudiman, saya kira bisa mewakili dua visual yang berbeda, yakni visual berupa lukisan dan visual teks, berupa puisi” ujar Lono Simatupang.

Yang perlu dipahami, demikian Lono Simatupang, Semiotika tidak sama dengan kajian budaya. Sebagai metode, semiotika bisa untuk melakukan kajian budaya. Dalam buku ini, Krisbudiman tampaknya berusaha menguaraikanSEMIOTIKA VISUAL DARI KRISBUDIMANagak detil perihal semiotika dan merujuk para ahli semiotika seperti Roland Barthes dan Ferdinand de Saussure.

Istiah semiotik, setidaknya bagi Barthes, bisa dirunut dari asal katanya. Menurut Barthes, istilah itu berasal dari bahasa Yunani, yakni semion yang mempunyai arti ‘tanda’. Dari sisi terminologis, semiotik bisa dipahami sebagai ilmu, yang mempelajarai beragam luas obyek-obyek, berbagai peristiwa kebuadayaan sebagai tanda.

Buku ‘Semiotika Visual’ karya Krisbudiman, secara selintas menyebut siapa Roland Barthes dan siapa Ferdinand de Saussure. Dibanyak buku yang mengulas, atau membicarakan semiotika, keduanya hampir-hampir tidak bisa ditinggalkan. Saussure, minat utamanya pada linguistik, gagasan pentingnya Strukturalisme, Semiologi. Pemikiran Saussure mempengaruhi pemikir-pemikir berikutnya, termasuk Roland Barthes. Saussure lahir 26 November 1857 di Jenewa, Swedia, dan meninggal 22 Februari 1913, di Vulfflensle-Chateau, Kanton Vaud, Swedia. Saussure dikenal sebagai bapak linguistic modern dan semiotika. Buku utamanya yang berjudul Cours de linguistique generale, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Pengantar linguistic umum.

SedangSEMIOTIKA VISUAL DARI KRISBUDIMAN Roland Barthes, yang lahir 12 November 1915, artinya dia lahir setelah Saussure meninggal, dikenal sebagai, filsuf, kritikus sastra dan semolog Perancis. Barthes dikenal sebagai ilmuwan yang menegmbangkan semiologi menjadi metode untuk menganalisis kebudayaan.

Buku Krisbudiman, yang disain covernya sukup semiotik, yang hanya menampilkan satu bola mata, secara praktis memperkenalkan mengenai apa itu semiotika. Membaca buku Krisbudiman, orang setidaknya bisa ‘mengenal’ semiotika dan selanjutnya, mungkin mempelajari. Istilah-istilah yang berkaitan dengan semiotika ditampilkan oleh Krisbudiman, sehingga bukunya menyerupai sejenis buku praktis.

Bagi Aprinus Salam, yang mengenal Krisbudiman sejak masih mahasiswa. Wilayah semiotika bukanlah hal yang baru bagi Krisbudiman. Karena seingat Aprinus, sejak semeseter IV tahun 1984, Krisbudiman sudah membaca buku-buku semiotik.

“Dan buku Krisbudiman, ‘Semiotika Visual, saya kira, memberikan penerang bagi orang yang tidak tahu mengenai semiotika” kata Aprinus Salam.

Ons Untoro




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta