Dua Perempuan Luncurkan "Berkata Kaca"

Bagi Nana Ernawati dan Dhenok Kristianti, keindahan puisi terutama terletak pada kandungan isi yang dapat berfungsi sebagai ‘cermin’ diri, bukan sekadar pada keindahan atau kerumitan bahasa. Bahasa yang indah memang memberi nilai tambah pada puisi, namun puisi yang berhenti pada keindahan dan kerumitan bahasa, bisa menyulitkan pembaca untuk melihat kedalaman di balik ‘kaca’.

Nana Ernawati, penyair yang melaunching antologi puisi ‘Berkata Kaca’ di Pendapa Tembi Rumah Budaya dalam acara Sastra Bulan Purnama ke-15, Foto: Budi Adi
Nana Ernawati membacakan salah satu puisi karyanya
yang terkumpul dalam antologi puisi ‘Berkata Kaca’

Sastra Bulan Purnama edisi Jumat 29 November 2012 di Tembi Rumah Budaya, tidak dihiasi bulan, karena hujan mengguyur Yogya sejak sore hari. Namun, publik sastra Yogya tetap bergairah menghadiri launching antologi puisi ‘Berkata Kaca’ karya Dhenok Kristianti dan Nana Ernawati.

Sembari menikmati bakmi Tembi, hadirin mengikuti pembacaan puisi, pertunjukan musik dan pementasan tari, yang menggarap puisi karya Dhenok Kristianti dan Nana Ernawati. Acara diawali dengan penampilan musik jazz Jay and Gatra Wardaya, yang menggarap dua puisi karya Nana Ernawati dengan judul ‘Saat Ke Solo’ dan ‘Setangkai Mawar’.

Dua lagu jazz yang menggarap musik puisi seperti mengusir dingin malam dan rintik hujan. Karena, ketika Sastra Bulan Purnama ke-15 dimulai, hujan mulai reda dan dua lagu puisi dari Jay and Gatrawardaya seolah, akhirnya, menghentikan hujan. Kehadiran musik jazz seperti menghangatkan suasana.

Setelah itu diteruskan pembacaan dua puisi oleh seorang pembaca puisi yang penuh ekspresif. Putri Suastini, yang khusus datang dari Jakarta untuk membacakan puisi karya Dhenok Kristianti.

Antologi puisi yang berjudul ‘Berkata Kaca’ terdiri dari dua bab. Masing-masing bab terdapat 33 puisi sehingga seluruhnya ada 66 puisi. Bab pertama diberi judul ‘Pulang Menujumu’ dan bab kedua dengan judul ‘Disebuah Kota Yang Jauh’. Pengantar buku ditulis oleh Bambang Kusumo Prihandono,MA, pengajar jurusan Sosiologi Fisip Atma Jaya, Yogyakarta dan epilog ditulis oleh Veven Sp Wardhana dan diberi endorsement oleh sejumlah penyair, seperti Iman Budi Santoso, Landung Simatupang, Joko Pinurbo, Mardi Luhung, Evi Idawati, Nia Samsihono, dan Latif Noor Rochman.

Ini antologi puisi kedua Nana Ernawati dan Dhenok Kristianti, setelah keduanya menerbitkan antologi puisi berjudul ‘2 Di Batas Cakrawala’. Kedua penyair ini sejak tahun 1980-an, ketika masih tinggal di Yogya aktif menulis puisi dan dipublikasikan di sejumlah media lokal maupun nasional. Selain itu, keduanya aktif bermain teater. Sekarang, keduanya tinggal di kota berbeda, Nana Ernawati tinggal di Jakarta, dan Dhenok Kristianti tinggal di Bali. Namun keduanya masih tetap bersahabat, setidaknya dua antologi yang sudah diterbitkan sebagai bukti bahwa keduanya terus dan tetap bersahabat.

Launching antologi puisi keduanya untuk mengisi Sastra Bulan Purnama edisi ke-15. Antologi puisi diterbitkan Oleh: Tembi Rumah Budaya. Pembaca yang membacakan puisi-puisi karya Nana Ernawati dan Dhenok Kristianti, ialah Umi Kulsum, Herlina Tojo, Anisa Afsal, Eri Mariana. Masing-masing membacakan satu puisi.

Group musik jazz ‘Jay and Gatrawardaya’ tampil dalam acara Sastra Bulan Purnama ke-15 di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Foto: Budi Adi
Menyanyikan dua puisi yang terkumpul dalam antologi puisi ‘Berkata Kaca”
Jay and Gatrawardaya mengawali acara Sastra Bulan Purnama ke-15

Tiga penari dari Tembi Dance Company, Mila Rosita, Sekar Rahina dan Mede Diah Agustina, pada pertengahan acara, sekitar pukul 21.00, tampil membawakan dua puisi, yang berjudul ‘Senja Gelisah’ karya Dhenok Kristianti dan ‘Aku Ingin’ karya Nana Ernawati.

Umi Kulsum, yang membacakan satu puisi karya Nana Ernawati diiringi musik gesek, sehingga nuansa puisi Nana Ernawati terasa hidup, apalagi Umi Kulsum membacakan puisi dengan penuh ekspresif.

Sebelum acara usai dan ditutup penampilan Jay and Gatrawardaya, penyair Sitok Srengenge yang hadir dalam acara ini, secara spontan membacakan dua puisi, masing-masing karya Nana Ernawati dan Dhenok Kristianti.

“Untuk menghormati dua penyair yang telah memberi antologi puisi pada saya, dengan senang hati saya akan membacakan dua puisi karya keduanya,” kata Sitok Srengenge.

Bagi Nana Ernawati dan Dhenok Kristianti, keindahan puisi terutama terletak pada kandungan isi yang dapat berfungsi sebagai ‘cermin’ diri, bukan sekadar pada keindahan atau kerumitan bahasa. Bahasa yang indah memang memberi nilai tambah pada puisi, namun puisi yang berhenti pada keindahan dan kerumitan bahasa, bisa menyulitkan pembaca untuk melihat kedalaman di balik ‘kaca’.

“Jika hal itu terjadi maka ‘kaca’, dalam hal ini puisi, malah tidak berkata apa-apa kepada pembaca,” Kata Nana Ernawati dan Dhenok Kristianti.

Bambang Kusumo Prihandono, MA, pengajar jurusan Sosiologi Fisip Atmajaya, yang memberi pengantar antologi puisi ‘Berkata Kaca’, melihat puisi Nana Ernawati dan Dhenok Kristiati, seperti mendengarkan gumam-gumam yang nyaring menusuk kedalaman, apalagi dibaca berulang-ulang. Bagi Bambang Kusumo, puisi karya keduanya memang tidak mengeluarkan suara yang pekak, namun justru menghunjam ke keheningan. Justru keheningan inilah estetika puitik dari pengalaman menjadi hadir.

“Kerinduan terhadap yang awal, mungkin bisa disebut perjalanan spiritual, menjadi dunia estetika. Perlawanan tak pernah bersuara, namun berganti menjadi kepasrahan, yang merentang pada masa lalu yang ditaruh di masa depan,” kata Bambang Kusumo Prihandono.

Dhenok Kristianti, salah seorang penyair yang sekarang tinggal di Bali melaunching antologi puisi ‘Berkata Kaca’ dalam acara Sastra Bulan Purnama ke-15 di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Foto: Budi Adi
Dhenok Kristianti membacakan salah satu puisi karyanya
dalam acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya

Ons Untoro

Foto: Budi Adi

Artikel Lainnya :


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta