Mata Jokowi Ditutup Kain Meskipun Langit Runtuh

03 Feb 2015 Lukisan ini hanyalah salah satu dari sejumlah lukisan karya perupa, yang dipamerkan dengan tajuk ‘Realistic’. Selain lukisan di atas kanvas, ada beberapa patung yang dipajang. Dan ‘realistic’ ini memang menyajikan karya-karya yang sifatnya representatif, atau kalau dalam istilah lain disebut sebagai mimetik: meniru kenyaataan yang sebenarnya.

Meskipun Langit Runtuh lukisan karya Sigit Santosa dipamerkan dengan tema ‘Realistic’ di Tahunmas ArtRoom, foto: Ons Untoro
Meskipun Langit Runtuh, karya Sigit Santosa

Jokowi bertelanjang dada, kedua tangannya di dada, yang dalam bahasa Jawa disebut sedakep. Ia mengenakan celana warna hitam, matanya ditutup dengan kain. Visual dalam seni rupa karya Sigit Santosa ini diberi judul ‘Meskipun Langit Runtuh’ dan dipamerkan 24 Januari-7 Februari 2015 dengan tajuk ‘Realistic’ di Tahunmas Art Room, Kasongan, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Lukisan dengan ukuran 145 cm x 115 cm ini dibuat tahun 2014. Dengan demikian lukisan itu ada sebelum peristiwa politik yang menimpa Jokowi selaku presiden. Karena itu, karya ini sesunggugnya tidak sedang menyampaikan kritik kepada Jokowi, bahwa dia tutup mata atas kasus-kasus yang muncul, terutama KPK vs Polri. Hanya saja, lukisan ini timing-nya tepat ketika dipamerkan, sehingga seolah sedang melakukan kritik.

Lukisan ini hanyalah salah satu dari sejumlah lukisan karya perupa, yang dipamerkan dengan tajuk ‘Realistic’. Selain lukisan di atas kanvas, ada beberapa patung yang dipajang. Dan ‘realistic’ ini memang menyajikan karya-karya yang sifatnya representatif, atau kalau dalam istilah lain disebut sebagai mimetik: meniru kenyaataan yang sebenarnya.

Bukan karya fotografi, tetapi persis seperti obyeknya. Maka, wajah Jokowi, Sudjojono dan lainnya ditampilkan sebagaimana adanya, dan orang akan segera mengenalinya, dan itulah realistic, Mikke Susanto, kurator pameran ini menyebutkan, realistik merupakan metode melukis subjectmatter yang menekankan akurasi obyek.

“Para perupa mengerjakannya menurut kenyataan yang berdasarkan observasi fisik: anatomi, warna, proporsi objek yang benar secara objektif,” kata Mikke Susanto.

Teater Abu-Abu karya Pupuk Daru Purnomo dipamerkan dengan tema “Realistic’ di Tahunmas ArtRoom, foto: Ons Untoro
Teater Abu-Abu, karya Pupuk Daru Purnomo

Dijelaskan olek Mikke, realistik berdekatan dengan seni rupa representasional. Seni rupa representasional merupakan seni rupa yang bertema objek-objek sekitar kita dan diwujudkan dengan gaya yang representatif atau seperti aslinya.

“Seni representasional juga berdekatan artinya dengan mimesis atau tiruan. Jika dirujuk dari asal katanya mimesis berarti imitasi atau representasi,” ujar Mikke Susanto.

Karya realistik, meski menunjuk realitas yang tampak, tetapi tidak menyajikan kisah faktual. Karena yang tampak dalam karya seni rupa, bukan seperti ‘kenyataan yang sedang terjadi’, atau setidaknya berangkat dari fakta yang dilihat, terus direproduksi. Lukisan yang menyajikan Jokowi bertelanjang dada dan matanya ditutup, bukan berangkat dari ‘kenyataan yang dilihat’ perupanya, bahwa Jokowi dalam objek seperti itu, tetapi imajinasi perupanya melalui visual Jokowi.

Dalam kata lain, ‘tiruan’ pada karya realistik tidak seperti fotokopi ataupun fotografi, melainkan menyertakan kreativitas dan mendasarkan dari realitas yang sudah dikenal oleh banyak orang, misalnya wajah Sudjojono yang sudah dikenal dan perupa melukis Sudjojono, berdasar dari wajah yang sudah dikenali secara umum, yang kemudian dikreasi sendiri oleh perupanya.

Pameran “Realistic’ ini memang menampilkan satu objek, yang orang bisa mengenalinya. Namun objek itu bukan ‘kenyataan’ yang terjadi, melainkan satu kenyataan yang dikenali. Detail dari kenyataan, seperti visul wajah tokoh, memperkaya dari wajah yang dikenali itu, tetapi bukan wajah yang ditemukan saat karya lukis diciptakan. Karena visual wajah tidak berangkat dari model. Bisa jadi dari foto, tetapi tidak mengopi secara utuh. Dari visual yang dikenali, kreativitas perupa menciptakan detail dari visual yang dikenali.

Suasana ruang pamer Tahunmas artRoom di Kasongan, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, foto: Ons Untoro
Suasana Ruang Pamer

Maka, ‘Realistiknya’ karya Pupuk Daru Purnomo, yang diberi judul ‘Teater Abu-Abu’ berbeda dengan karya Sigit Santosa yang berjudul ‘Meskipun Langit Runtuh’. Pada karya Pupuk, realistiknya malah terasa ‘melompati’ dari anatomi manusia, sehingga lebih terasa surealistik. Jadi,’ realistic’ tidak selalu menunjuk kenyataan faktual.

Naskah dan foto: Ons Untoro

Berita BUDAYA

Baca Juga

Artikel Terbaru

  • 01-08-15

    Hari Baik dan Hari J

    Orang yang lahir pada Selasa Kliwon, pada periode usia 0 s/d 12 tahun, adalah ‘PA’ Pandhita, baik. Usia 12 s/d 24 tahun, adalah ‘SA’ Sunan, baik.... more »
  • 01-08-15

    Tajong Samarinda Dib

    Tajong Samarinda pada mulanya dibawa oleh para pendatang Suku Bugis Wajo yang berpindah ke Samarinda karena tidak mau patuh pada perjanjian Bongaja... more »
  • 01-08-15

    UU Tata Niaga Gula d

    Di Perpustakaan Tembi tersimpan dengan baik buku lawas ini yang berisi tentang undang-undang tata niaga gula di Hindia Belanda. Peraturan ini... more »
  • 31-07-15

    Kue Cubit Kudapan Po

    Berawal dari makanan cemilan gerobak yang banyak dijual di sekolah-sekolah dasar, kue mungil berbahan dasar tepung ini semakin populer bahkan “naik... more »
  • 31-07-15

    mas Bekel

    mas Bekel more »
  • 28-07-15

    Masalah Ekologi Indo

    Buku ini berisi tentang masalah ekologi terutama di Indonesia dalam perspektif dekade 1950-an. Pertambahan jumlah penduduk mau tidak mau memang akan... more »
  • 28-07-15

    From The New World d

    Indonesian Youth Symphony Orchestra (IYSO) kembali tampil di Tembi Rumah Budaya dengan melibatkan banyak anggota Sri Aman Orchestra, Malaysia,... more »
  • 28-07-15

    Penggurit Dua Kota A

    Para penggurit dari dua kota, Yogyakarta dan Surabaya, akan tampil bersama dalam launching antologi geguritan karya masing-masing penggurit, Jumat 31... more »
  • 28-07-15

    Prajurit Mantrijero

    Prajurit Mantrijero Sarahasta atau pembawa tombak terdiri atas beberapa jenjang kepangkatan, yakni Wedana dan Lurah, Operwahmister (Wirawredhatama)... more »
  • 28-07-15

    Warangka Ladrang (1)

    Ladrang adalah salah satu ragam bentuk warangka keris gaya Surakarta, sedangkan versi Yogyakarta disebut dengan nama branggah, walaupun keduanya... more »