'BEAUTY SCREAM' DI KOTA

'BEAUTY SCREAM' DI KOTAPameran seni grafis karya Agung ‘Pekik Hanafi Purboaji di Bentara Budaya Yogyakarta mengetengahkan tajuk ‘Beauty Scream’. Pembukaan pameran dilakukan oleh Djoko pekik, seorang pelukis ternama, Jum’at malam (4/11) lalu. Dalam karyanya Agung melakukan eksplorasi mengenai kota, namun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘Beauty Scream’ di kota. Agung sendiri mengartikan ‘beauty scream’ sebagai teriakan yang indah, dan kota yang dia eksplorasi sebagai ruang untuk mendistribusikan teriakan indah.

Entahlah. Apa hubungan antara teriakan indah dengan kota. Yang pasti, melalui karyanya Agung ‘Pekik’ Hanafi Purboaji, kota-kota yang dieksplorasi menampilkan wajah-wajah khas kota, penuh bangunan bertingkat. Padat penduduk dan, tidak lupa, menghadirkan pejabat publik di kota yang membangun retorika. Lagi-lagi, entah apa hubungan antara retorika dan kota.

Wajah kota yang ditampilkan dalam karya-karya Agung adalah wajah kota modern dengan simbol-simbol bangunan yang megah dan bertingkat(-tingkat). Dibalik kota yang megah dan modern, ada bagian wajah yang kumuh, sehingga sebenarnya, setidaknya dari apa yang divisualkan Agung, kota tidak selalu indah. Melainkan selalu memiliki sisi lain yang ‘gelap’. Wajah ‘gelap’ itu ditampilkan dalam bentuk pemukiman kumuh. Pada kota ‘wajah gelap’ ini bisa dilihat dalam karyanya yang berjudul ‘Rumah Pinggir Kali’'BEAUTY SCREAM' DI KOTA

Di Yogya kita mudah menemukan rumah pinggir kali, karena kota Yogya dilewati setidaknya yang membelah tengah kota, dua buah sungai. Kiranya, Agung ‘Pekik’ Hanafi mengenali rumah-rumah yang ada di pinggir kali. Dulu, setidaknya 30 tahun lalu, atau 40 tahun lalu, rumah-rumah pinggir kali merupakan perkampungan kumuh, tetapi dengan berkembangnya kota, daerah kumuh telah mengembangkan dirinya, sehingga memberikan wajah baru.

Namun agaknya, kota yang ‘dibangun’ oleh Agung “Pekik” hanafi merupakan kota yang dia bayangkan, atau kota imajinatif. Atau setidaknya bukan kota Yogya, meski referensi kota Yogya terkadang muncul, misalnya pada karya yang berjudul ‘Pasar tepi rel’. Untuk di Yogya, mengingatkan pada pasar Tamansari yang memang ada di tepi rel.

'BEAUTY SCREAM' DI KOTAImajinasi Agung mengembara pada kota yang sepi, yang sama sekali tidak ada kendaraan lewat, sehingga bangunan-bangunan bertingkat menjadi terasa sunyi. ‘Andaikan kota sepi’ demikianlah judul lukisan itu. Padahal yang namanya kota pasti selalu ramai. Kalaupun kota menjadi sepi durasinya tidak lama. Atau setidaknya kota di tengah malam. Kota-kota di Indonesia, kebanyakan kalau tengah malah seperti kota mati. Sepi, seolah tak berpenghuni.

“Bagi masyarakat kota yang selama ini merasakan kehidupan kota yang multi kompleks juga merindukan suasana sepi dari hiruk pikuk sehari-hari sehingga kadang berandai-andai betapa nikmatnya kalau kota menjadi sepi sejuk segar tanpa polusi….hemmmm….sesuatu yang unik akhirnya suasana pedesaan yang sunyi terasa begitu keras bunyinya bagi masyarakat kota yang selalu sibuk dengan kebisingan di segala hal..grrr…” tulis Agung ‘Pekik’ Hanafi.

Dari karya-karya yang dipamerkan, ada satu karya yang unik, visual dari karya ini berupa sepeda onthel. Kita tahu, sepeda onthel me'BEAUTY SCREAM' DI KOTArupakan jenis kendaraan khas di Yogya, bahkan kendaraan ini pernah ‘memiliki’ klasnya sendiri pada jamannya. Meski sekarang, sepeda tidak mendapat tempat yang ‘layak’ di jalan raya. Lagi-lagi, karena kemajuan kota, pelebaran fasilitas jalan bukan yang utama untuk memberi tempat pada sepeda onthel, tetapi untuk menunjukkan wajah kota yang semakin padat kendaraan bermotor.

Visual kota-kota dari Agung ‘Pekik’ Hanafi, adalah visual kota imajinatif, yang barangkali kelak akan terjadi. Bisa dikatakan, meski kini jaman modern, tetapi wajah kota yang dieksplorasi Agung bukan wajah kota di mana dia tinggal dan dilahirkan, melainkan kota yang kelak mungkin akan dihuni Agung.

Tapi kenapa membayangkan kota sepi?

Padahal kita tahu, kota selalu ramai, bahkan sangat bising dan padat pemukiman. Kalau mengandaikan kota sepi, artinya sedang membayangkan kota di satu jaman kelak dan di bumi yang berbeda dengan kita huni sekarang.

Maka, teriakan indah, adalah suasana dari imajinasi kota.

Ons Untoro




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta