Laksmana

Laksmana adalah anak Prabu Dasarata yang lahir dari istri ketiganya yaitu Dewi Sumitrawati. Sejak kecil Laksmana bersama-sama dengan kakak-kakaknya dididik oleh Resi Wasita yang bijaksana dan sakti, oleh karenanya ia tumbuh menjadi satria yang baik, sakti serta jujur. Kasatrian Giri Kastuba adalah tempat tinggal Laksmana, namun ia jarang sekali tinggal di kasatrian tersebut, karena sebagian besar dari hidupnya didarmakan untuk kakak tirinya yaitu Rama. Kemana pun Rama pergi, Laksmana selalu mengikutinya, hingga Laksmana tidak pernah memikirkan diri sendiri. Di Mantili ketika Rama mengikuti sayembara, Laksmana ikut bersamanya. Saat Rama memenangkan sayembara dan memboyong Sinta pulang ke Ayodya, Laksmana pun mengikutinya. Ketika Rama di usir dari Ayodya dan menjalani hidup sengsara di hutan Dandaka, Laksmana dengan setia mengikutinya.

Namun rupanya kesetiaan Laksmana yang tulus kepada Rama disikapi berbeda oleh Sinta. Sinta justru merasa tidak nyaman atas keberadaan Laksmana yang tidak mau berpisah dengan Rama suaminya. Bahkan di dalam hatinya, Sinta mempunyai anggapan bahwa Laksmana mencintai dirinya, dan ingin memilikinya. Perasaan Sinta yang tidak senang dengan pribadi Laksmana itulah yang kemudian muncul dalam wujud kata-kata.

Kata-kata yang paling tajam menusuk menyakitkan itu terlontar ketika mereka bertiga berada di hutan Dandaka. Pada saat itu mereka dihampiri seekor kijang berbulu emas yang amat lucu. Kijang tersebut mendekati Sinta, namun tidak pernah dapat disentuhnya. Ia sengaja menggoda Sinta. Rama dan Laksmana membantu Sinta untuk menangkap Kijang tersebut, namun tidak berhasil. Kijang berbulu emas yang kelihatan jinak tersebut ternyata gesit luar biasa. Rama panas hatinya, ia merasa dipermainkan oleh kijang emas tersebut. Kemana pun si kijang lari, Rama memburunya, hingga semakin jauh meninggalkan tempat di mana Sinta dan Laksmana berada.

Lama ditunggu Rama tidak muncul jua. Kecemasan mulai merambati hati Sinta dan Laksmana. Tiba-tiba dari arah tengah hutan terdengar suara jerit kesakitan. Jangan-jangan itu suara Rama yang sedang dalam bahaya. Sinta gusar, takut, dan mencemaskan keselamatan Rama. Ia menyuruh Laskmana untuk menyusul Rama. Tetapi Laksmana tidak segera pergi. Ia dihadapkan pada dua pilihan sulit. Jika ia menyusul Rama, lalu bagaimana dengan keselamatan Sinta? Dalam suasana seperti ini tidakkah Sinta lebih membutuhkan perlindungan? Karena Laksmana tidak segera pergi menyusul Rama, maka dari mulut Sinta yang mungil itu keluarlah kata-kata tajam menusuk menyakitkan Laksmana. “Apakah jika kakanda Rama mati, aku bersedia menjadi istrimu Laksmana?”

Kata-kata Sinta telah menghujam dalam di hati Laksmana. Ia sedih karena tuduhan Sinta tidak sesuai dengan nuraninya. Kecewa, karena kakak iparnya yang selama ini di hormati dan dihargai telah mengeluarkan kata-kata kasar tak berdasar. Marah, karena ia sebagai lelaki telah diremehkan. Maka dengan suara lantang Laksmana mengucapkan sumpah wadat dihadapan Sinta, disusul dengan memotong planangannya, sebagai tanda bahwa ia tidak akan kawin dengan seorang wanita. Potongan planangan Laksmana diberi nama Laksmana Sadu. Laksmana dan Laksmana Sadu hidup berdampingan tetapi tidak menjadi satu, sehingga tidak dapat saling melengkapi.

Sejak peristiwa itu, hingga akhir hidupnya Laksmana tidak beristri. Mungkin hal tersebut sebagai akibat dari hukum karma. Karena beberapa waktu sebelumnya, Laksmana telah menyakiti hati seorang wanita yang jatuh cinta kepada dirinya, dengan menampar hidungnya hingga grumpung tak berhidung. Dengan menutupi bagian hidungnya yang berlumuran darah, wanita jelmaan Sarpakenaka itu mengumpat kutuk bahwa Laksmana tidak akan pernah dapat bercinta dengan wanita.

Walaupun dalam hidupnya ada dua wanita yang jatuh hati kepada Laksmana, yaitu Dewi Antrakawulan dan Dewi Trijata, Laksmana tidak pernah dapat menanggapi cinta mereka. Apalagi semenjak Laksmana Sadu daipisahkan secara paksa dari tubuhnya, hidup Laksmana menjadi tidak utuh.

Oleh karenanya ketidak utuhan itu, diujung hidupnya, Laksmana terpaksa harus menitis pada manusia selanjutnya yang dapat menyempurnakan hidup. Laksmana menitis pada Arjuna, karena Arjunalah yang dapat mengutuhkan kembali kelelakiannya Laksmana yang telah disia-siakan dalam hidupnya. Sedangakn Laksmana Sadu yang adalah jati diri lelaki itu lebih cocok menitis pada Baladewa yang putih. Dikarenakan sebagai lelaki Baladewa mampu menempatkan kelelakiannya apa adanya dan sesuai dengan hakikatnya.

herjaka HS




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta