Super Seven, The First Indonesia Little BoyBand

Super Seven, The First Indonesia Little BoyBand

Dunia hiburan tidak selalu identik dengan hal-hal yang berkonotasi negatif apalagi jika dilakukan oleh anak-anak dimasa peralihan menuju usia “ABG”. Salah satunya adalah yang dilakukan bersama oleh Bryan Domani (11thn), Raza (13thn), Jose Christian (12thn), Bryant Santoso (12thn), Karel Susanto (13thn), M. Azzil (10thn) dan Bagas (13thn) yang tergabung dalam Boy band “ Super Seven”.

Mereka adalah anak-anak model iklan dan pesinetron yang sering bertemu dalam beberapa kesempatan syuting. Mama Jose (ibu dari Jose Christian) melihat kesamaan hobby diantara mereka yaitu menyanyi. Ia berpikir bahwa hobby itu bisa dikembangkan.

Mulanya diawali dengan 4 anak yaitu Raza, Jose, Bryant dan Azzil. Awalnya Bryant masih enggan ketika diajak bikin boy band karena menganggap Boy Band nggak ada bedanya dengan Alay.

Dari empat anak kemudian para mama mereka “mencari” tiga anak tambahan lagi untuk menjadikannya formasi 7 sesuai dengan nama yang diusulkan oleh salah satu dari orang tua anak itu, “Seven Up” yang kemudian akhirnya disepakati nama “Super Seven” sebagai nama grup mereka.

Super Seven, The First Indonesia Little BoyBand

Dalam “pencarian” didapatlah Bagas Dwi Rizky Hidayat, drummer cilik usia 13 tahun yang sudah belajar nge-drum sejak usia 7 tahun. Lalu Karel dan Bryan Domani, penyuka pete yang sudah bisa bikin lagu. Setelah terkumpul, mereka memulai latihan kekompakan gerak dahulu, karena vocal pada dasarnya mereka sudah punya dasar. Kemudian mereka mulai melatih vocal bersama membawakan lagu-lagu idola mereka, “SMASH”. Namun jiwa anak yang masih kuat dalam diri personil Super Seven ternyata memang tidak bisa dibohongi. Mereka mengaku merasa tidak pas dengan lagu-lagu dewasa atau yang berbau cinta-cintaan.

Perjalanan mereka kelihatannya cukup mulus, dalam waktu hanya 6 bulan sejak mereka terbentuk pada 20 Maret 2012, mereka sudah berhasil mendapatkan kontrak dari sebuah perusahaan label pada 8 Agustus 2011 jam delapan. Kalau menurut hitung-hitungan, angka delapan adalah angka keberuntungan, apalagi ini ada triple delapan. Semoga saja angka ini bisa jadi kesuksesan bagi “Super Seven” dalam mengembalikan anak-anak Indonesia kedunianya sendiri dengan budayanya sendiri yang nggak neko-neko atau aneh-aneh. Mereka lebih suka tampil tanpa mewarnai rambut dan berdandan tanpa pakaian aneh-aneh seperti boy band Korea pada umumnya. Jika ditanya, mengapa mereka tidak berdandan seperi boyband Korea dengan berani mereka berkata, “ogah, kita khan boyband, bukan bencong.”

Perjalanan mereka sebagai little boyband yang pertama di Indonesia sepertinya bisa menjadi bagian dari sejarah perjalanan musik Indonesia, khususnya jika ditilik dari tema lagu-lagu mereka. Walau mereka sudah “ABG” tapi mereka memilih untuk membawakan lagu yang syairnya berbicara tentang dunia mereka atau dunia yang dekat dengan mereka. Buka lagu asmara yang bagi mereka belum pantas mereka bawakan. “Super Seven” ingin mengembalikan anak-anak Indonesia untuk “kembali” menjadi anak-anak seperti lagu anak masa lalu karya Ibu Soed dan A.T Machmud yang berbicara tentang kelestarian lingkungan, keriangan, nilai persahabatan, tentang budi pekerti rajin menabung dan lain-lain. Rasanya untuk saat ini “Super Seven” lebih tepat disebut sebagai little BoyBand. Selain karena usia, juga karena lagunya-lagunya. Entah nanti ketika semua beranjak dewasa. Yang pasti, sampai kapanpun, anak-anak harusnya menyanyikan lagu dunianya. Dunia anak, seperti yang dibawakan Super Seven di masa ini.

Super Seven, The First Indonesia Little BoyBand

Temen nan yuk ..!

ypkris


Bale Inap Bale Dokumentasi Bale Karya Bale Rupa