Negeri Belanda Raup Keuntungan Besar dari Sistem Tanam Paksa

28 Jun 2015 Jan Breman (penulis buku) membuka salah satu lembaran hitam pemerintah Kolonial Belanda ini secara panjang lebar. Dalam buku ini dipaparkan bagaimana  bangsawan pribumi setempat dimanfaatkan untuk kepentingan Belanda, serta peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan masyarakat.

Judul                       : Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa. Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720 – 1870
Penulis                   : Jan Breman
Penerbit                  : Yayasan Pustaka Obor, 2014, Jakarta
Bahasa                   : Indonesia
Jumlah halaman  : xiv + 400

Sistem tanam paksa di Jawa telah mendorong secara kuat pembudidayaan tanaman dagang untuk keperluan pasar dunia antara tahun 1830 – 1870.  Sistem tanam paksa ini telah banyak membawa perubahan dalam masyarakat. Pemerintah Belanda adalah pihak yang sangat diuntungkan dengan tanam paksa ini.

Antara tahun 1831 sampai 1866 jumlah seluruh kiriman dari pemerintah Hindia ke Negeri Belanda per tahun hampir mencapai 500 juta gulden. Dari kiriman tersebut Belanda menggunakannya untuk melunasi utang negara. Di samping itu juga untuk membiayai pekerjaan infrastruktur berskala besar seperti pembangunan jalan kereta api.

Bila pemerintah Belanda sangat diuntungkan dengan adanya kerja paksa, sebaliknya dengan masyarakat negara jajahan. Masyarakat (terutama petani) justru semakin menderita. Salah satunya adalah masyarakat di daerah Priangan, Jawa Barat.

Pemerintah kolonial Belanda menuntut petani di wilayah Priangan untuk menanam tanaman tertentu, yang makin lama makin mengarah ke kopi. Masih ditambah lagi dengan kewajiban menyetorkan biji kopi ke gudang Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dengan bayaran yang ditentukan oleh VOC. Akibat monopoli dagang ini petani otomatis tidak memiliki daya tawar. Selain itu kewajiban kerja paksa juga mengurangi waktu untuk mengerjakan tanaman pangan (misal padi), sehingga lahan menjadi telantar dan produksi pangan berkurang.

Jan Breman (penulis buku) membuka salah satu lembaran hitam pemerintah Kolonial Belanda ini secara panjang lebar. Dalam buku ini dipaparkan bagaimana  bangsawan pribumi setempat dimanfaatkan untuk kepentingan Belanda, serta peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan masyarakat, reaksi dari masyarakat dan lain-lain. Agar peraturan yang ditetapkan dapat berjalan, pemerintah Kolonial Belanda tidak segan-segan menjatuhkan hukuman berat bagi yang melanggar.

M. Kusalamani

EDUKASI

Baca Juga

Artikel Terbaru

  • 02-07-15

    Pasar Seni Yogyakart

    Kangjeng Pangeran Aria Adipati Danureja, sang Patih Raja Yogyakarta, yang mempunyai gagasan mendirikan pusat kerajinan itu. Berita tersebut bisa... more »
  • 02-07-15

    Kursus MC Jawa Tembi

    Sejak tahun 2000 Tembi Rumah Budaya membuka kursus pranatacara (MC) pamedhar sabda (pidato) bahasa Jawa, khususnya untuk upacara perkawinan. Kursus... more »
  • 29-06-15

    Go Green di Tembi Ru

    Pameran karya C Roadyn Choerodin yang berlangsung dari 12 Juni sampai 12 Juli 2015 ini menghadirkan tajuk ‘The Circle’. Karya yang berjudul ‘Go Green... more »
  • 29-06-15

    Lukisan karya murid-

    Dinamakan Gunung Pasar karena menurut sumber setempat di atas puncak gunung ini selalu bergema suara ramai orang seperti di tengah pasar. Suara itu... more »
  • 29-06-15

    Kaligrafi dan Lukisa

    Ketika masuk ke dalam Benteng Museum Heritage, suasana budaya China sangat kental terasa. Pengunjung pun langsung disuguhi karya-karya Edy Widiyanta... more »
  • 29-06-15

    Kajian Menarik tenta

    Serat Angger tersebut memuat tentang hukum material yang terkait hak dan kewajiban subyek hukum. Serat Angger Pradata Awal dan Pradata Akir juga... more »
  • 29-06-15

    Cetakan Roti Tradisi

    Kondisi cetakan roti tradisional koleksi  Museum Tembi masih bagus. Jumlahnya ada 6 buah. Koleksi ini sejak tahun 1999, berasal dari Bapak P... more »
  • 29-06-15

    Upacara Baritan, Ung

    Melalui ternak-ternak mereka, Tuhan telah melimpahkan rezeki bagi warga Desa Pendoworejo. Oleh karenanya warga empat dusun itu sepakat untuk... more »
  • 28-06-15

    Menjelajah ke Museum

    Replika Masjid Agung Demak juga terdapat di museum ini. Replika masjid juga terbuat dari kayu jati, setinggi sekitar 1 meter. Replika Masjid Agung... more »
  • 28-06-15

    Negeri Belanda Raup

    Jan Breman (penulis buku) membuka salah satu lembaran hitam pemerintah Kolonial Belanda ini secara panjang lebar. Dalam buku ini dipaparkan bagaimana... more »