Buku Baru dari Sang Pakar Sastra Jawa Kuna

20 Apr 2016 Seribu hari wafat Kuntara Widyamartana sudah diperingati dengan misa Sabtu, 2 April 2016 lalu di rumahnya, Delanggu. Tapi sebagai seorang ahli Sastra Jawa Kuna peringatan lain dilakukan dalam bentuk launching buku yang memuat karya-karya Kuntara, Jumat siang, 15 April 2016 di ruang Seminar Univesitas Sanata Dharma, Jl. Affandi, Yogyakarta. Buku diberi judul ‘Sraddha-Jalan Mulia Dunia Sunyi Jawa Kuna’, editor buku adalah G Budi Subanar.

Kuntara Wiryamartana, yang akrab dipanggil Romo Kun, bukan sosok  asing bagi Tembi, karena pada awal membentuk Tembi,  untuk mengganti nama dari lembaga sebelumnya, yakni Lembaga Studi Jawa, Romo Kuntara hadir dalam diskusi bersama dengan beberapa orang lain, diantaranya Prof Dr PM Laksono, Prof Dr Suminto A Sayuti, P Swantoro, Nuranto. Bahkan Romo Kun yang mengusulkan nama Tembi untuk mengganti nama Lembaga Studi Jawa.

Romo Kun juga menulis geguritan dan puisi. Sejumlah geguritannya, yang ditulis tahun 1969-1979 dimuat dalam buku ini bersama dengan sejumlah tulisan lain Romo Kun untuk kepentingan seminar. Geguritan karya Romo Kun sangat sederhana, tetapi memiliki pesan yang dalam.

Kuntara berulang kali datang ke Tembi, selain sekadar main  menengok Tembi, juga menjadi narasumber dalam proses pembuatan buku sajen, dan Romo Kun menjelaskan pernik-pernik sajen yang dikenal oleh masyarakat Jawa. Selain itu, Romo Kun pernah tampil dalam satu acara yang diberi tajuk ‘Ruwatan Jaman’ dan Romo Kun tampil dengan wayang Petruk yang menjadi identitas dari Romo Kuntara.

Pendek kata, Romo Kun bersahabat akrab dengan Tembi, lebih-lebih dengan pendirinya P.Swantoro. Hampir setiap kali bertemu, dia selalu bertanya: ‘Lagi Nggarap apa Tembi sekarang?”.

Kali terakhir Romo Kun datang ke Tembi dalam kondisi kesehatan yang tidak lagi prima, pada tanggal 21 Januari 2012, ketika Tembi menyelenggarakan satu acara yang diberi tajuk ‘Malam Sastra Tembi Bersama Darmanto Yatman”, yang sedang terkena stroke dengan membacakan karya-karya Darmanto, yang dibacakan oleh Butet Kertaredjasa, Landung Simatupang, Gentong Hariono, Whani Dharmawan, Naomi Srikandi dan Gunawan Maryanto.

Dalam acara ‘Malam Sastra Tembi Bersama Darmanto Yatman’ ini Romo Kun datang, karena memang antara keduanya bersahabat sejak lama. Acara ini sekaligus momentum bertemu  antara Romo Kun dengan Darmanto dan dengan teman-teman lain seangkatan Darmanto seperti Bakdi Sumanto dan lainnya.

Lagi-lagi, Romo Kun tak lepas dari kelakar, dan setiap kali bertemu di Tembi dia selalu berkelakar.

“Aku kapan dibuatkan acara seperti mas Darmanto, apa menunggu kalau saya sudah lempoh (lumpuh)?” Kelakar Romo Kun.

Romo Kuntara memag sudah tiada. Untuk memenuhi kelakarnya, pada peringatan 40 hari Romo Kuntara, Tembi Rumah Budaya menyelenggarakan satu acara dalam bentuk membacakan karya dia yang berjudul ‘Arjunawiwaha’ dengan menampilkan Landung     Simatupang. Selain itu beberapa puisi karyanya dibacakan oleh beberapa alumni Fakultas Ilmu Budaya UGM dimana Romo Kun pernah mengajar.

Buku Romo Kun, ‘Arjunawiwaha’  dan buku yang baru terbit ‘Sraddha-Jalan Mulia Dunia Sunyi Jawa Kuna’ kiranya adalah upaya untuk tidak melupakan Romo Kuntara Wiryamartana.

Ons Untoro

Kuntara Wiryamartana seorang ahli Sastra Jawa Kuna, foto: dok Tembi Kuntara Wiryamartana dan Darmanto Yatman di Tembi Rumah Budaya dalam acara ‘Malam Sastra Tembi Bersama Darmanto Yatman, foto: dok Tembi Buku Sraddha-Jalan Mulia Dunia Sunyi Jawa Kuna karya Kuntara Wiryamarta, foto dok Tembi Berita BUDAYA

Baca Juga

Artikel Terbaru

  • 23-04-16

    Rabu Paing Tidak Bai

    Pranatamangsa masuk mangsa kasebelas atau disebut Desta. Mangsa Desta ini umurnya 23 hari, mulai 19 April s/d 11 Mei. Musim panen padi dan umbi-... more »
  • 23-04-16

    Supaya Dusun Ayem Te

    Merti dapat diartikan menjaga, memelihara, serta membersihkan sebuah wilayah dalam hal ini adalah desa ataupun dusun. Dikarenakan wilayah dusun maka... more »
  • 23-04-16

    Karangan, Makanan Kh

    Karangan adalah kuliner lokal yang mungkin hanya bisa ditemukan di Pasar Turi, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul dan Pasar Ngangkruksari, Parangtritis... more »
  • 22-04-16

    Nyanyian Angsa Versi

    Puisi karya WS Rendra “Nyanyian Angsa” secara menarik dipentaskan dalam bentuk pengadeganan versi teater modern oleh Komunitas Sekar Setaman di... more »
  • 22-04-16

    Denmas Bekel 22 Apri

    Denmas Bekel 22 April 2016 more »
  • 21-04-16

    Menyerap Kembali Sem

    Ada yang berbeda pada pendidikan di zaman RA Kartini dulu dengan zaman sekarang. Dulu, motivasi Kartini mendidik kaumnya di sekitaran tempat... more »
  • 21-04-16

    Puisi, Musik dan Dra

    Sastra Bulan Purnama, yang sering disingkat SBP edisi ke-55, yang diberi tajuk ‘Perempuan dan Puisi’ kali ini bertepatan dengan Peringatan Hari... more »
  • 20-04-16

    Perjalanan Politik S

    Judul             : Tonggak-tonggak di Perjalananku Penulis     ... more »
  • 20-04-16

    Buku Baru dari Sang

    Seribu hari wafat Kuntara Widyamartana sudah diperingati dengan misa Sabtu, 2 April 2016 lalu di rumahnya, Delanggu. Tapi sebagai seorang ahli Sastra... more »
  • 19-04-16

    Berita Pasar Besar M

    Pada masa penjajahan Belanda, pemerintah kolonial juga memperhatikan perkembangan pasar, termasuk yang ada di kota Medan, Sumatera Utara. Ketika itu... more »