Shelter Busway yang Kurang Aman dan Nyaman

03 May 2014 Dulu waktu layanan busway masih baru, semua terlihat masih bersih dan terjaga termasuk shelternya. Namun, sekarang ini jangan ditanya, akan jarang sekali kita melihat shelter yang benar-benar nyaman dan aman.

Halte busway makin rusak, foto: www.kaskus.co.id
Pengguna busway berjejalan menunggu giliran 
masuk ke halte. foto: www.kaskus.co.id

Ada empat alasan utama mengapa orang Jakarta memang lebih memilih menggunakan busway dibandingkan kendaraan umum lainnya, yakni tarif murah, dapat menghubungkan berbagai tempat di Jakarta dengan cepat, lebih nyaman dibandingkan dengan angkutan umum lainnya, dan juga keamanan yang lebih terjamin.

Tarif bus ber-AC (Air Conditioning) sebesar Rp 3.500 per perjalanan ini dianggap warga cukup terjangkau, terutama untuk tujuan jarak jauh karena penumpang yang pindah jalur maupun transit di halte busway manapun tidak perlu membayar lagi, asalkan tidak keluar dari halte.

Sayangnya, selama 6 tahun ini pengembangan dan pengelolaan busway tidak sesuai dengan harapan para penggunanya. Selain jumlah busnya masih terbatas, juga fasilitas pendukungnya kian tak terawat.

Halte busway makin rusak, foto: news.viva.co.id
Sebagian kanopi jembatan penghubung halte 
busway sudah hilang. foto: news.viva.co.id

Ambil contoh. Untuk mencapai shelter (halte) busway di Terminal Blok M, pengguna harus turun ke bagian basement untuk membeli tiket di counter penjualan tiket busway. Di halte busway-nya, kebersihan bisa dibilang tidak begitu layak. Bau yang kurang sedap menyengat, berdebu, banyak sampah, bahkan petugas keamanan terlihat ogah-ogahan untuk menjaga shelter tersebut. Saat malam hari, lampu penerangan di halte pun remang-remang.

Dulu waktu layanan busway masih baru, semua terlihat masih bersih dan terjaga termasuk shelternya. Namun, sekarang ini jangan ditanya, akan jarang sekali kita melihat shelter yang benar-benar nyaman dan aman. Padahal sarana angkutan ini mulai dipergunakan rutin oleh orang-orang guna menghindari kemacetan di jalanan yang makin tidak masuk akal.

Halte busway makin rusak, foto: www.kaskus.co.id
Alas jembatan penyeberangan hilang, pengguna pun harus 
bertaruh nyawa untuk melintasinya. foto: www.kaskus.co.id

Dengan kondisi halte yang makin buruk kondisinya memang membuat pengguna busway berlipat dua kelelahannya setelah lelah bekerja. Apalagi jika sudah malam tiba, pengguna masih dihantui oleh rasa khawatir karena faktor keamanan yang minim di halte dan jembatan penyeberangan jalan.

Sebenarnya simpel untuk membuat makin banyak orang meninggalkan kendaraan pribadi, dan dengan demikian mengurangi kemacetan di Jakarta, yaitu menyediakan fasilitas yang nyaman dan aman di sarana umum ini. Namun, memang yang simpel itu sulit dilakukan, ternyata.

Beatrix R Imelda

Artikel Terbaru

  • 02-04-16

    Sastra dan Lagu Puis

    Sastra dan seni rupa memang seringkali bertemu di Tembi. Kali ini, lagi-lagi di Tembi Rumah Budaya, pembukaan pameran S Wandhie yang diberi tajuk ‘... more »
  • 02-04-16

    Selasa Kliwon Pekan

    Pranatamangsa masuk mangsa Kasepuluh (10), umurnya 24 hari, mulai 26 Maret s/d 18 April. Musim padi tua, burung-burung sedang membuat sarang. Ternak-... more »
  • 02-04-16

    Kisah Kematian Sumit

    Pada ulang tahun ke-5 paguyuban dalang-dalang muda Sukrokasih Yogyakarta mengadakan pentas pakeliran apresiasi. Kali ini yang ditampilkan adalah... more »
  • 01-04-16

    Melalui Sandi Eksist

    Museum Sandi Yogyakarta yang terletak di Jalan Faridan M Noto 21 Kotabaru, menyimpan kisah penting tentang peran Lembaga Sandi di awal kemerdekaan... more »
  • 01-04-16

    Dokumentasi Pembuata

    Berikut ini adalah foto-foto tentang proyek pembuatan jalan kereta api di Jawa oleh perusahaan perkeretaapian Belanda. Proyek ini pada masa itu tentu... more »
  • 31-03-16

    Urban Gigs 2016, Unj

    Gelora jiwa muda terpancar di area perkir timur Gor Amongrogo Yogyakarta  manakala hujan reda dan aroma basah mulai terhembus dari uap jalan... more »
  • 31-03-16

    Melihat Asia Tenggar

    Judul            : Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450 – 1680. Jilid 1 : Tanah di Bawah Angin... more »
  • 30-03-16

    Selama Sebulan S Wan

    Perupa dari Sidoarjo, S Wandhie akan menggelar karya-karyanya di ruang pamer Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta, selama satu bulan... more »
  • 30-03-16

    Gatot Nugroho: Beker

    “Bekerja di museum itu kuncinya harus ikhlas,” ungkap Gatot Nugroho.  “Jika kita ikhlas, maka hati kita akan senang. Walaupun keikhlasan kita... more »
  • 30-03-16

    Monumen Brimob Seday

    Monumen Brigade Mobil (Brimob) Polri berada di Dusun Sengon Karang, Kelurahan Argodadi, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Bila... more »