Tuk Heneng Petilasan Baru

Tuk Heneng Petilasan Baru

Keletakan

Tuk Heneng secara administratif terletak di Padukuhan Ngringinan, Dusun Taruban, Kalurahan Palbapang, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Lokasi Tuk Heneng dapat dijangkau melalui Jalan Bantul. Setelah sampai di Perempatan Palbapang pengunjung dapat terus mengikuti Jalan Bantul ke arah selatan. Kurang lebih satu kilometer sebelum gang menuju Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran terdapat sebuah gang masuk ke Padukuhan Ngringinan. Pengunjung dapat mengikuti gang tersebut kea rah timur. Pada jarak jurang lebih 500 meter pengunjung akan sampai di lokasi.

Kondisi Fisik

Tuk Heneng merupakan sumber atau mata air yang terdapat di pekarangan (kebun) milik keluarga Widi Saryono (75). Tuk atau sumber air ini telah diberi pengaman berupa dinding tembok berbentuk persegi. Ukuran tembok (kolam) pengaman kira-kira 2 m x 2,5 m. Kedalaman kolam sekitar 1-2 meter. Kolam tersebut juga dilengkapi dengan tembok atau pagar pengaman yang terbuat dari batako yang merangkap sebagai tembok pagar pengaman pekarangan. Di sisi timur kolam yang merupakan pusak dari Tuk Heneng ini juga terdapat kamar mandi. Kamar mandi berjumlah dua buah yang diperuntukkan bagi pria dan wanita. Sayangnya, Tuk Heneng dengan segala kelengkapannya tersebut kelihatan kotor karena kurang terawat.

Tuk Heneng Petilasan Baru

Pada sisi utara barat dari Tuk Heneng terdapat Sumur Tua. Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 6 meter. Diameter sumur sekitar 120 Cm. Air dari Sumur Tua dan Tuk Heneng ini merupakan air yang dulu banyak dicari orang karena dipercaya memiliki manfaat lebih daripada air biasa. Air dari kedua sumber ini dipercaya mampu menjai sarana bagi kesembuhan.

Latar Belakang

Tuk Heneng pada masanya bukanlah tuk atau sumber air yang keluar dengan sendirinya. Tuk atau sumber air ini ada karena dibuat oleh seseorang. Orang tersebut bernama Ajikusumo, yakni seorang yang merupakan trah dari Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Pembuatan tuk itu sendiri dilakuakn setelah orang yang bersangkutan mendapatkan semacam wangsit. Tempat pembuatan tuk atau sendang itu sendiri dilakukan Ajikusumo di sebuah pekarangan milik Widi Saryono. Kebetulan salah satu putra Widi Saryono menjadi teman dari Ajikusumo.

Tuk Heneng Petilasan Baru

Semula pekarangan milik Widi Saryono hendak dijadikan kolam ikan oleh keluarga Widi Saryono namun diminta untuk dibatalkan oleh Ajikusumo dengan alasan bahwa Ajikusumo mendapat wangsit untuk membuat atau membuka sumber air di pekarangan yang dimaksud. Ajikusumo pun kemudian mencari titik sumber mata air itu dengan menancapkan sebatang bambu wulung di atas tanah yang dipandangnya menjadi titik sumber air. Setelah bambu wulung ditancapkan ternyata memang keluar air. Mulai saat itu mata air ini sering didatangi orang dengan berbagai harapan. Pencarian atau pembuatan tuk atau sumber air tersebut dilakukan pada tahun 2001. Akan tetapi pada tahun 1950-an sumber setempat menerangkan bahwa pemiliki pekarangan ini pernah bermimpi ada rembulan jatuh di pekarangannya, tidak jauh dari tempat keluarnya air.

Akhirnya tuk ini dinamakan Tuk Heneng. Tuk Heneng menurut sumber setempat merupakan simbol atau kependekan dari istilah tutuke meneng (mulutnya diam). Artinya, sebaiknya orang dapat menjaga mulutnya. Menjaga ketenangan lahir dan batin. Selain itu istilah heneng juga berarti tenang atau hening. Hal ini dimaksudkan agar orang selau berupaya menenangkan pikiran dan hatinya jika berhubungan dengan Tuhan agar semua keinginan baiknya dikabulkan Tuhan.

Tuk Heneng Petilasan Baru

a.sartono


Artikel Lainnya :


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta