Tembi

Bale-dokumentasi-resensi-buku»Makam makam Wali Sanga di Jawa

29 Apr 2009 12:22:00

Perpustakaan

Judul : Makam-makam Wali Sanga di Jawa
Penulis : Dr. Machi Suhadi, Dra. Ny. Halina Hambali
Penerbit : Depdikbud, 1994/1995, Jakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : vi + 146
Ringkasan isi :

Tinggalan-tinggalan sejarah dan kepurbakalaan dari masa pertumbuhan agama Islam di Indonesia merupakan khasanah budaya yang ikut menjadi bagian dari kebudayaan nasional yang sekaligus juga memberikan corak dan nafas baru keislaman. Tinggalan nyata tersebut antara lain makam-makam para wali, sultan dan anggota masyarakat lain yang sudah beragama Islam yang tersebar luas di seluruh pelosok Nusantara. Rekayasa rancang bangun makam para wali dan penyebar agama Islam di Indonesia mengadaptasikan arsitektur lokal yang sudah ada sebelumnya baik yang bersifat Hindu Budha maupun bangunan asli berupa punden berundak. Ini adalah rekayasa alami yang mengikuti proses panjang selama berabad-abad. Masyarakat Islam di Indonesia sangat menghormati orang suci, termasuk makamnya yang dianggap sebagai makam keramat.

Agama Islam memberikan pengaruh yang besar, luas dan dalam pada masyarakat Nusantara secara umum. Islam selain memberikan perubahan-perubahan mendasar pada sifat, hakikat dan bentuk peribadatan serta kepercayaan pada Tuhan, juga memberikan corak yang dominan pada budaya materi sesuai dengan nafas keislaman. Hal ini tampak pada kehidupan dan ekspresi estetika serta penandaan simbolisme, misalnya bentuk masjid, seni hias, kaligrafi, wayang serta seni lukis.

Di Indonesia pada umumnya dan di Jawa pada khususnya pengertian wali mengacu kepada orang suci yang pandai (Jawa: linuwih) dan keramat yang tugasnya mencerdaskan dan menyejahterkan rakyat. Peranan para wali khususnya Walisanga, disebut-sebut dalam historiografi terutama dalam babad, sajarah, dan wawacan. Istilah Walisanga dipakai untuk menyebut 9 orang wali yang terkenal yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Hadirnya para wali baik yang merangkap sebagi pemimpin politik (raja) maupun hanya sebagai pemimpin yang kharismatik karena keunggulan ilmu keislamannya telah mengubah sebagian masyarakat Jawa menjadi masayarakat “pemuja” wali. Tidak mengherankan apabila sampai saat ini makam-makam para wali masih sering diziarahi, tidak hanya oleh keturunannya tetapi juga masyarakat luas.

Para wali dimakamkan di tempat yang berbeda dengan bentuk kompleks pemakaman yang berbeda pula, tergantung kepada kemampuan para pendukungnya, baik finansial maupun arsitekturnya. Maulana Malik Ibrahim ( Sunan Gresik) yang dimakamkan di kota Gresik makamnya dibuat sangat indah dan spektakuler pada jamannya. Lokasi makamnya ada di kompleks makam Pusponegoro, Desa Gapura, Kecamatan Sukalila, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kompleks makam ini sangat luas dan makam Maulana Malik Ibrahim berada dalam bangunan cungkup, berjajar arah barat-timur beserta dua makam lain yang memiliki bentuk jirat dan nisan serupa. Makam sang wali berada di deret paling barat kondisi nisan bagian kepala dan kaki masih utuh. Yang di tengah makam Siti Fatimah istrinya dan paling timur makam Moqfaroh anaknya. Nisan kubur di kompleks makam Maulana Ibrahim ini bertuliskan kaligrafi yang mengutip ayat-ayat Al Quran.

Lokasi makam Sunan Ampel (Raden Rakhmat) terletak di dalam kompleks Masjid Jami, Ampel Surabaya. Di depan kompleks terdapat pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makam Sunan Ampel terpisah dari lainnya dan diberi pagar teralis dari besi setinggi 110 cm. Pada bagian selatan terdapat pintu yang dapat dibuka dan ditutup. Jiratnya bersusun empat tingkat, nisan bagian atas berbentuk seperti daun teratai. Makam ini dikelilingi tembok yang tebal dan kuat tetapi tanpa atap. Hiasannya terpuast pada gapura dan masjid. Hiasan di atas gapura berupa motif bunga dan suluran. Pada dinding gapura sisi dalam terdapat hiasan medali dan bintang segi delapan. Mimbar masjid dihiasi motif garuda, plengkung mimbar dihiasi medallion dan daun-daunan.

Kompleks makam Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim) dikelilingi oleh tembok yang mempunyai 4 pintu gapura. Di halaman dalam banyak terdapat makam kerabatnya. Makam Sunan Bonang sendiri dilindungi oleh sebuah cungkup dengan atap berbentuk joglo bersusun 2 tingkat, tiangya dari kayu jati berukir. Makam Sunan Bonang ditutupi sebuah kelambu. Nisan bagian atas dihias dengan pahatan matahari (merupakan corak hias Majapahit) dan bagian bawah dipahat dengan hiasan tumpal. Pada jirat dan nisannya tidak terdapat tulisan. Selain bangunan cungkup, di kompleks ini juga terdapat masjid tua yang dikenal dengan nama Masjid Bonang.

Makam Sunan Giri (Raden Paku) terletak di Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Kompleks makam ini luas dan berada di ketinggian sekitar 30 meter dari halaman tempat parkir kendaraan. Bangunan makam berbentuk joglo, pintu masuknya kecil dan sempit tetapi daun pintunya penuh ukiran rumit. Di dalam bangunan ini ada bangunan lebih kecil, merupakan makam Sunan Giri. Cungkup kecil yang melindunginya penuh dengan ukiran ragam hias suluran, daun dan bunga. Di ambang pintunya ada pahatan kala makara dan naga. Sekitar 30 cm di luar jirat dipasang “pagar” keliling dari kayu yang berbentuk seperti pelindung tempat tidur kayu. Jiratnya polos, pahatan dan ukirannya tidak begitu jelas. Bagian yang diberi hiasan indah justru dinding kamar makam dan pintu kamar makam.

Makam Sunan Drajat (Raden Syarifudin) terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kompleks makam yang terletak di atas bukit ini dikelilingi pagar tralis yang mempunyai 4 buah gapura dan pintu pada empat penjuru mata angin. Di tengah kompleks terdapat cungkup, di dalamnya terdapat bilik/kamar makam Sunan Drajat dan istrinya RA Condrosekar. Kamar makam terbuat dari kayu berukir indah hasil seni ukir Jepara. Jirat dan nisannya sederhana tanpa ukiran. Yang diberi pahatan ragam hias adalah dinding dan pintu kamar makamnya.

Makam Sunan Kalijaga (Raden Mas Said) terdapat di Desa Kadilangu, sebelah timur laut kota Demak, Jawa Tengah. Kompleks makam dikelilingi tembok dengan gapura berpintu. Bangunan cungkupnya sangat indah karena selalu dirawat dan diperbaiki oleh peziarah yang merasa berhasil. Atap bangunan berbentuk joglo, dan tiang-tiangnya dari kayu yang kuat. Pintu masuk diapit jendela-jendela kayu berukir, dinding cungkup juga diberi ukiran yang serupa.

Sunan Kudus (Ja’far Sodiq) dimakamkan di Desa Kauman Menara, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kompleks makamnya luas dan dikelilingi tembok dengan pintu gapura di keempat sisinya. Cungkup makamnya beratap tunggal berbentuk limasan. Di dalam cungkup ada kamar/bilik tempat makam Sunan Kudus. Di depan, belakang, kiri dan kanan bilik terdapat makam para kerabatnya. Lantai di dalam cungkup Sunan Kudus terbuat dari tegel keramik warna hijau kotak-kotak. Jirat dan nisannya berdasarkan perbandingan dengan jirat dan nisan kerabatnya kemungkinan berbentuk sederhana.

Sunan Muria (Raden Umar Said) dimakamkan di atas Gunung Muria, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Untuk mencapainya orang harus berjalan kaki naik tangga sejauh 750 m. Makam Sunan Muria dilindungi bangunan sederhana dari konstruksi kayu beratap joglo 2 susun, dengan atap sirap. Sebagian dinding cungkup ditembok. Di dalamnya terdapat makam kerabatnya seperti Dewi Soedjinah (istri) dan Dewi Rukayah (anak). Makam Sunan Muria sendiri ada di dalam kamar/bilik makam yang berpintu. Dinding kamar makam terbuat dari bata yang diplester dan berpintu satu. Jirat dan nisannya sederhana, pada nisannya ada tulisan Arab kutipan dari Al Quran. Gawang pintu kamar makam dan daun pintunya diberi pahatan dan ukiran indah dengan rgam hias Jepara.

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dimakamkan di taman Gunung Sembung, Desa Astana Gunung Jati, Kecamatan Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kompleks makamnya sangat luas dan dikelilingi dinding tembok yang mempunyai pintu gapura. Ada Pintu Mergu yaitu pintu serambi muka bagian barat tempat peziarah Cina. Ada pintu gapura Balemangu Pajajaran dan Balemangu Majapahit. Ada Pintu Krapyak dan Pintu Timur tempat peziarah umum masuk kompleks. Di dalam komplek terdapat cungkup yang panjang dan lebar makam kerabat Sunan. Makam Sunan ada di dalam kamar/bilik berpintu khusus. Pintu ini hanya bisa dibuka atas ijin Sultan Cirebon atau pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Qurban. Makam Sunan ditutupi kelambu sehingga sulit dilihat dan didokumentasi. Ukuran jirat 2 X 1 m, sedang nisannya setinggi 50 cm dengan lebar 20 cm. Nisan ini berukir. Cungkup makam Sunan Gunung Jati ini dibuat dengan konstruksi kayu, termasuk tiang-tiangnya sedang atapnya dari genting. Di kompleks ini ada pula bangunan masjid yang biasa disebut Masjid Sunan Gunung Jati.

Buku ini terasa lebih lengkap karena juga mengulas tentang masuknya Islam ke Indonesia, termasuk Pulau Jawa, cara-cara berdakwah wali sanga sehingga menarik masyarakat, serta corak dan jenis makam di luar Pulau Jawa misal di Aceh, Makasar, Lombok dan lain-lain. Makna nisan makam akhirnya bermuara pada kesimpulan bahwa nisan adalah tanda (Jawa: tetenger) atau peringatan, monumen dan sekaligus penampung pesan atau amanat dari yang sudah dikubur mau pun dari keluarganya (yang masih hidup).

Teks : Kusalamani




Artikel Lainnya :



Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa Yogyakarta