Prajurit Keraton Kasultanan Yogyakarta (2)

Author:editorTembi / Date:15-11-2014 / Kini jumlah prajurit di Keraton Yogyakarta kira-kira hanya sekitar 700 orang. Pimpinan dari keseluruhan prajurit yang ada disebut dengan nama Manggalayuda atau disebut juga Komandan/Kumendham.

Pada masa awal berdirinya Kasultanan Yogyakarta, kerajaan ini memiliki 26 bregada (kesatuan) prajurit. Namun pada masa Sultan Hamengku Buwana V (1822-1826) Yogyakarta hanya memiliki 13 bregada prajurit. Sedangkan pada masa Sultan Hamengku Buwana VII (1855-1877) dan VIII (1877-1921) hanya tinggal memiliki 12 bregada prajurit. Saat ini bregada-bregada prajurit Keraton Yogyakarta berada di bawah Pengageng Tepas Keprajuritan. Namun pada masa Sultan Hamengku Buwana I-IX bregada-bregada prajurit berada di bawah Kawedanan Hageng Punakawan.

Kini jumlah prajurit di Keraton Yogyakarta kira-kira hanya sekitar 700 orang. Pimpinan dari keseluruhan prajurit yang ada disebut dengan nama Manggalayuda atau disebut juga Komandan/Kumendham. Akan tetapi sebutan lengkapnya adalah Bupati Enem Wadana Prajurit Manggalayuda. Manggalayuda dibantu oleh Pandhega yang secara khusus bertugas menyiapkan pasukan.

Setiap pasukan atau bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten. Sedangkan khusus untuk pasukan Bugis dan Surakarsa dipimpin oleh seorang Wedana. Pandhega (Kapten) didampingi oleh perwira yang disebut Panji (Lurah). Jumlah Panji (Lurah) dalam masing-masing pasukan bisa berbeda-beda. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji.

Regu-regu dalam pasukan dipimpin oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Keseluruhan perwira dalam pasukan/bregada dipimpin oleh seorang Pandhega, kecuali Bregada Wirabraja dan Mantrijero yang berada di bawah pimpinan/komando langsung dari Manggalayuda/Komandan/Kumendham.

Sebutan lengkap untuk Komandan/Kumendam adalah Komandhan Wadana Hageng Prajurit. Komandan ini memiliki dua seragam resmi, yakni Busana Prajuritan dan Busana Garebeg. Sedangkan Pandhega (Kapten) juga memiliki sebutan untuk kedudukannya adalah Bupati Enem Wadana Prajurit. Pandhega pun memiliki dua busana seragam resmi, yakni Busana Prajuritan dan Busana Grebeg.

Busana Prajuritan dari Manggalayuda (Komandan/Kumendham) berupa songkok hitam (semacam topi) dengan lis kuning keemasan melingkar keliling topong, dan garis-garis kuning menuju ke satu titik, yakni di puncak topong (songkok). Selain itu songkok tersebut juga dilengkapi udheng (blangkon) dengan corak atau motif modhang. Baju berupa baju sikepan warna hitam dengan bludiran di bagian leher, baju bagian depan, baju bagian bawah, dan ujung lengan bawah.

Khusus untuk Busana Prajuritan yang digunakan untuk gladhi resik, baju sikepan yang dikenakan berwarna hitam polos tanpa bludiran. Baju dalam atau rangkepan yang dikenakan berwarna putih. Kamus berwarna hitam berbludiran kuning emas dengan timang-nya dikenakan di luar baju sikepan. Kain batik dikenakan dengan model supit urang. Celana yang dikenakan adalah celana panji-panji warna hitam denga lis kuning keemasan di bagian bawah. Sepatu pantofel hitam, kaus kaki hitam, dan sarung tangan putih. Selain itu ada pula dasi kupon (kupu-kupu) dan membawa pedang komando. Keris yang dikenakan berwarangka branggah (ladrang) diselipkan di pinggang belakang di-kewal condong ke kiri. Keris tidak dilengkapi oncen (untaian bunga).

Selain Busana Prajuritan, Manggalayuda juga memiliki busana resmi yang disebut Busana Grebegan. Busana ini terdiri dari kuluk (semacam topi dengan bentuk seperti ember terbalik) warna biru polos, rambut digelung, baju sikepan berwarna hitam berbudliran. Baju rangkepan (baju dalam) berwarna putih, berkampuh (dodot-kain panjang), berkeris dengan warangka branggah atau ladrang dan dengan oncen. Keris diselipkan di pinggang belakang (tidak di-kewal). Celana panjang cinde dengan plisir kuning di bagian bawah. Selain itu dilengkapi dengan canela (selop) berwarna hitam sebagai alas kakinya serta membawa teken/tongkat komando.

(bersambung)

Ke Yogya yuk ..!

a.sartono 
foto: a.barata & a.sartono
sumber: Ir. H. Yuwono Sri Suwito, M.M., 2009, Prajurit Kraton Yogyakarta: Filosofi dan Nilai Budaya yang Terkandung di Dalamnya, Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta pada tahun.

Yogyakarta Yogyamu

Latest News

  • 27-11-14

    Misbar Kineforum Sug

    Program Misbar, kerja sama Kineforum dan Dewan Kesenian Jakarta memasuki tahun kedua. Bioskop temporer hasil desain Bob Anzac Perwira dan Gerrits SBC... more »
  • 27-11-14

    SMA I Temon Berfoto

    Bagi mereka berfoto dengan tamu asing (bule) mungkin merupakan kesempatan yang langka. Terpaksalah tamu asing tersebut melayani mereka untuk berfoto... more »
  • 27-11-14

    Pak Tatang Terbang d

    Buku ini merupakan buku cerita untuk anak-anak dengan bahasa yang sangat ringan. Mengisahkan seekor anak perkutut yang diberi nama Manyul dan... more »
  • 26-11-14

    Ngayogjazz yang Wang

    Tagline tersebut adalah bentuk representasi dari bunyi kendang yang merupakan intro. Intro di sini merupakan sebuah proses untuk membuka atau memulai... more »
  • 26-11-14

    Durung Tekan Titi Ma

    Pepatah ini mendasarkan diri pada pandangan bahwa semua ada saatnya. Semua kehidupan di dunia ini sesuai dengan timing atau waktunya. Pada sisi ini... more »
  • 26-11-14

    Kamus Bahasa Melayu

    Perpustakaan Tembi mengoleksi buku-buku maupun naskah kuno, yang terbuka bagi siapa pun untuk membacanya. Salah satu koleksinya adalah buku berupa... more »
  • 25-11-14

    Anak-anak SD Suryodi

    Anak-anak ini cukup heboh bertanya dan berfoto saat berada di dalam ruang Madyosuro yang menyimpan ikon budaya Jawa, seperti keris, tombak, batik,... more »
  • 25-11-14

    Karte Wardaya, Meluk

    Di usianya yang ke-48 Karte semakin mantap dengan jalan melukis. Ia bisa menjalani profesinya di rumah, mempunyai lebih banyak waktu bergaul dengan... more »
  • 25-11-14

    Puntadewa adalah Keb

    Pada umumnya Puntadewa dianggap tokoh baik, berwatak suci, berbudi halus, sabar, berbelas kasih, setia, tidak mau mengecewakan orang lain, dan tulus... more »
  • 24-11-14

    Diskusi Novel Meja 1

    Setelah diluncurkan dalam acara Sastra Bulan Purnama Senin malam 10 November 2014, novel ‘Meja 17’ karya Irwan Abu Bakar, sastrawan Malaysia,... more »